Kisah Mu’adzah Bagian 3: Keilmuannya

0
74 views

Kiblatmuslimah.com – Selain termasuk ahli ibadah, Mu’adzah juga termasuk seorang alim sekaligus perawi hadits. Dia meriwayatkan hadits dan menimba ilmu dari sahabat Nabi dan tabiin. Di antaranya, ia sempat menimba ilmu dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Hisyam bin ‘Amir dan Ummu ‘Amr binti ‘Abdillah bin Zubair.

Beberapa ulama terkenal dari kalangan tabiin sempat berguru kepada Mu’adzah. Seperti Abu Qilabah, Qatadah, Ayyub as-Sakhtiyani, Ashim al-Ahwal, Sulaiman bin ‘Abdillah al-Bashri rahimahullah dan masih banyak lagi yang lainnya. Mereka semua menimba ilmu dan meriwayatkan hadits dari Mu’adzah.

Mu’adzah merupakan seorang mu’allimah (guru) yang bijaksana dan sering memberi nasihat, selalu berusaha menarbiyah umat Islam. Setiap untaian nasihat yang dirangkai lisannya sarat akan hikmah dan manfaat, membuat orang-orang yang mendengarnya merasa sejuk dan puas. Ini membuat orang-orang merasa nyaman di sisinya. Ja’far bin Kaisan rahimahullah pernah berkata, “Saya pernah melihat Mu’adzah sedang duduk dan di sekelilingnya banyak wanita”.

Pernah pada suatu hari, Mu’adzah menasihati salah satu muridnya dengan berkata, ”Wahai anakku, dalam perjalananmu menuju Rabbmu, jadilah engkau selalu diliputi kehati-hatian dan rasa berharap. Karena saya lihat orang yang mempunyai rasa harap bertemu dengan Rabbnya, dia berhak mendapat kedekatan dengan-Nya di hari ia bertemu. Orang yang memiliki kehati-hatian akan selalu berharap diberi rasa aman di hari berdirinya manusia di hadapan Rabb semesta alam”. Mendengar nasihat ini, seketika itu menetes bulir-bulir air mata sang murid.

Begitu sabar Mu’adzah saat Allah Azza wa Jalla mengujinya dengan kematian suami dan anak-anaknya yang sangat ia cintai dalam satu waktu sekaligus. Ketika mereka berperang melawan musuh-musuh Allah Azza wa Jalla.

Wanita mulia ini begitu tabah menghadapi musibah tersebut, tak pula larut dalam kesedihan yang membuatnya masuk ke jurang keterpurukan dan kesedihan. Bahkan ia berkata, ”Demi Allah, tidaklah saya suka tinggal lama di dunia hanya untuk menikmati keindahan hidup dan angin sepoi-sepoi di dalamnya. Akan tetapi saya suka tinggal di dunia ini untuk mencari cara agar saya bisa dekat dengan Rabb saya. Semoga Allah Azza Wa Jalla mengumpulkanku dengan Abu Shahba beserta anak-anaknya di surga.”

Ketika orang-orang datang berta’ziah, Mu’adzah justru berkata, “Jika kalian datang untuk mengucapkan selamat, maka aku akan sambut kalian. Akan tetapi, jika kalian datang untuk tujuan lain, maka silahkan kembali ke rumah kalian.”

Wanita teladan ini akhirnya meninggal pada tahun 83 H.

Dari kisah ini, kita dapat mengambil banyak pembelajaran di antaranya adalah memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk perkara akhirat, khususnya waktu malam, mampu menjadi pribadi yang zuhud, sabar dan tabah menghadapi setiap cobaan dari Allah Azza wa Jalla.

Wallahu a’lam.

Penulis: Amalliyah

Editor: UmmA

Sumber:

Majalah As-Sunnah_Baituna No.04-05 Thn. XV Ed. Khusus 1432H/2011 M, rubrik Syakhshiyyah. Hal: 8-9.

www.doandzikir.wordpress.com

www.republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here