Maryam: Ketakwaan yang Mengagumkan

0
211 views

Kiblatmuslimah.com – Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa Maryam adalah putri Imran, keturunan Daud ‘alaihissalam. Maryam berasal dari keluarga yang bersih dan shalih di kalangan Bani Israil. Sejak dalam kandungan, Ibunya Hannah bernadzar bila anaknya lahir kelak menjadi hamba Allah yang shalih dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Lahirlah Maryam, kemudian Maryam berada di bawah jaminan pengasuhan pamannya, yakni Nabi Zakaria ‘alaihissalam.

 

Maryam sangat terjaga dan tinggal di dalam mihrabnya. Maryam menjadi wanita ahli ibadah dan sangat taat kepada Rabbnya. Zakaria menyaksikan keutamaan yang dilimpahkan Allah untuk Maryam. Salah satunya adalah Zakaria menjumpai di sisi Maryam buah-buahan musim dingin di saat sedang musim panas dan buah-buahan musin panas di saat sedang musin dingin. Bayangkan saja pada zaman Maryam dahulu kan belum ada kulkas yang bisa menyimpan buah-buahan hingga musim berlalu, juga belum ditemukan pengawet lilin pada buah.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاتَّخَذَتۡ مِنۡ دُوۡنِہِمۡ حِجَابًا ۪۟ فَاَرۡسَلۡنَاۤ اِلَیۡہَا رُوۡحَنَا فَتَمَثَّلَ لَہَا بَشَرًا سَوِیًّا

 

“Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.”

(QS. Maryam [19]: 17)

 

Kemudian Allah mengutus malaikat Jibril kepadanya dalam bentuk seorang laki-laki yang rupawan untuk memberitahukan kepada Maryam bahwa beliau akan melahirkan seorang putra tanpa ayah. Adapun hikmah kedatangan Jibril dalam bentuk manusia supaya tidak menimbulkan ketakutan. Akan tetapi Maryam tetap saja ketakutan, sebab tidak pernah ada laki-laki yang masuk ke dalam mihrabnya kecuali pamannya yakni Nabi Zakaria ‘alaihissalam.

 

Maryam tidak mengetahui bahwa sebenarnya seorang laki-laki dengan ketampanan sempurna yang berdiri di hadapannya adalah malaikat Jibril, utusan Rabbnya. Maryam menduga laki-laki itu hendak melakukan perbuatan jahat terhadapnya. Maka seketika Maryam mengatakan sebagaimana diabadikan dalam surah Maryam ayat 18:

قَالَتۡ اِنِّیۡۤ اَعُوۡذُ بِالرَّحۡمٰنِ مِنۡکَ اِنۡ کُنۡتَ تَقِیًّا

 

Dia (Maryam) berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”

 

Maryam meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejahatan yang mungkin timbul, dengan mengucapkan, “Sesungguhnya aku berlindung kepada Ar-Rahman daripadamu; jangan sekali-kali kamu mengganggu aku jika kamu bertakwa kepada-Nya”.

 

Maryam mengatakan: اِنۡ کُنۡتَ تَقِیًّا “Jika kamu seorang yang bertakwa” adalah bermaksud mengingatkan lelaki tersebut akan Allah dan hukuman/adzab-Nya, sebab setiap orang yang bertakwa itu selalu menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.

 

Dijelaskan oleh Imam Abul Fida Isma’il ibnu Katsir, hal inilah yang dianjurkan oleh syariat dalam membela diri, yakni dengan menggunakan peringatan yang paling ringan terlebih dahulu, kemudian baru dengan cara lainnya secara bertahap. Langkah pertama yang dilakukan oleh Maryam ialah memperingatkan orang itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan adzab Allah jika orang tersebut bermaksud jahat.

 

Dari kisah Maryam inilah, Ibnu Jarir menyimpulkan sebuah hikmah bahwa orang yang bertakwa itu memiliki ‘self control’ dalam dirinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah.

 

Malaikat Jibril menjawab, supaya melenyapkan rasa curiga dan takut Maryam terhadap dirinya yang menduga bahwa ia hendak berbuat jahat, “Keadaanku tidaklah seperti yang kamu duga. Sesungguhnya aku ini hanyalah utusan Tuhanmu. Allah yang mengutusku kepadamu.”

 

Menurut suatu riwayat, saat Maryam mengingatkan Jibril kepada Ar-Rahman, maka malaikat Jibril gemetar karena takut dan kembali menjadi wujud aslinya.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالَ اِنَّمَاۤ اَنَا رَسُوۡلُ رَبِّکِ ٭ۖ لِاَہَبَ لَکِ غُلٰمًا زَکِیًّا

 

Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.”

