Konstantinopel, Kota yang Dijanjikan (Bagian 1)

0
200 views

Kiblatmuslimah.com – Muslimin Madinah terkepung oleh koalisi musyrikin di Uhud. Koalisi musyrikin demi membalas kekalahan yang telah mereka terima pada perang Badar, dua tahun sebelum perang ini dimulai.

Tidak tanggung-tanggung, rasa dendam yang membuncah membuat Abu Sufyan membawa sepuluh ribu (10.000) pasukan untuk menghabisi muslimin di Madinah. Rasa congkak memenuhi hati Abu Sufyan melihat Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam  hanya membawa 3.000 pasukan.

Melihat besarnya kekuatan musyrikin, seorang sahabat asal Persia bernama Salman al-Farisi mengusulkan kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  agar umat muslim menggali parit di wilayah utara kota Madinah, untuk menghubungkan antara kedua ujung Harrah Waqim dan Harrah Al-Wabrah. Daerah ini adalah satu-satunya yang terbuka di hadapan pasukan musuh. Usulan tersebut diterima dengan baik oleh Rasulullah.

Menurut Dr. Syauqi panjang parit tersebut mencapai 5.544 meter, lebarnya 4,62 meter dan kedalaman 3,234 meter. Mengerjakannya pun membutuhkan waktu sekitar 9-10 hari.

Tidak mudah menggali parit sebesar itu dengan keadaan serba kekurangan. Saat itu Madinah tengah dilanda kelaparan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Fathul Bari bahwa kondisi kota Madinah sangat dingin sehingga menyebabkan kaum muslim kekurangan bahan makanan.

Rasulullah ikut serta dalam proses penggalian parit. Hingga suatu ketika beberapa sahabat kesulitan karena terdapat tanah yang sangat keras  dan tidak bisa digali oleh cangkul.

Mendengar hal tersebut, Rasulullah bergegas datang mengambil cangkul dan berkata “bismillah” kemudian menghantam tanah tersebut dengan keras. Cahaya keluar dari serpihan tanah tersebut, darinya Rasulullah melihat tanah Persi, istana Mada’in, kunci-kunci Yaman  juga pintu gerbang Shan’a.

Beliau SAW bersabda,

لتفتحن القسطنطينية ، فلنعمل الأمير أميرها، و لنعمل الجيش ذلك الجيش

“Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya (yang membebaskan kota tersebut) dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya (yang turut serta dalam pembebasan).” (HR Ahmad, Musnad: 18189)

Sabda Nabi itu yang membuat para sahabat terus termotivasi, tidak pernah mundur meski jumlah mereka sedikit. Karena bisyarah Rasul tidak akan pernah salah. Jangankan Uhud, negara superpower seperti Persia saja akan jatuh ke tangan Islam. Bahkan Konstantinopel, sebuah negara yang belum pernah terdengar di telinga para sahabat pun akan jatuh di tangan Islam.

Usai peperangan ini selesai, hadits berkenaan dengan Konstantinopel terus terngiang di hati para sahabat. Bagaimana tidak? Jika Rasul telah mengatakan bahwa pemimpin juga pasukan yang terbaik adalah mereka yang menaklukkan Konstantinopel. Tanpa ada perintah pun semua sahabat akan terus berlomba-lomba untuk mendapatkan gelar tersebut.

Para sahabat menunggu perintah Rasulullah untuk berangkat menuju Konstantinopel. Namun sayang, hingga Rasulullah wafat, tidak ada seorang pun yang pernah menginjakkan kaki di sana.

Sumber: Rahiqul Makhtum, Shafiyyurahman Al-Mubarokfuri

                At-Tabaqaat al-Kabir

                Musnad Imam Ahmad, Imam Ahmad bin Hambal.

                Al-Bidayah wan Nihayah

Penulis: Istiqomah elhaura

Baca Selanjutnya Konstantinopel, Kota yang Dijanjikan (Bagian 2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here