Keluarga Pah(a)lawan

0
153 views

Kiblatmuslimah.com – “Bertakwalah engkau dimana saja berada dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik. Niscaya perbuatan baik akan menghapus perbuatan buruk dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”

Dalam web KBBI, definisi pahlawan masih kental kesannya dengan masa perjuangan kemerdekaan. Pejuang, pembela kebenaran, gagah berani, adalah kata sifat yang senantiasa menyertai figur yang disebut pahlawan. Dengan tambahan kata ‘menonjol’. Jadi dalam KBBI, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran.

Semakin ke sini, ke arah zaman yang lebih ‘baru’, saat penjajahan telah (diklaim) dihapuskan, definisi pahlawan belum berganti. Masih mengacu kepada pribadi yang pemberani, rela berkorban dan aktivitasnya tak jauh dari membela dan memperjuangkan kebenaran. Hanya saja, konteks kebenaran di masa sekarang sudah mengalami pergeseran.

Jika di zaman penjajahan, kebenaran adalah kemerdekaan dari penjajahan. Maka di zaman sekarang, definisi kebenaran akan sangat bervariasi tergantung yang memiliki kepentingan. Nah! Maka tak jarang kita temui, kemunculan pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa. Ada yang merintis kebersihan, mengolah  limbah dan rutin sepulang kerja menyendok sampah yang menutupi permukaan sungai di kampungnya.

Ada pula yang menyelenggarakan pendidikan gratis untuk anak jalanan dan menciptakan teknologi baru yang membantu orang-orang di sekitarnya. Pada akhirnya, orang-orang tersebut meski tidak menonjol, tak banyak dikenal dan dielu-elukan orang, layak pula digelari pahlawan sebagaimana definisinya.

Lalu bagaimana dengan kita, wahai orang tua yang mempunyai tekad dan cita-cita meninggikan Islam? Bagaimana kita patuh  terhadap firman-Nya,  “Janganlah kalian meninggalkan generasi yang lemah di belakang kalian, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. An Nisa: 9)?

Generasi yang secara khusus telah Allah amanahkan kepada kita adalah anak-anak sendiri. Kuat lemahnya mereka, menjadi tanggung jawab kita. Maka Rasulullah telah membagikan kiat-kiat yang mujarab sebagai acuan untuk kita—para orang tua—agar jangan sampai meninggalkan generasi dalam kondisi lemah tak berdaya.

Pertama, bertakwa kepada Allah dimanapun berada. Mahasuci Allah dari sifat lengah dan tidak mengetahui. Maka, mengenalkan anak kepada Allah sebagai Rabb dan Ilah adalah hal pertama dalam pendidikannya. Membiasakan kalimat thayyibah dan mengajarkan doa sehari-hari adalah beberapa upaya yang bisa kita lakukan agar anak memiliki rasa tergantung kepada Allah.

Kedua, mengiringi keburukan dengan kebaikan. Betapa Allah Mahaadil. Dengan adanya potensi fasad dalam diri manusia, tak terhitung banyaknya kesalahan yang kita perbuat. Tapi alhamdulillah perbuatan baik yang kita lakukan setelahnya, Allah kehendaki dapat menghapus keburukan sebelumnya. Bayangkan jika tidak ada kemurahan dan keadilan Allah! Jika pahala dan dosa dihitung dengan matematika dunia, tentunya tak satupun manusia selamat dari azab.

Ketiga, mempergauli manusia dengan akhlak yang baik, dalam hal ini berupa perkataan dan perbuatan. Tutur kata yang sopan dan baik, sudah mulai berkurang pembiasaannya di negara ini. Adanya media elektronik dengan berbagai tayangan yang kurang bermanfaat, menjadi salah satu sumber anak-anak mendapatkan perbendaharaan kata yang kurang baik.

Selain itu, media pula yang ‘menyosialisasikan’ perilaku kurang sopan melalui film, iklan dan sejenisnya sehingga masyarakat terlanjur menjadikannya pemandangan yang lumrah. Lantas hilang kepekaan masyarakat, khususnya orang tua dalam mengajarkan akhlak karimah kepada putra-putrinya.

Masih ingat, tokoh masyarakat nonmuslim—figur pemimpin—yang sebelum ini menghina ayat Al-Qur’an? Betapa ia dibela dan dielu-elukan masyarakat, bahkan oleh mereka yang beragama Islam. Meski seringkali berkata dan bersikap kasar? Itulah, ketika kemungkaran dibiarkan maka kerusakan akan terjadi. Jika penumpang kapal acuh ketika salah seorang penumpang melubangi lambung kapal maka semua orang di dalamnya turut tenggelam.

Semoga kita sebagai orang tua muslim senantiasa peka dalam membiasakan akhlak karimah bagi diri pribadi, pasangan, dan anak-anak.

Semoga dengan melazimi ketiga kiat di atas, membuat kita sekeluarga fokus meraih keridhaan Allah tanpa perlu risau dan berharap berlebih terhadap penilaian dan gelar yang disematkan manusia.

*MuHa

Previous articlePenantian….
Next articleMewariskan Kesalehan
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here