Kemegahan Istana Al-Hamra

0
157 views

Kiblatmuslimah.com – Alkisah sebelum membangun istana ini, Sultan yang baru pulang dari suatu peperangan, membawa kemenangan. Sultan dielu-elukan rakyatnya, “Al-Ghaalib (sang penakluk)”, seru umat Islam di tepi kota Granada saat itu. Namun Sultan tak lantas bersikap jumawa, seketika beliaupun membalas, Wa laa ghaaliba illallaah (tiada penakluk yang paling berkuasa kecuali Allah).” Beliau ingin menasihati rakyatnya bahwa bukan sebab kejayaan Islam sehingga istana itu hendak dibangun, namun semata-mata karena kekuasaan Allah.

Diambil dari kata Al-Qal’ah Al-Hamraa’ yang bermakna ‘benteng merah’. Demikian sebagian pendapat sejarawan sebagai asal dari penamaan istana ini. Sebab ia berwujud benteng dan sebuah istana berwarna merah, berdiri di atas tanah merah, 150 meter di atas kota Granada. Istana dan benteng ini memang terletak di atas bukit di lembah Pegunungan Sierra Nevada, Granada. Salah satu kota di Andalusia (Spanyol).

Ada pula yang berpendapat bahwa nama istana ini diambil dari nama dinasti pendirinya, Dinasti Bani Al-Ahmaar yang dibangun selama hampir 100 tahun (636-734 H/1238-1333 M). Pendiri dinasti ini adalah Sultan Abu Al-Hajjaj Yusuf bin Al-Ahmar, anak keturunan dari Sa’ad bin ‘Ubadah (Shahabat Rasul dari suku Khazraj di Madinah-Kaum Anshar).

Setidaknya ada 7 bangunan utama, sedang 3 ruangannya menunjukkan megahnya istana ini. Yang pertama adalah ‘Ruang Peradilan’, berbentuk bujur sangkar dengan hiasan lambang tangan yang tengadah ke langit dan di sampingnya ada gambar anak kunci – simbol bahwa keadilan adalah jalan kebahagiaan dunia akhirat. Ruangan ini dilengkapi dengan mushala dan mihrab. Sebab sebelum menjatuhi hukuman di ruang peradilan, mereka terlebih dahulu melaksanakan shalat.

Bagian kedua adalah ‘Taman Singa’, taman terbuka berbentuk persegi panjang  yang dikelilingi 127 tiang marmer dan beralaskan marmer. Di tengah ruangan ada pancuran air bertingkat dua dari marmer biru yang disangga oleh 12 singa. Menurut penuturan Budi Ashari, pakar sejarah dan pendidikan Islam pendiri Kuttab Al-Fatih, 12 patung ini mengeluarkan air sesuai dengan jamnya. Jika jam 1 maka hanya 1 patung singa yang memancarkan air, begitu seterusnya.

Termasuk salah satu teknologi canggih dari peradaban Islam, saat ini tidak ada yang bisa menyamai. Terbukti ketika sebuah penelitian mencoba membuka isi dari patung singa tersebut untuk mencari tahu penggerak air yang mampu keluar tepat waktu, namun gagal menemukannya. Bahkan tak mampu mengembalikan bentuknya seperti semula. Istilah jawanya, “iso bongkar, ora iso balekke” (bisa membuka tapi tak bisa mengembalikan seperti semula).

Di dasar pancuran terdapat tulisan berbahasa Arab, kutipan syair dari Ibnu Zamrak yang artinya, “Dengan rahmat Allah, di taman ini bukankah kita dianugerahi keindahan sebagaimana Allah menghendakinya?”.

Adapun ruangan paling megah adalah ‘Ruang Para Duta Besar’ yang berwarna kuning, terletak paling atas, dihiasai dengn kubah melengkung dengan 126 motif ukiran artistik sebagai ruang tamu istana. Ada pula bagian lain yakni masjid yang terletak di dalam istana.

Keindahan jejak peradaban Islam tak mampu bertahan lama. Sejurus setelah Granada jatuh tahun 1492 M, istana ini terabaikan dan mengalami perombakan. Ada yang dirubah dengan gaya eropa dan beberapa tiang dirobohkan. Istana tambahan yang dibangun namun tak berhasil diselesaikan. Hingga akibat dari gempa bumi.

Oleh: A. Madjid

Sumber: Ahmad Rofi’ Usmani. 2016. Jejak-Jejak Islam. Yogyakarta: Penerbit Bunyan. Hlm: 25-26.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here