 

Anak laki-laki suci yang dimaksud adalah Isa ‘alaihissalam yang kelak dilahirkan oleh Maryam atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai salah satu tanda bagi manusia tentang kekuasaan Pencipta yang meragamkan proses penciptaan makhluk-Nya.

 

  • ••

 

Perhatikan respon Maryam saat Malaikat Jibril menjumpainya dalam bentuk manusia sempurna yang rupawan. Lalu bandingkan dengan kisah segolongan wanita kota di Mesir yang diundang jamuan makan oleh istri Al-Aziz, seorang pembesar Mesir, untuk mempertemukan mereka dengan Yusuf ‘alaihissalam.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَـًٔا وَءَاتَتْ كُلَّ وَٰحِدَةٍ مِّنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ ٱخْرُجْ عَلَيْهِنَّ ۖ فَلَمَّا رَأَيْنَهُۥٓ أَكْبَرْنَهُۥ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَٰشَ لِلَّهِ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنْ هَٰذَآ إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ

 

Maka ketika perempuan itu mendengar cercaan mereka, diundangnya perempuan-perempuan itu dan disediakannya tempat duduk bagi mereka, dan kepada masing-masing mereka diberikan sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf), “Keluarlah (tampakkanlah dirimu) kepada mereka.” Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya, mereka terpesona kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka (tanpa sadar) melukai tangannya sendiri. Seraya berkata, “Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia. Ini benar-benar malaikat yang mulia.” (QS. Yusuf [12]: 31)

 

Para wanita kota Mesir itu terpesona dengan ketampanan Yusuf, hingga tanpa sadar melukai tangan mereka sendiri dengan pisau jamuan yang dipegangnya. Mereka menganggap ketampanan Yusuf laksana malaikat, nyaris sempurna.

 

Maryam yang benar-benar berhadapan dengan malaikat, justru tidak bergeming, tidak terpesona sedikit pun. Bahkan memperingatkan sang malaikat kepada Ar-Rahman dengan sifat ketakwaannya. Seketika Jibril pun bergetar sebab diperingatkan kepada Ar-Rahman.

 

Apa yang membedakan antara Maryam dengan para wanita kota di Mesir itu? Kenapa reaksi keduanya bisa sangat berbeda? Yang membedakan ialah takwanya. Maryam seorang wanita ahli ibadah, taat kepada Rabbnya, tentu sangat berhati-hati dalam melangkah dan tidak mudah terperdaya oleh keindahan dunia.

 

  • ••

 

Sekarang, kita ditakdirkan sebagai muslimah yang hidup di akhir zaman dengan fitnah dan ragam godaan dunia yang makin canggih.

 

Seandainya seorang muslimah berada di dalam biliknya yang terkunci rapat sekalipun, akses terhadap dunia luar tetap dapat berada dalam genggamannya. Komunikasi dan pertemanan tetap bisa terjalin walau jarak ribuan mil memisahkan, bahkan tetap dapat bertatap muka. Apalagi para pemudi yang suka jalan dan belanja di pusat-pusat pertokoan atau “mall”. Subhanallah. Tapi bagaimanapun inilah realitas akhir zaman yang harus diwaspadai!

 

Mana yang kita pilih sebagai teladan, sikap Maryam yang pandai menjaga iffah atau sikap mudah terpesona dengan gemerlap dunia seperti karakter para wanita kota di Mesir yang suka bergosip?

 

Maryam dipuji oleh Rabbnya sebagai perempuan yang menjaga kehormatannya di dalam Al-Qur’an surah Al-Hadid ayat 12. Selayaknya kita meneladani Maryam tentang cara menjaga kehormatan dan kesucian diri, yakni dengan cara berhati-hati membawa diri dalam pergaulan manusia. Pada zaman ini, sangat sulit menentukan batasan pergaulan kecuali bagi orang-orang yang bertakwa. Sebab orang-orang yang bertakwa mampu memahami batasan yang diperintahkan dan dilarang oleh Rabbnya.

 

Muslimah, jadilah seperti Maryam yang pandai menjaga kehormatan dirinya. Kenakanlah pakaian takwa dimana saja dan berani mengingatkan orang lain namun dengan cara/akhlak yang baik.

 

Sebagaimana wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

 

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya; dan bergaullah bersama manusia dengan akhlak yang baik.” [HR. Tirmidzi]

 

Wallahu a’lam.

Penulis: #WomenofJannah [AD • 03.03.1440]

Penyunting: UmmA

Previous articleIslam itu Mudah
Next articleMelazimi Istiqamah
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here