Mau Berbagi

0
102 views

Kiblatmuslimah.com – Menjadi pemandangan yang biasa ketika kita sebagai orang tua melihat anak-anak saling berebut, entah mainan atau makanan. Memang benar bahwa dalam tumbuh kembang setiap anak akan melalui masa egosentris, yaitu rasa ingin memiliki dan menguasai.

Akan tetapi, apakah masa ini kita biarkan begitu saja dengan ‘pemakluman’ sehingga membentuk sebuah karakter? Masa inilah yang harus kita waspadai, karena jika salah dalam menyikapi, tentu saja akan berefek bagi psikologi mereka untuk masa yang akan datang. Pengawasan dan pembimbingan harus dilakukan orang tua. Supaya karakter yang terbentuk nanti adalah yang sesuai dengan tuntunan dalam Islam.

Islam mengajarkan sifat itsar (ألإيثارا) yaitu  mendahulukan atau melebihkan orang lain atas dirinya sendiri.

Dari Abdullah bin Mush’ab az-Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit, keduanya menceritakan, “Telah syahid pada perang Yarmuk, Al Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr. Mereka ketika itu akan diberi minum, sedangkan mereka dalam keadaan kritis, namun semuanya saling menoleh. Ketika salah satu dari mereka akan diberi minum, dia berkata, “Berikan dahulu kepada si fulan,” demikian seterusnya sehingga semuanya meninggal dan belum sempat meminum air itu.” (HR. Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat dan Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid, namun Ibnu Sa’ad menyebutkan Iyas bin Rabi’ah sebagai ganti Suhail bin Amr)

lnilah karakter yang harus dibangun. Bukan akan berkembang dengan sendirinya, namun  memang harus diupayakan. Saat anak usia di bawah 11 tahun, konsep adil yang mereka  pahami adalah sama rata dan rasa. Kita belum bisa memaksa mereka untuk memahami makna adil adalah sesuai haknya. Untuk menumbuhkan sifat itsar ini, ada beberapa hal yang dapat kita terapkan terhadap anak, yaitu:

  1. Biasakan membagi segala sesuatu sama rata. Misalnya seiris kue lapis, tetap dipotong menjadi 6 jika anak-anak kita ada 6 orang. Walaupun masing-masing hanya mendapatkan seukuran volume 1x1x5 cm.

Kita hendak menanamkan konsep berbagi, bukan hendak mengenyangkan atau memuaskan mereka. Jika ada anak yang rewel ingin lebih, hindari kata-kata, “Nanti kita bisa beli lagi” karena akan menanamkan pemahaman pada anak bahwa dengan uang bisa memperoleh segala yang diinginkan. Tetapi ucapkan, “Kalau kita dapat rezeki lagi, nanti dibagi-bagi lagi”.

Thawus berkata, “Ketidakadilan itu tidak dibenarkan sekalipun dalam membeli sepotong roti.” (Syaikh An Nabulisi, Tahqiq al-Qodhiyah baina ar-Risywah wa al-Hadiyyah, h. 217).

  1. Anak-anak yang berebut mainan, bisa kita gunakan cara bergilir. Misalnya mainan ayunan, kita menggilir mereka dengan masing-masing mendapat 10 kali ayun. Selain melatih bersabar (antri), juga mengajarkan berhitung. Untuk mainan yang lain bisa kita beri waktu masing-masing 3 menit, misalnya.
  2. Deskripsikan kepada mereka bahwa Allah sayang kepada anak yang mau berbagi dengan pahala dan barakah. Juga surga dengan berbagai kenikmatan yang jauh lebih besar. Hal ini akan menanamkan kepada mereka kecintaan untuk mengejar akhirat dan menghindarkan dari penyakit wahn.
  3. Sisipi cerita kisah shahabat, tabiin, atau tabiut tabiin tentang keitsaran mereka terhadap saudaranya seiman.

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan beriman (anshar) sebelum (kedatangan) mereka (muhajirin). (Para Anshar) mencintai (muhajirin), tiada menaruh keinginan dalam hati terhadap apa-apa yang diberikan kepada (muhajirin) dan mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

  1. Yang terpenting adalah memberikan keteladan kepada anak dari diri kita (orang tua) tentang konsep berbagi. Anak akan melihat bahwa sifat berbagi telah menjadi karakter pada kedua orang tuanya. Ini akan memudahkan kita memberi pemahaman kepada mereka. Mudah bersedekah menjadikan pagar mangkuk di sekeliling rumah kita (artinya, selalu memberikan makanan atau yang telah kita masak untuk tetangga). Sebagaimana yang dipesankan oleh Rasulullah.

Upaya-upaya di atas akan membentuk sifat-sifat yang mulia pada anak. Mereka akan memiliki banyak teman dan kelak menjadi pemimpin-pemimpin yang antimaterialistis, antikorupsi dan antidiktator. Insya Allah.

 

Penulis: Yasmin al Asyfaqo-

16082018

Editor: UmmA

Previous articleTumbal Liberalisme
Next articleCincangan Terakhir
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here