Awal Kerjasama Perancis dengan Nushairiyah Alawiyah di Bumi Syam

0
229 views

Kiblatmuslimah.com – Pada tahun 1920, Perancis menyerang negeri Syam. Mereka mengambil kesempatan untuk meminta bantuan kepada Nushairiyah, Sang pengkhianat Islam. Perancis mendekati Nushairiyah dan menawarkan iming-iming menggiurkan.

Sulaiman Al-Mursid, seorang Nushairiyah, mengaku dirinya sebagai Tuhan. Seorang Jendral Perancis memberikan bantuan kepadanya dengan memberikan sarana pendukung untuk mengelabui pengikutnya.

Ia mengatasnamakan dirinya sebagai Rasul dengan nama Sulaiman Al-Maidah. Ia muncul di hadapan pengikutnya dengan mengenakan pakaian yang dihiasi kancing listrik menyala-nyala. Hal ini dimaksudkan agar para pengikutnya tunduk bersujud kepadanya.

Az-Zarkali berkata dalam kitabnya “Al-A’lam” yang dikutip oleh Syaikh Abu Mus’ab As-Suri dalam kitabnya “Rezim Nushairiyah”: Sulaiman bin Mursyid bin Yunus adalah seorang ‘Alawi Nushairiyah. Ia mengaku sebagai Tuhan di desa Jubah Barghal, sebelah Timur Latakia dan mendapat julukan Ar-Rabb.

Kemudian diasingkan hingga tahun 1925. Ia kembali dari tempat pengasingan dan menjadi pemimpin bagi kelompok Nushairiyah. Mereka adalah kelompok Bathiniyyah yang menuhankan Ali dan meyakini hulul.

Setelah kembali dari pengasingan, revolusi melawan Perancis di Suriah pecah. Akhir dari revolusi yaitu terbentuknya pemerintahan nasionalis yang sedikit memiliki kemandirian internal.

Perancis kembali membujuknya untuk memanfaatkan kekuasaannya, membentuk sistem khusus negara Nushairiyah. Kekuasaannya semakin besar dan kuat. Hingga ia diberi julukan Rois As-Syab Al-Alawi Al-Haidari Al-Ghassani.

Pada tahun 1938 ia mengangkat para hakim dan tentara berani mati. Tentara berani mati ini diberi seragam khusus militer. Selain itu, ia juga mewajibkan pajak bagi setiap desa yang bergabung bersama mereka.

Mereka juga mengeluarkan keputusan yang berbunyi, “Karena pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah nasional dan rakyat Sunni terhadap rakyat kami, maka saya membentuk pasukan untuk melawan pelanggaran tersebut yang terdiri dari tentara berani mati dan para panglima”

Setelah Suriah merdeka dan Perancis melangkah kaki keluar dari negeri Syam, Perancis memberikan beberapa peninggalan. Peninggalan tersebut berupa senjata-senjata yang dimaksudkan untuk mendorong mereka agar jiwa memberontaknya berkobar.

Namun pemerintah Suriah mengetahui hal tersebut. Kemudian pemberontak ditahan. Pada tahun 1946, para tahanan dieksekusi dengan hukuman gantung di Damaskus.

Setelah Sulaiman Al-Mursyid dieksekusi, mereka menuhankan anaknya yang bernama Mujib Al-Mursyid. Pada akhirnya, Mujib Al-Mursyid juga dibunuh. Nama Mujib Al-Mursyid ini dijadikan sebagai lambang kesucian di kalangan Nushairiyah. Biasa disebut Mujib Al-Akbar dan dicantumkan dalam doa-doa khusus dengan sebutan Tuhan.

@daffa.an-nuur

Syaikh Abu Mus’ab As-Suri. 2013. Rezim Nusairiyah: Sejarah, Aqidah dan Kekejaman terhadap Ahlu Sunnah di Syiria. Solo: Jazeera.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here