Konstantinopel, Kota yang Dijanjikan (Bagian 2)

0
149 views

Kiblatmuslimah.com – Rasulullah SAW telah wafat, kepergian beliau meninggalkan duka di hati para sahabat. Meski beliau telah wafat, semangat untuk menyebarluaskan Islam tetap bergelora dalam jiwa mereka. Semangat untuk merealisasikan bisyarah Rasul berkenaan dengan Konstantinopel pun masih terpendam dalam sukma orang-orang mulia tersebut. Tidak lama setelah kematian Rasulullah saw, Abu Bakar as-Siddiq diangkat menjadi Khalifah. Sebagaimana pesan Nabi saw bahwa kursi kepemimpinan tidak boleh kosong, umat Islam harus mempunyai pemimpin.

Kembali para sahabat berharap agar mereka diutus pergi ke kota bernama Konstantinopel, demi menjadi pemimpin dan pasukan terbaik. Namun sampai 2 tahun masa pemerintahan Abu Bakar, tak seorang pun diutus untuk menaklukkan kota yang terletak di Utara Madinah itu. Hal ini disebabkan banyak yang murtad juga nabi palsu yang menyebar di jazirah Arab usai kepergian nabi Muhammad saw. Sehingga Abu Bakar fokus untuk memerangi mereka.

Harapan sahabat kembali tumbuh. Bahkan kali ini harapan itu semakin tinggi di saat Khalifah selanjutnya, Umar bin Khattab melakukan banyak ekspedisi untuk meluaskan wilayah Islam. Dimulai dari Persia, Mesir, hingga Syam. Namun sayang, untuk kesekian kalinya para sahabat harus kecewa karena Khalifah al-Faruq ini memiliki kebijakan tidak mengizinkan pasukannya melakukan ekspedisi-ekspedisi laut. Mustahil bagi para sahabat untuk bisa mencapai cita-cita mereka.

Setelah Umar bin Khattab wafat, kekhalifahan dialihkan kepada sahabat Utsman bin Affan. Para sahabat mampu merealisasikan impiannya. Untuk pertama kalinya kaum muslimin melakukan ekspedisi laut. Dalam ekspedisi pertama ini, terdapat seorang perempuan bernama Ummu Haram binti Milhan, istri dari Ubadah bin Shamit. Keberangkatan Ummu Haram binti Milhan telah Rasulullah kabarkan saat berkunjung ke rumah Ummu Haram melalui sabdanya,

قَالَ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَرْكَبُونَ ثَبَجَ هَذَا الْبَحْرِ مُلُوكًا عَلَى الْأَسِرَّةِ أَوْ مِثْلَ الْمُلُوكِ عَلَى الْأَسِرَّةِ فَقُلْتُ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ قَالَ أَنْتِ مِنْ الْأَوَّلِينَ فَرَكِبَتْ الْبَحْرَ زَمَانَ مُعَاوِيَةَ فَصُرِعَتْ عَنْ دَابَّتِهَا حِينَ خَرَجَتْ مِنْ الْبَحْرِ فَهَلَكَتْ

Beliau Saw berkata, ‘Sekelompok umatku diperlihatkan (Allah) kepadaku. Mereka berperang di jalan Allah mengarungi lautan, seperti para raja di atas singgasana.‘ Lalu saya (Ummu Haram binti Milhan) berkata, ‘Wahai Rasulullah, doakanlah saya semoga termasuk di antara mereka.‘ Beliau saw bersabda, ‘Kamu termasuk dari rombongan pertama.’ Pada masa (pemerintahan) Mu’awiyah, Ummu Haram turut dalam pasukan Islam berlayar ke lautan (untuk berperang di jalan Allah). Ketika mendarat, dia terjatuh dari kendaraannya hingga meninggal dunia.” (HR. Al-Bukhari no. 5810, Fathul Bari no. 6282 dan no. 6283)

Konsep dalam ekspedisi laut ini diambil dari Byzantium. Pasukan pertama yang melaksanakan bisyarah Rasul ini hanya mampu sampai di pulau Cyprus (قبرص). Kebiasaan para sahabat saat itu adalah mengajak istrinya untuk turut serta turun ke medan perang. Pada peperangan tersebut, Ummu Haram menjadi satu-satunya syahidah yang gugur di Cyprus, beliau pun dimakamkan di sana. Meski perjalanan menuju Konstantinopel masih sangat jauh, namun menguasai Cyprus merupakan keberhasilan yang luar biasa. Cyprus mampu menjadi batu loncatan bagi pasukan selanjutnya untuk melanjutkan perjuangan dalam menaklukkan Konstantinopel.


Oleh: Istiqomah elhaura

Sumber:

Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir. Jilid 7, Hal 153

Fathul Bari

Baca Selanjutnya Konstantinopel, Kota yang Dijanjikan (Bagian 3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here