Kenapa Anak Bohong?

0
127 views

Kiblatmuslimah.comDunia anak bisa dikatakan dunia yang sulit ditebak dibandingkan dengan orang dewasa. Tidak sedikit dari orang tua kurang bisa memahami celotehan anak. Bingung mana yang benar-benar imajinasi atau hanya sekedar bohong belaka. Untuk itu sebagai orang tua perlu jeli, sehingga respon yang diberikan tepat dan tidak membiarkan bibit kebohongan tertanam dengan baik di benak anak.

Penyebab Kebohongan Anak

  1. Haus pujian

Ada anak-anak yang berbohong karena ingin dipuji. Pendorongnya adalah naluri yang egosentris, cinta diri. Jika diarahkan dengan benar, naluri haus pujian ini akan berangsur hilang sesuai perkembangan usia dan kepribadian anak.

Orang tua harus mencari sebanyak mungkin kebaikan-kebaikan yang diperbuat anak dan segera memberikan pujian. Anak dibebani tugas-tugas yang menantang, tetapi tetap sesuai dengan kemampuannya. Maka, pujian pantas diberikan kepadanya apabila tugas-tugas itu dapat dilakukannya dengan baik.

Mendapatkan pujian adalah kebutuhan naluri anak. Orang tua tak perlu mengekang kebutuhan ini selama ditempatkan secara benar. Apabila kebutuhan ini tidak tercukupi, sangat besar kemungkinan anak berbohong, membaik-baikkan dirinya sendiri di depan orang tuanya, karena haus akan sanjungan dan pujian.

  1. Dunia fantasi

Dunia anak adalah dunia dongeng, seribu satu malam. Bagi mereka, dongeng menjadi cerita tentang keadaan ideal yang seharusnya terjadi. Tokoh dalam dongeng pun sering kali sekaligus menjadi tokoh idola mereka. Pikiran-pikiran mungil mereka sangat mudah terpengaruh dongeng-dongeng ini dan besar kecenderungan untuk meniru tokoh idolanya.

Itu sebabnya dongeng yang diperdengarkan bagi anak-anak haruslah terseleksi secara benar. Jangan sampai menjadi penyebab kebohongan mereka. Dalam Islam terdapat banyak sekali kisah-kisah kepahlawanan, ksatria, dan teladan yang baik. Maka cukup bagi anak-anak kisah-kisah teladan ini. Cerita dongeng serta mitos yang dipercayai oleh masyarakat boleh-boleh saja diceritakan kepada anak, tetapi tetap dengan memberi pengertian tentang nilai fiksinya, yang tak perlu dipercayai kebenarannya.

  1. Imajinasi

Kebohongan tentang kejadian-kejadian yang tak masuk akal pun sering terlontar dari mulut si kecil. Bualannya tentang pohon yang berjalan sendiri atau tentang hewan raksasa yang menakutkan adalah refleksi dari imajinasi dan olah pikiran bawah sadarnya.

Anak memang belum bisa membedakan yang khayal dan bukan. Orang tua perlu menghargai imajinasi ini. Jangan menghina, mencemooh atau meremehkan imajinasinya. Tumbuhnya orang kreatif yang memiliki ide-ide brilian, berawal dari masa kanak-kanak yang kaya akan imajinasi.

Yang harus dilakukan adalah memberi pengertian kepada anak sedikit demi sedikit, mana yang imajinasi dan sebenarnya. Jangan semata berdiam diri atau bahkan menganggukkan kepala tanda setuju dengan cerita-cerita khayal itu. Kelak, anak perlu mengerti batas antara dunia imajinasi dengan nyata.

  1. Pahitnya kejujuran

Seharusnya orang tua mampu berlapang dada untuk mendengarkan hal-hal yang pahit dari kejujuran. Namun, hal itu jangan sampai menjadikan kita kesal sehingga memberi kesempatan anak untuk berbuat dusta gara-gara kita ingin ia mengatakan sesuatu yang menyenangkan orang tuanya.

