Kisah Mu’adzah Bagian 2: Shalat Malamnya

0
80 views

Mu’adzah adalah seorang wanita muslimah sejati yang meletakkan dunia hanya di tangannya bukan hatinya. Dia wanita yang senantiasa bersemangat meraih kebahagiaan akhiratnya. Tidak silau dengan pesona dunia yang sementara.

Menurutnya, linangan air mata di malam hari lebih syahdu daripada gelak tawa orang-orang. Bangun di tengah malam untuk tahajud dan membaca al-Qur’an baginya lebih mendatangkan kenikmatan dibandingkan terlelap dalam buaian mimpi. Rasa cinta terhadap ketaatan dalam pandangannya lebih lezat ketimbang lezatnya makanan manapun.

Imam adz-Dzahabi rahimahullah pernah menuturkan tentang Mu’adzah, “Telah sampai kepadaku kabar tentang Mu’adzah bahwa dia senantiasa menghidupkan malamnya dan berkata, ‘Aku heran dengan mata yang bisa terpejam di malam hari padahal ia tahan lamanya tidur di alam kubur’.”

Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata, “Dia termasuk ahli ibadah.”

Al-Hakam bin Sinan al-Bahili rahimahulllah  pernah bercerita bahwa salah seorang wanita yang pernah menjadi pelayan Mu’adzah berujar, “Mu’adzah menghidupkan malamnya dengan shalat. Jika rasa kantuk membuatnya tertidur maka ia segera beranjak dan mondar-mandir di dalam rumah sambil berkata, ‘Wahai diriku, (lihatlah) rasa kantuk menghampirimu. Jika kamu kalah dan tertidur, niscaya tidurmu di kubur akan sangat panjang. Entah kesedihan atau kebahagiaan (yang akan kamu rasakan nanti)’.”

Menurut pengakuan si pelayannya, “Begitulah yang ia (Mu’adzah) lakukan hingga pagi hari.”

Demikian Mu’adzah al-‘Adawiyah seorang tabiiyah, generasi terdahulu. Jika malam telah merata kegelapannya, orang-orang mulai merebahkan lambung di ranjangnya, beliau bangun, memperbagus wudhu lalu berdiri di mihrabnya. Memulai shalatnya dengan penuh khusyu di hadapan Rabb-nya yang sangat dirindukan. Bersegera melenyapkan rasa rindu tersebut dengan linangan air mata kepada yang Maha Pencipta.

Mu’adzah adalah sosok wanita yang patut dijadikan panutan. Sosok yang bisa membuat malu setiap muslim dan muslimah yang masih suka bermalas-malasan dan merasa lemah untuk bangun di keheningan malam.

Muhammad bin Fudhail rahimahullah mengatakan bahwa Ayahnya pernah bercerita, “Jika datang waktu siang, Mu’adzah berkata, ‘Inilah hari aku akan meninggal’. Maka ia tidak tidur hingga sore. Jika malam hari telah tiba, ia berkata (lagi), ‘Inilah malam aku akan meninggal’. Maka, ia tidak tidur hingga pagi. Jika dia merasa dingin (di malam hari), ia mengenakan baju yang berbahan tipis hingga rasa dingin tersebut tidak membuatnya tidur.”

Bersambung Kisah Mu’adzah Bagian 3: Keilmuannya

Penulis: Amalliyah

Editor: UmmA

Sumber:

Majalah As-Sunnah_Baituna No.04-05 Thn. XV Ed. Khusus 1432H/2011 M, rubrik Syakhshiyyah. Hal: 8-9.

www.doandzikir.wordpress.com

www.republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here