Kobarkan Semangatmu, Generasi Muda!

0
142 views

Kiblatmuslimah.com – Bangkitlah dari zona nyaman dan malasmu, wahai generasi yang merindukan kejayaan Islam! Bangkit dengan segala potensi, semangat dan dukungan dari para sahabat.

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali ‘Imran [3]: 110)

Kita umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia dengan iman yang menancap kuat di dalam dada. Allah sering menyeru hamba-Nya dengan seruan orang-orang beriman. Hanya orang yang memiliki iman dalam hatinya yang dapat menjawab seruan dari Allah, bersungguh-sungguh melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Jika engkau tidak mampu melaksanakannya, setidak-tidaknya memerintahkannya. Kobarkanlah semangat pemuda-pemuda Islam untuk berjuang atas nama Allah, Islam dan nubuwwah Rasulullah.1

“Dan berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajibanmu sendiri. Kobarkanlah semangat orang-orang beriman (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaNya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 84)

Bukankah sudah jelas siapa musuh yang harus kita perangi? Lantas mengapa masih sibuk berseteru antarsaudara hingga mereka (musuh Allah) merasa aman dan menertawakan keretakan kita? Umat Islam, bersatulah!

Allah ingin menjadikan khalifah (pemimpin) di bumi. Kita adalah pemimpin bagi setiap diri masing-masing. Tugas qiyadah (pemimpin) adalah menumbuhkan harapan. Menumbuhkan kepercayaan dalam hati pasukan sehingga mereka tidak bimbang. Manusia tidak akan goncang dan lemah semangat selagi dalam dada mereka tersimpan harapan besar bahwa Allah akan senantiasa menolong Din-Nya. Allah akan menolong siapapun yang menolong-(Din)-Nya, manusia yang berada di atas kebenaran. Allah akan menolong tentara-Nya dan akan menghinakan musuh-musuh-Nya.2

Bagaimana hubungan kita dengan Allah? Tidakkah kita merasakan pengawasan Allah? Tidakkah ada rasa takut terhadap-Nya atas maksiat yang telah kita lakukan? Kembalilah pada-Nya!

“Dan milik Allah yang ada di langit dan bumi, serta hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 109)

Kita lihat saat ini yang terjadi di seluruh belahan dunia. Media massa Yahudi mengambil peran besar dalam menyebarkan perbuatan keji (amoral) di kalangan orang-orang beriman. Melalui tayangan-tayangan film, gambar-gambar cabul, majalah-majalan porno, nyanyian-nyanyian mesum, sya’ir-sya’ir rendahan bisa menggiring generasi muda dengan mudah untuk melakukan perbuatan keji. Dengan demikian akan runtuh nilai-nilai moral di kalangan masyarakat dunia. Kalau sudah demikian, orang-orang Yahudi pun dapat dengan mudah menguasai dunia yang sedang dalam keadaan terbius.2

Apakah engkau mengira bahwa jauhnya dirimu dari nilai-nilai Islam hanya akan membahayakan dirimu sendiri? Ternyata tidak. Masalahnya lebih berat dari itu. Perbuatan kalian telah menyeret umat ke dalam jurang kehancuran dan keterbelakangan, serta memotong laju perkembangannya. Tercipta kondisi jumud (hilangnya masa keemasan Islam menjadi masa kevakuman total) seperti saat ini.3

Para musuh tak henti-hentinya menggencarkan serangan dari segala sisi. Berikut pesan dari kolonial Perancis Napoleon kepada negara-negara Eropa yang lain, “Dengarkanlah! Apabila kalian hendak mengukuhkan cengkraman kaki-kaki kalian di dunia Islam, hal itu tidak akan mungkin terjadi selama Dinul Islam masih berjalan dalam urat nadi kaum muslimin. Kalian harus mampu mencabut Din dari hati mereka dan menanamkan pohon lain sebagai gantinya. Hapuskanlah pengaruh Din ini secara berangsur-angsur dan sodorkan Din baru sebagai gantinya. Serukan kepada mereka Nasionalisme.”2

Dulu kita adalah satu kesatuan, Islam yang menyatukan kita semua. Kini kita dikotak-kotakkan oleh mereka dengan batas geografis. Cinta negara terus digemakan. Atas dasar ukhuwah, persaudaraan ini lebih dari saudara sedarah karena persaudaraan ini dijaga oleh Allah ‘azza wa jalla sejak di dunia hingga ke akhirat. Adakah ikatan lain yang lebih luas jangkauannya, lebih dalam maknanya, lebih erat pelukannya, lebih lama ketahanannya dibanding ikatan ukhuwah? Tentu tidak akan pernah ada.4

“Bukan kematian jasad yang kita takuti, tapi kematian hati. Saat jasad menjadi kuburan bagi hati sebelum jasadnya benar-benar mati. Wujuuduhu ka ‘adamihi (adanya di dunia sama sekali tak berarti, sebagaimana ia tiada sama sekali). Kebodohan terhadap ilmu syar’i dan tiadanya takwa di hati. Itulah tanda kematian hati. Hidupnya manusia itu wallahi, hanya dengan ilmu dan takwa, tanpa keduanya adanya seperti tidak ada”, demikian nasihat Imam Asy-Syafi’i.

Penulis: Hunafa’ Ballagho

Editor: UmmA

Pustaka:

  1. DR. ‘Abdullah ‘Azzam. 1996. Tarbiyah Jihadiyah 3. Solo: Pustaka al-‘Alaq (Penebar Fikrah Jihadi).
  2. DR. ‘Abdullah ‘Azzam. 1996. Tarbiyah Jihadiyah 7. Solo: Pustaka al-‘Alaq (Penebar Fikrah Jihadi).
  3. Ibrahim Ad-Duwaisy dan DR. Sulaiman Al-Umar. 2008. Zaman Boleh Berubah Iman Terus Bertambah!. Klaten: WAFA Press.
  4. Salim A. Fillah dan Felix Y. Siauw. 2016. Bersamamu di Jalan Dakwah Berliku. Yogyakarta: Pro U-Media.
Previous articleKartu Cinta (Bagian 2)
Next articleManajemen Waktu
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here