Keutamaan Asma’ binti Abu Bakar

0
138 views

Kiblatmuslimah.com – Allah menjaga Asma’ dengan dengan pertumbuhan yang  baik. Ayahandanya adalah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, sahabat Nabi Muhammad shalallahu ’alaihi wa sallam. Kakek dari jalur ayahnya yaitu Abu Quhofah radhiallahu ’anhu. Sedang nenek dari jalur bapaknya yakni Ummul Khayr Salma radhiallahu ’anha. Mereka berdua masuk Islam dan mendapatkan keutamaan sebagai sahabat.

Dia termasuk yang pertama dari golongan awal yang masuk Islam. Dia menjadi orang kedelapan belas yang masuk Islam, ini dipaparkan oleh Ibnu Hajar dan Ibnu Ishaq. Dia menikah sebelum hijrah dengan Zubair bin Awwam bin Khuwailid Al-Asadi radhiallahu ’anhu, putra dari bibi Rasulullah salallahu ’alaihi wa sallam Shafiyyah binti Abdul Muthalib radiallahu ’anha. Zubair radiallahu ’anhu termasuk salah satu dari sepuluh orang yang diberi kabar gembira dengan jannah.

Asma’ mendapat gelar julukan dzatun nithaaqain (pemilik dua selendang) oleh Rasulullah salallahu ’alaihi wa sallam. Asma’ bertutur, “Aku membuat makanan untuk Rasulullah dan ayahku ketika mereka hendak bertolak hijrah ke Madinah. Aku berkata kepada ayah, ‘Aku tidak membawa sesuatu untuk mengikat makanan kecuali selendang pinggangku ini.’ Ayahku berkata, ‘Belahlah selendangmu menjadi dua.’ Aku mengikuti perkataannya maka aku dijuluki dzaatun nithaaqain.” (HR. Bukhari).

Asma’ binti Abu Bakar adalah wanita teladan dalam kedermawanan, kemurahan, kemuliaan dan kerelaan berkorban. Sebagaimana dituturkan oleh Muhammad bin Munkadir, ‘Asma’ binti Abu Bakar radhiallaahu ‘anhuma adalah wanita yang sangat pemurah dan dermawan.

Asma’ menasihati para wanita, “Berinfaklah kalian dan bersedekalah! Jangan kalian menunggu berlebihnya uang. Jika kalian menunggu kelebihan harta niscaya kalian takkan memiliki kelebihan sedikit pun. Sedangkan jika kalian menyedekahkan maka kalian takkan merasa kehilangan harta itu.”

Dari Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata, “Jika Asma’ merasa berdosa, dia meletakkan tangannya di kepala seraya berkata, ‘Dosaku dan yang diampuni Allah itu lebih banyak lagi’.”

Begitulah sebaiknya seseorang memperhatikan dirinya secermat mungkin, mengakui dosanya, tidak merasa puas dengan amalannya. Inilah jalan untuk menambah kebaikan dan ketaatan kepada Ar-Rahman. Seharusnya seorang muslim tidak memandang dirinya dengan pandangan takjub dan ridha. Jangan sampai dia menoleh kepada perbuatan dosa dan maksiat. Jangan memperbanyak kejahatan setelah ketaatan! Inilah kebinasaan yang jelas. Jauhilah ujub dan kekaguman terhadap diri sendiri. Hendaklah kita merenungkan!

 

Penulis: Oliver Al-Qori’

Editor: UmmA

Refrensi:

https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com

Abu Salsabil Muhammad Abdul Hadi. 2011. Wanita-Wanita Mulia di Sekitar Nabi. Sukoharjo: Arafah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here