Jangan sampai anak terdorong untuk mengatakan sesuatu yang mereka sendiri tidak menyukainya. Pengaruh dari perkataannya yang jujur terhadap kita; merupakan suatu hal yang menyadarkannya bahwa semua kebaikan itu terletak pada kejujuran.

Mereka yang terhukum akibat perkataannya, akan terdorong untuk terus melakukannya demi membela diri agar tidak terkena hukuman. Sudah sepantasnya bila setiap kejujuran yang dikemukakan anak dibanggakan oleh orang tuanya. Sepahit apapun kejujuran itu. Bahkan sekalipun mereka salah dalam kejujuran itu. Tentu yang dibanggakan bukan kesalahannya, tetapi keberaniannya mengaku salah.

  1. Menyembunyikan kesalahan

Tidaklah patut orang tua mencari pengobatan terhadap kesalahan anak-anak dengan perlakuan keras, hukuman berat, ejekan, atau dengan menyiar-nyiarkan kesalahan. Akibatnya akan terlalu fatal bagi perkembangan jiwa anak. Namun, bukan berarti tak ada hukuman sama sekali. Pemberian kasih sayang harus tetap seimbang dengan ajakan disiplin.

Imitasi Kebohongan

Anak seorang penipu mempunyai peluang besar menjadi penipu juga. Ini sangat mudah terjadi, kalau orang tua tidak berhati-hati dalam mendidik anak. Sifat khas seorang anak adalah perilaku imitasi. Hampir semua pelajaran kehidupan ini diperoleh dari tindakan peniruan.

Sia-sialah nasihat seorang ayah kepada anaknya untuk berkata jujur. Kalau seusai memberi nasihat, ketika ada orang mengetuk pintu, sang ayah berkata, “Bukakan pintu! Kalau Pak Rahmat yang datang, katakan Ayah tak ada di rumah.”

Kebohongan ini barangkali dianggap sepele oleh ayah, tetapi sangat berarti bagi anak. Jangan lupa, tindakan ayah itu lebih menarik untuk dituruti, daripada melakukan yang diceramahkannya.

Bahkan, berbohong demi ‘kebaikan’ pun sebaiknya dihindari. Ada kemungkinan anak belum bisa membedakan mana tujuan baik dan buruk. Ia hanya mengambil kesimpulan secara garis besar dari tingkah laku orang tuanya bahwa berbohong itu sekali-kali boleh dilakukan.

Misalkan, ayah yang tidak sakit tetapi mengatakan sakit agar mendapat uang berobat dari perusahaan untuk membeli beras. Boleh jadi anak tidak peduli tujuannya demi kebaikan atau bukan. Pokoknya ternyata kadang-kadang boleh juga berbohong.

Perhatian Negatif

Ketika anak pulang dari sekolahnya, langsung disambut ibu dengan berondongan pertanyaan. Apakah ia menangis di sekolah? Apakah ia memukul temannya? Apakah ia membantah perintah guru? Apakah ia berjalan di tepi? Sebagainya. Yang menjadi pusat perhatian ibu adalah laporan-laporan negatif. Ini karena ibu dibayang-bayangi kekhawatiran anaknya akan berbohong. Yang lupa ditanyakan adalah perbuatan baik anak dan tak pernah mendapat pujian dari ibu.

Janganlah orang tua lupa bahwa anak tetap mempunyai keinginan untuk dipuji. Maka, berikanlah pujian di saat ia memang pantas dipuji dan berikan peringatan manakala ia melakukan kesalahan. Katakanlah salah kalau ia salah. Tetapi jangan lupa, anak akan bisa memilih yang benar dalam tindakannya dan berusaha mengubah yang salah.

Sikap adil dari orang tua ini dengan sendirinya akan menjauhkan anak dari kebohongan. Di sini peran orang tua sangat penting dalam mengarahkan kecenderungan berbohong yang merupakan naluri anak. Agar kelak anak-anak kita tidak merugi di akhir nanti.

Penulis: Haura’

Penyunting: UmmA

Sumber: Istadi, Irawati. 2008. Mendidik dengan Cinta. Jakarta: Pustaka Inti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here