Memaklumi dan Memahami Dunia Anak Kecil

0
119 views

Kiblatmuslimah.com – Anak-anak dan dunianya memiliki keistimewaan tersendiri. Sungguh ringkas dan jelas sebuah pedoman yang digariskan oleh ibunda orang-orang beriman, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau radhiyallahu ‘anha mengatakan,

فَاقْدِرُوا قَدْرَ الْجَارِيَةِ

“Maklumi dunia (kebutuhan) anak kecil.” (HR. Bukhari no. 5190, 5236 dan Muslim no. 892).

Kalimat yang ringkas dan jelas ini menjelaskan kepada kita bahwa anak kecil itu memiliki kekhususan tertentu. Dia memiliki ‘dunia’ sendiri, sudah mulai memahami sesuatu dan harus diberikan perhatian khusus. Hal ini tentu memiliki perbedaan dengan orang yang sudah dewasa. Oleh sebab itu, anak kecil perlu diberikan perhatian khusus dan perlu didudukkan sesuai tempatnya.

Sehingga anak-anak tidak layak diperlakukan serius, tegang, kaku pada setiap waktu, tidak boleh diberikan beban di luar batas kemampuannya, tidak boleh dicegah dari haknya yang masih suka bermain, hiburan dan senang-senang. Namun di sisi lain, orang tua juga tidak boleh membiarkan anak-anaknya hanya bermain di semua waktunya. Ringkasnya mungkin boleh dikatakan, “Maklumi (hargai) kebutuhan anak-anak.”

Berikut ini beberapa contoh teladan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memaklumi dunia anak kecil, memberikan haknya berupa bermain dan bersenang-senang.

Dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, “Orang Habasyah (orang Afrika berkulit hitam, pen.) masuk masjid dan bermain-main. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku,

يَا حُمَيْرَاءُ أَتُحِبِّينَ أَنْ تَنْظُرِي إِلَيْهِمْ

‘Wahai Humaira’ (wanita yang berkulit putih, pen.), apakah Engkau ingin untuk melihat mereka (bermain-main)?’

Aku menjawab, ‘Iya.’

Rasulullah kemudian berdiri di pintu, lalu aku letakkan daguku di atas pundak beliau dan aku tempelkan wajahku di pipi beliau. Aku (‘Aisyah) berkata, ‘Dan di antara ucapan (senandung) yang mereka (orang Habasyah) katakan adalah “Abul Qasim thayyiban (Abul Qasim yang baik).”’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

حَسْبُكِ

‘Apakah sudah cukup?’

Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan tergesa-gesa.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata lagi,

حَسْبُكِ

‘Apakah sudah cukup?’

Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan tergesa-gesa.’

Aku (‘Aisyah) berkata,

وَمَا لِي حُبُّ النَّظَرِ إِلَيْهِمْ، وَلَكِنِّي أَحْبَبْتُ أَنْ يَبْلُغَ النِّسَاءَ مَقَامُهُ لِي وَمَكَانِي مِنْهُ

‘Sebetulnya aku tidak ingin melihat mereka. Akan tetapi, aku ingin agar sampai berita kepada istri-istri Nabi yang lain tentang kedudukan (perhatian) Nabi kepadaku dan kedudukanku di hati Nabi.’” (HR. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8902) [1]

Dari hadits ini kita bisa melihat bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian dan meluangkan waktunya untuk ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang ketika itu tentu masih belia. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, usia ibunda ‘Aisyah baru 18 tahun, sehingga ibunda ‘Aisyah masih suka melihat hiburan atau tontonan.

Dalam riwayat lain ‘Aisyah menceritakan,

لَعِبَتِ الْحَبَشَةَ فَجِئْتُ مِنْ وَرَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَعَلَ يُطَأْطِئُ ظَهْرَهُ حَتَّى أَنْظُرَ

“Sejumlah orang Habasyah bermain-main dan aku mendatangi dari arah belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi menundukkan punggungnya sehingga aku bisa melihat.” (HR. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8906) [2]

Dalam kisah yang lain dengan sanad yang shahih, ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Aku keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebagian safar beliau. Ketika itu aku masih kecil dan belum gemuk. Rasulullah berkata kepada para sahabat,

تَقَدَّمُوا

‘Kalian jalanlah duluan.’ Sehingga para sahabat pun jalan mendahului Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi berkata kepadaku,

تَعَالَيْ حَتَّى أُسَابِقَكِ

‘Ayo kita berlomba lari.’

Aku pun melayani ajakan beliau dan aku menang. Beliau pun diam tentangku sampai ketika aku sudah gemuk dan lupa kejadian tersebut, aku pun keluar menemani Nabi dalam sebagian safar beliau. Beliau berkata kepada para sahabatnya,

تَقَدَّمُوا

‘Kalian jalanlah duluan.’

Sehingga para sahabat pun berjalan mendahului Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi berkata kepadaku,

تَعَالَيْ أُسَابِقُكِ

‘Ayo kita berlomba lari.’

Aku pun melayani ajakan beliau dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menang. Mulailah beliau tertawa dan berkata,

هَذِهِ بِتِلْكَ

‘Ini adalah balasan atas lomba yang dulu.’ (HR. Ahmad dalam Al-Musnad 6/264 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8894).

Dalam hadits ini pun kita bisa melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha membangun keakraban, bercanda dengan istrinya dengan membuat acara main-main dan mengadakan lomba lari.

Demikian pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain-main dengan anak kecil lainnya. Dari Mahmud bin Rabi’ radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

عَقَلْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ

“Aku masih ingat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa semburan air yang beliau semburkan ke wajahku. Ketika itu aku baru berusia lima tahun dan beliau mengambil air dari ember.” (HR. Bukhari no. 77)

Tentu saja pada zaman itu belum ada pistol air, sehingga beliau menyemprotkan air tersebut ke wajah Mahmud bin Rabi’ dengan menggunakan mulut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikianlah beberapa contoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memaklumi dunia anak kecil yang masih butuh bermain, hiburan, dan bercanda. Sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyempatkan waktu untuk bermain-main dengan mereka. Lihatlah, di tengah-tengah kesibukan beliau sebagai seorang da’i, kepala negara dan lainnya, beliau masih menyempatkan waktu untuk bermain-main dengan anak kecil.

 

Sumber:

Parenting Islami (32): Memaklumi dan Memahami Dunia Anak Kecil

Previous articleKado untuk Kakak
Next articleAkhwat Karir
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here