Mahalnya Hidayah, Beratnya Istiqamah

0
2499 views

Kiblatmuslimah.com – Bersyukur ketika diberikan kesehatan dan kelapangan rezeki, merupakan rasa syukur yang mudah diucapkan. Namun apakah hal tersebut berlaku ketika Allah memberikan kita sebuah kenikmatan yang tidak semua orang bisa merasakan? Kenikmatan yang hanya diberikan kepada orang-orang yang dikehendakinya. Dengan kenikmatan tersebut, seseorang bisa mengetahui yang baik dan salah, yang mendatangkan ridha atau murka Allah. Apakah kenikmatan tersebut?

Kenikmatan tersebut adalah berjalan di atas hidayah dan hal itu merupakan salah satu hak prerogatif Allah. Tertulis di dalam surah cinta-Nya, QS. Al-Baqarah: 213.

“Allah memberikan hidayah kepada orang yang dikendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”

Saudariku muslimah, ayat tersebut menyadarkan kita bahwa hidayah itu sungguh mahal harganya. Karena rahmat dan hidayah-Nya, kita dipilih untuk menerima hadiah termahal tersebut.

Namun secara jujur, apakah kenikmatan yang mahal harganya ini sudah sering kita syukuri atau jangan-jangan kita termasuk ke dalam golongan yang tidak pernah bersyukur atasnya? Mungkin akan timbul pertanyaan, bagaimana cara kita bersyukur dengan kenikmatan hidayah?

Bersyukurlah dengan cara tetap istiqamah di atas jalan hidayah! Istiqamah merupakan hal yang berat, butuh kesabaran yang luar biasa. Allah berfirman, “Apakah engkau akan dibiarkan berkata bahwa aku telah beriman sementara engkau belum diuji?”

Ujian keimanan merupakan tes keistiqamahan, tetap berada di atas jalan hidayah atau tidak. Mari kita melihat cara para salafush shalih mempertahankan keistiqamahan di atas jalan hidayah yang masuk ke relung hatinya!

Siapa yang tidak kenal dengan Bilal bin Rabbah? Seorang budak hitam yang mulia karena keislamannya. Seseorang yang keistiqamahannya langsung diuji setelah Allah memberi secercah hidayah melalui perantara Rasulullah. Tidak tanggung-tanggung beliau diuji dengan jiwanya. Ketika kata Latta dan Uzza tidak terucap di lisannya maka batu besarpun siap menghimpit dadanya. Namun hal tersebut tidak membuat Bilal mundur dari jalan hidayah. Bahkan ujian tersebut membuat Bilal semakin kuat untuk istiqamah berada di atas jalan hidayah. Seorang Bilal bin Rabbah yang sudah terpatri keimanan di dadanya, hanya mengeluarkan satu kata sebagai bentuk keistiqamahan di atas jalan hidayah, “Ahad, Ahad, Ahad, Ahad”. Sampai akhirnya orang kafir Quraisy pun kelelahan untuk menyiksanya.

Selanjutnya kita akan membahas tentang keluarga Yasir. Keluarga yang berusaha untuk istiqamah di jalan hidayah walaupun nyawa adalah taruhannya. Ammar bin Yasir, seorang pemuda miskin termasuk golongan yang pertama memeluk Islam. Beliau anak dari Sumayyah, seorang ibu yang pertama syahid dalam Islam. Walaupun siksaan bertubi-tubi mereka rasakan namun tetap memilih untuk  istiqamah di jalan hidayah. Sampai akhirnya Rasulullah melihat penyiksaan tersebut dan berkata, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir! Karena sesunggunya tempat kembali kalian adalah surga.”

Sumayyah yang mendengar seruan Rasulullah tersebut maka beliau bertambah tegar dan optimis. Dengan kewibawaan imannya, dia mengulang-ulang dengan berani, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu benar”.

Sumayyah pun senantiasa mengulang perkataan itu sampai akhirnya kafir Quraisy berputus ada. Abu Jahal melampiaskan kemarahannya dengan menusukkan tombak yang ada di tangannya. Sumayyah pun menemui kematian yang indah. Kematian di atas jalan keistiqamahan mempertahankan iman di dada.

Itulah di antara kisah para salaf dalam hal keistiqamahan mereka mempertahankan hidayah. Mereka paham betul bahwa jalan hidayah yang mereka tempuh bukanlah menjanjikan kesenangan semata. Namun jalan yang berat dan sulit. Dengan jalan tersebutlah, Allah melihat orang yang benar keimanannya dan yang berpura-pura beriman.

Istiqamah di atas jalan hidayah itu berat saudariku. Jika ada saudara kita yang telah menapaki jalan hidayah lalu kembali bermaksiat, sedih pastinya. Kita sebagai saudara seiman hendaknya menahan lisan! Jangan sampai termasuk orang yang memuji berlebihan ketika beliau mendapat hidayah dan menghina “habis-habisan” saat beliau menjauh dari jalan Islam. Doakan dia semoga Allah kembali memberikan hadiah yang mahal tersebut kepada Nya. Tidak ada yang mustahil bukan, kalau Allah akan kembali memberikan hadiah tersebut kepadanya?

Ketahuilah saudariku, jalan hidayah itu tidak lurus saja tapi ada tikungan-tikungan tajam nan terjal yang harus dilalui. Akan ada saatnya kita terjatuh dan harus bangkit kembali. Satu hal saudariku, beratnya istiqamah yang kita rasakan akan terbayar kontan ketika kita menginjakkan kaki di surga-Nya.

Mendapatkan hidayah itu adalah anugerah. Sedangkan istiqamah di atas jalan hidayah adalah pilihan. Dan orang beriman pasti akan memilih bersabar di atas jalan hidayah. Karena ujian yang kita rasakan sangat jauh dibandingkan para pendahulu kita. Maka bersabarlah sebentar, kuatkan kesabaran untuk tetap tegar dan istiqamah di jalan hidayah! Insya Allah akan mengantarkan kita bertemu dengan-Nya.

Ya Rabb, tolong jangan Engkau condongkan hati kami kepada jalan kesesatan setelah Engkau memberikan kami jalan hidayah. Izinkan kami untuk tetap istiqamah berada di jalan-Mu sampai akhirnya Engkau berkata, “Saatnya pulang”. Kami pun merasa gembira dengan kepulangan tersebut. Kepulangan seorang yang merindukan perjumpaan dengan Rabbnya.

(Syifa Azzahra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here