Manajemen Waktu

0
160 views

Kiblatmuslimah.com – Allah melimpahkan begitu banyak nikmat dalam kehidupan. Nikmat yang paling pokok adalah keimanan yang terpatri dalam sanubari. Kemudian nikmat kesehatan dan waktu luang serta ilmu pengetahuan.

Nikmat yang tak kalah agung yang Allah berikan adalah waktu. Dengannya semua amal ibadah dapat terlaksana. Waktu juga merupakan karunia yang amat besar. Hingga Allah bersumpah beberapa kali dalam al-Quran tentang waktu.

Allah berfirman dalam surat Al-Ashr,

Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (QS. Al-Ashr: 1-2)

Waktu merupakan perkara yang urgen, namun sayang banyak di antara manusia yang tidak mampu mensyukurinya, bahkan menganggapnya angin lalu. Padahal, waktu merupakan pangkal dari segala kebaikan. Barang siapa yang menyia-nyiakannya maka ia akan luput darinya.

Potret paling layak dicontoh akan kehati-hatian dalam menjaga waktu adalah para ulama. Bagi mereka, waktu adalah usia kehidupan. Mereka dapat mengambil atau memberi manfaat pada orang lain. Mereka tidak ingin ada sedetik saja waktu berlalu tanpa amal shalih dalam kehidupan.

Ibnu Mas`ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ نَدَمِي عَلَى يَوْمٍ غَرَبَتْ شَمْسُهُ، نَقَصَ فِيْهِ أجَلِي، وَلَمْ يَزِد فِيْهِ عَمَلِي

Tidak ada yang lebih aku sesali, kecuali bila matahari telah terbenam maka berkurang umurku, namun tidak bertambah sedikitpun amalanku.”

Ulama salaf dan orang-orang yang meniti jalan mereka adalah yang paling antusias dan gigih dalam memanfaatkan waktu. Jangankan meluangkan waktu untuk sekedar bersenda gurau, sekadar makan pun banyak di kalangan ulama melakukannya ketika butuh, bukan karena kebiasaan.

Seorang ulama bernama Ibnu Aqil, lahir 432 H dan wafat 513 H, berkata,

“Sebisa mungkin, saya berusaha meringkas waktu makan. Sehingga saya lebih memilih memakan roti basah daripada roti kering. Karena ada selisih waktu yang membedakan keduanya saat dikunyah. Yakni agar waktu belajarku lebih optimal dan dapat mengejar pelajaran lain yang belum saya mengerti. Karena sesuatu yang paling berharga bagi orang yang berakal adalah waktu. Waktu adalah harta karun yang dapat digunakan untuk menggapai peluang. Karena beban kita banyak sedangkan waktu selalu bergerak cepat.”

Sungguh hebat manajemen waktu para ulama terdahulu. Sejarah mencatat mereka mampu menulis tiga buah buku dalam satu hari. Hingga menghasilkan karya tulis yang begitu melimpah. Namun sayang banyak di antara karya tulis itu yang hilang. Lantaran para penuntut ilmu yang datang setelah mereka kurang menghargai waktu.

Oleh karenanya jadikanlah pertanyaan, “Apa yang telah aku perbuat dalam tiap detik kehidupanku?” sebagai pelecut semangat. Agar senantiasa ingat bahwa waktu adalah penentu akhir hidup seseorang. Para penyair mengibaratkan ia bak pedang. Apabila engkau tidak memotongnya maka ia yang akan memotongmu.

Semoga kita mampu menjadi hamba-Nya yang senantiasa disibukkan akan kebaikan di setiap waktu. Jika engkau tidak disibukkan oleh kebaikan maka akan disibukkan oleh kebatilan.

Penulis: Hannabillah

Editor: UmmA

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here