Respek Kunci Keharmonisan Rumah Tangga

0
281 views

Kiblatmuslimah.com – Seorang tokoh publik dari Amerika bernama Mark, mengadakan penelitian mengenai kunci keharmonisan dalam rumah tangga.

Hasilnya, dari sekian ribu responden pengikutnya di media sosial, menyatakan bahwa respek atau saling menghormati antar pasangan berada di posisi teratas. Mengalahkan peran komunikasi yang berada di urutan kedua.

Masih menurut hasil survei tersebut, komunikasi dan keterbukaan antar pasangan memang sangat penting. Hal itu menjadi keharusan dalam membina hubungan suami istri yang mendambakan kelanggengan dan keharmonisan rumah tangga selama-lamanya.

Namun, di atas itu masih ada yang lebih utama. Yaitu, saling menghormati atau respek satu sama lain. Menjaga komunikasi dengan kesadaran saling menghormati pendapat dan pemahaman kepada pasangan.

Jauh sebelum penelitian semacam itu, Islam sudah mengajarkan pentingnya saling respek pada pasangan. Bentuk penghormatan satu sama lain telah dicontohkan dalam keluarga para nabi hingga suri teladan kita Rasulullah saw.
Kisah romantisme Yusuf dan Zulaikha, Ibrahim dengan Siti Hajar dan Siti Sarah, hingga Rasulullah dan Ummul Mukminin Khadijah ra. Sebelum menjadi suami istri dan membangun rumah tangga, satu sama lain berasal dari latar belakang yang berbeda.

Yusuf seorang pemuda rupawan, dari keluarga biasa dan pernah menjadi pelayan di rumah Zulaikha. Sedangkan Zulaikha sebelumnya adalah seorang istri pembesar Mesir yang kaya raya dan terhormat. Perjodohan yang diikatkan oleh Allah di antara keduanya begitu indah. Zulaikha sangat mengagumi Yusuf sejak dulu dan menghormatinya tanpa pernah mengungkit kedudukannya di masa lalu.
Begitu pula pada kisah cinta segi tiga nan indah antara Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Siti Sarah.

Penghormatan yang besar ditunjukkan oleh Siti Hajar kepada Nabi Ibrahim untuk meninggalkannya beserta bayinya di padang pasir. Karena hal tersebut adalah perintah Allah.
Siti Hajar menanti dengan ikhlas demi mengharap ridha Allah dan suaminya. Beliau memiliki putra yaitu Ismail yang sangat menghormati ayahnya. Dengan tulus ikhlas penuh penghormatan, Ismail menuruti kehendak ayahnya untuk disembelih sebagai bukti ketaatan pada Allah Ta’ala. Kisah keharmonisan mereka bahkan diabadikan sepanjang masa dalam Hari Raya Qurban.

Begitu pula kebesaran hati Siti Sarah. Beliau ridha menerima Siti Hajar sebagai madunya. Hal itu sebagai bukti penghormatan pada suaminya. Di sisi lain, Nabi Ibrahim juga menaruh penghormatan besar pada Sarah dengan tetap memberikan hak-haknya sebagai istri pertama.

Kisah romantisme selanjutnya adalah antara Rasulullah saw dengan Khadijah ra. Khadijah seorang wanita bangsawan dan Nabi Muhammad seorang pemuda sederhana yang terkenal kejujurannya.
Khadijah adalah istri yang sangat menghormati suaminya. Beliau adalah orang pertama yang beriman serta mendukung dakwah Rasulullah. Begitu pula sebaliknya.

Jauh dari kebiasaan masyarakat jahiliyah Quraisy saat itu yang menjadikan istri memiliki kedudukan di bawah suami. Bahkan hanya dianggap sebagai pemuas nafsu.
Saling menghormati pemikiran maupun kebiasaan dengan catatan masih dalam koridor sesuai syariat sangat penting. Karena pada dasarnya, sebelum disatukan dalam ikatan pernikahan, suami dan istri adalah dua orang yang tumbuh dalam kondisi berbeda. Ketika menikah, tidak lantas dengan tiba-tiba seluruhnya menjadi seiya sekata.
Menghormati pendapat dan kebiasaan masing-masing dapat mempercantik taman kehidupan yang dibangun bersama, dunia dan akhirat. Kesuksesan menjaga komunikasi juga ada pada kebisaan saling menghormati.

Jika ingin menempatkan diri sebagai seseorang yang dihormati, maka terlebih dahulu kita hormati pasangan.
Dilanjutkan pada pola asuh anak-anak. Ketika menjadi orang tua, ayah dan ibu harus mengajarkan kembali pada anak-anaknya untuk saling respek satu sama lain. Sehingga mereka akan tahu tugas dan kedudukannya masing-masing dalam keluarga.
Inilah keharmonisan sesungguhnya. Membangun keluarga berdasarkan saling menghormati, sehingga paham tugas dan fungsi masing-masing. Saling menerima dan memperbaiki diri untuk sama-sama memberikan pengabdian yang terbaik dalam keluarga.

*Ekadeffa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here