Lebih Baik Mati Berkalang Tanah daripada Hidup Terjajah

0
331 views

Kiblatmuslimah.com – Yel-yel pemantik semangat ini sering kita dengar pada era revolusi fisik. Hampir seluruh rakyat Indonesia kala itu, dari Sabang hingga Merauke merasa tak sudi menjadi budak belian para penjajah. Lebih baik mati sampai titik darah penghabisan.

Waktu berlalu. Indonesia merdeka. Ratu Belanda sudah tidak mencampuri urusan rumah tangga republik ini. Itu betul. Namun urusannya masih saja rumit. Sebab ternyata penjajah masih bercokol di negeri ini. Dengan casing (tampilan, red) yang lebih pribumi.

Mereka tak perlu membawa senjata laras panjang untuk menakuti parainlander (pribumi, red) pembangkang. Hebatnya lagi, mereka bermata coklat dan berkulit gelap. Sama persis dengan para pribumi pada umumnya. Yang membedakan hanyalah isi kepalanya.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir telah membuktikannya. Ulama yang juga terpidana teroris ini, tetap bergeming meski lautan nikmat dunia memburunya. Usia sepuhnya tak pernah menghalangi untuk tetap berada dalam koridor kebenaran. Rasa takutnya, penghambaannya, pengharapannya, hanya diberikan kepada Allah semata.

Tak mau dia menodai hatinya dengan ideologi selain Islam. Apalagi sampai menjual keyakinannya dengan ideologi tanpa makna. Soal hitung-hitungan angka, pastilah Ustadz Abu memilih angka yang lebih besar. Sayangnya, angka tanpa batas, tanpa pamrih, hanya dimiliki oleh Allah ta’ala. Ini membuat geram penguasa hari ini.

Tak jadi menghirup hangatnya udara bebas, baginya bukan masalah besar. Tetap menjadi jiwa merdeka meski meringkuk di balik jeruji, baginya lebih terhormat; daripada harus membungkuk hormat pada para penangguk rupiah bermata coklat. Ia tak ingin berkhianat pada Illahnya.

Lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup terjajah. Inilah slogan perwira sejati. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir telah mencontohkannya. Mungkin sebagian orang menganggap ketundukannya kepada Allah sebagai Tuhan yang satu adalah sangat radikal. Tetapi deretan kata-kata sulit yang menyoal demokrasi dan HAM, bagi Ustadz yang sangat ditakuti ini, tak lebih dari omong kosong belaka.

Ummu Asiah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here