KLB Miras Oplosan, Fahira Idris: Bahan Bakunya Dijual Bebas

0
171 views

Kiblatmuslimah.com – Seperti wabah yang menyebar, minuman keras (miras) oplosan dalam seminggu belakangan ini sudah merenggut 82 nyawa di daerah Jakarta dan Jawa Barat.

 

Bahkan tingginya korban miras oplosan ini membuat Pemerintah Kabupaten Bandung menetapkan status kejadian luar biasa (KLB).

 

Ketua Komite III DPD RI yang juga Ketua Gerakan Nasional Anti Miras Fahira Idris mengatakan, “Sudahlah undang-undang miras tidak ada, penegakan hukum lemah, ditambah lagi bahan baku utama miras oplosan dijual bebas bak kacang goreng, lengkaplah sudah semuanya,” tukas Fahira di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta (11/4).

 

Fahira mengungkapkan, bahan baku utama miras oplosan begitu mudah didapatkan dan dibeli karena dijual bebas. Bahkan banyak dijual di toko-toko online.

 

“Selama akar persoalan ini tidak kita sentuh, kejadian seperti ini akan terus terulang,” terangnya.

 

Mudahnya mendapat etanol dan metanol ini membuat siapa saja bisa meracik atau memproduksi miras oplosan dalam jumlah yang besar.

 

Jika ingin serius memberantas miras oplosan, lanjut Fahira, Pemerintah harus mulai melakukan pengawasan ketat penjualan etanol dan metanol. Hal ini untuk memastikan kedua zat ini memang diperuntukkan sesuai kegunaan dan hanya dibeli oleh pihak-pihak tertentu yang sudah jelas, antara lain industri atau lembaga penelitian.

 

Misalnya, etanol hanya dijual untuk pembuatan antiseptik, pelarut obat, pelarut kimia, bahan bakar mesin dan roket, atau kebutuhan lain.

 

Sementara, metanol hanya boleh dibeli sebagai bahan baku untuk produksi bahan kimia dan kepentingan lainnya.

 

Jika pengawasan ini mampu dilakukan, tidak ada ruang untuk membuat miras oplosan karena bahan bakunya tidak bisa sembarangan dibeli.

 

“Membuat miras oplosan itu sangat mudah. Tinggal beli etanol atau metanol kemudian diracik atau dioplos dengan bahan lain mulai dari sirup sampai minuman energi, dikemas kemudian dijual. Semudah itu. Jadi walau produsen dan pengedarnya ditangkap, tidak akan menyelesaikan persoalan karena bahan bakunya begitu mudah didapat,” jelas senator Jakarta ini.

 

Sebagai informasi, kasus minuman keras (miras) oplosan menjadi sorotan Polri dalam sepekan ini.

 

Berdasarkan pemeriksaan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri, dari sampel miras oplosan, autopsi dan pemeriksaan toksikologi (penelitian kandungan racun) pada jasad korban, selain ditemukan etanol, miras oplosan positif mengandung metanol dalam jumlah yang besar.

 

Etanol menyebabkan kantuk dan keracunan setelah terminum. Metanol sangat beracun jika dikonsumsi manusia, karena memang diperuntukkan sebagai pelarut dan bahan bakar mesin.[Anis]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here