Ketika Dia Bertanya tentang Lubang Kelahiran

0
270 views

 Kiblatmuslimah.com – Saat adek bayi yang sudah hampir 9 bulan sedang menendang perut sang ibu, saya mengajak Faruq untuk menyentuh dan menyapa calon adiknya. Saat itu ia bertanya.

Faruq: ”Ummi, di mana sih lubang kelahiran itu?”

Beberapa tahun lalu mereka pernah bertanya sebelumnya dari mana bayi keluar, lalu saya menjawab dari lubang kelahiran. Saat ini pertanyaannya bertingkat, di mana itu lubang kelahiran. Dengan santai saya menjawab,

Ummi: ”Di daerah aurat utama Ummi.” (saya terbiasa menyebut bagian tersebut sebagai aurat utama yang harus ditutupi)

Faruq: ”Di tempat keluar pipis?”

Ummi: “Bukan, tempatnya berbeda.”

Faruq: “Di sebelah mananya? Kan ada tempat pipis, terus di belakang kan ada tempat BAB. Di sebelah mananya? On the middle?”

Ummi: “Ya!”

Kemudian kakak-kakaknya ikut bergabung dan mendengarkan dengan penuh penasaran.

Faruq: “Aku pernah liat gambarnya di dokter waktu Ummi periksa. Tapi gambarnya kartun. Ada kepala bayi keluar. Di sini ada penisnya, terus ada tempat keluar bayi. Terus ada tempat buat BAB.”

Shiddiq: “No, perempuan itu gak punya penis.”

Ummi: ”Ya untuk perempuan, aurat utamanya disebut vagina.”

Faruq: ”Oh iya, iya itu maksudnya. Aku lihat di dokter dia gak muncul kaya anak laki-laki. Ada garis, terus tempat adik bayi. Terus ada tempat BAB. Cuma garis aja.”

Faruq: ”Ummi, lubang kelahiran itu besar gak sih?”
Ummi: ”Gak besar, kecil. Tapi atas izin Allah, ia dapat membesar saat ibu melahirkan bayi. Tapi beberapa ibu harus dijahit setelah melahirkan karena ada perobekan.”

Faruq: ”Ummi dijahit waktu melahirkan Shiddiq, Faruq, dan Fatih. Kecuali Teteh, Ummi dijahit pada bagian perut karena Teteh dioperasi. Tidak lahir melalui lubang kelahiran.”

Faruq: ”Sakit gak, Mi?”
Ummi: “Harusnya sih sakit. Tapi karena Ummi bahagia dan lega adek bayinya sudah lahir, jadi gak kerasa. Karena melahirkan bayi itu jauh lebih sakit.”

Faruq: “Terus kalau melahirkan lagi, dijahit lagi? Kalau bayi dah lahir terus ibu hamil lagi, gimana dong? Masa dijahit lagi?”

Ummi:  “Ya kan hamil bayi butuh 9 bulan. Jadi insya Allah jahitan lama sudah sembuh.”

Faruq: “Ooooh”

Ada banyak kesempatan emas yang bisa kita manfaatkan untuk mengajarkan anak tentang sains sebagai bukti kekuasaan Allah. Salah satunya saat anak bertanya atau tidak sengaja melihat fenomena sesuatu. Jangan lewatkan kesempatan emas yang mungkin tak akan terulang kembali.

Jangan pernah memberikan jawaban asal yang tidak ilmiah kepada mereka hanya karena saat ini mereka masih kecil. Kemas kalimat, sederhanakan jawaban. Beri jawaban secara umum atau minta mereka bersabar saat kita benar-benar perlu menundanya. Jangan pernah berbohong saat menjawab mereka. Namun, bijaklah dalam menyimpan atau membuka informasi. Selamat menjelajahi dunia anak yang penuh tanya.

 

 

Sumber:

Barkiah, Kiki. 2017. Satu Atap Lima Madrasah. Mastakka Publishing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here