Kecewa pada Sekolah?

0
137 views

Kiblatmuslimah.com “Saya kecewa deh sama SD anu, masak anak saya sudah kelas 2 ga bisa apa-apa”.

“Sekolahin anak di SDIT supaya agamanya bagus. Eehh, disuruh shalat aja susahnya minta ampun.”

“Katanya sekolah Islam tapi kok akhlak murid-muridnya sama aja dengan sekolah umum.”

 

Kerap kali saya mendengar keluhan para orang tua seperti di atas. Mereka yang memilih untuk menyekolahkan anak-anaknya di lembaga pendidikan Islam, kebanyakan memang berharap penuh kepada sekolah. Mereka menginginkan setelah sekolah di lembaga tersebut anak-anak seketika akan berubah menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah.

 

Instan, kilat. Begitulah yang ada di pikiran saya. Seperti saat kita hendak makan mi. Tinggal cemplung mi. Tidak sampai 5 menit kemudian, mi rebus nan lezat siap disantap. Atau karena kita memang sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang serba instan? Mi instan, bubur instan. Belanja pun bisa instan. Tinggal klik, tidak perlu repot naik angkot ke pasar, barang yang kita butuhkan akan sampai ke rumah dengan cepat.

 

Tapi masa sih urusan mendidik anak mau kita samakan dengan mi rebus? Tinggal masukkan ke sekolah Islam favorit dan taraaaa…. Anak akan berubah menjadi shalih, rajin ibadah, berbakti pada orang tua dan seabrek kebaikan lainnya. Kalau saja bisa seperti itu, gampang bener dong ya urusan kita jadi orang tua.

 

Ibu tinggal menyiapkan kebutuhan makannya, bawa bekal apa besok atau kalau di sekolah sudah dapat makan lebih santai lagi dong ya para ibu. Ayah biar saja seharian bekerja, kan bayaran sekolah Islam yang bagus itu mahal. Kalau perlu pergi pagi, pulang malam. Tambah hari libur jadi ojek online sebagai sampingan.

 

Pertanyaannya nanti di akhirat kira-kira yang diminta pertanggungjawaban atas anak-anak, orang tuanya atau gurunya? Kalau anak-anak kita betul-betul jadi anak shalih shalihah kira-kira yang kebagian pahalanya siapa? Orang tua atau gurunya? Anak-anak kita tahu tata cara shalat dari gurunya. Pertama kali kenal huruf hijaiyah dari gurunya.

 

Surat Al Fatihah yang akan dia baca minimal 5 kali setiap hari, gurunya juga yang mengajarkan. Kalau begitu ceritanya lantas kita, orang tuanya dapat apa? Relakah kita semua pahala yang akan mengalir terus itu, didapat oleh gurunya? Sesungguhnya kita lupa bahwa anak-anak itu adalah aset kita yang utama. Untuk di dunia terlebih di akhirat.

 

Satu lagi cerita miris menurut saya, kisah seorang teman yang anaknya baru mendapatkan haidh pertamanya. Si teman cerita, “Anakku lagi haid kok puasa sama shalat, emang ga diajarin apa di sekolahnya? Setelah bersih haid, mandi rambutnya ga basah? Emang ga diajarin di sekolah? Padahal sekolah Islam tapi gitu aja kok ga tau.”

 

Jedeerr, rasanya pengen muntah di wajahnya. Helooo Jeengg.... Dia anakmu, tanggung jawabmu, harusnya urusan itu adalah urusanmu. Kamu yang seharusnya mengajarkan dia cara mandi junub. Sebelum masa baligh itu tiba, sepatutnya ibu mendampinginya menjawab semua pertanyaannya.

 

Itu baru urusan mandi, belum lagi masalah perubahan fisik dan psikisnya. Masa kamu tega membiarkan anakmu dengan malu-malu bertanya pada gurunya. “Bu guru, kenapa dadaku sakit dan tiba-tiba membesar? Kenapa tumbuh rambut di kemaluanku?” Syukur kalau dia tanya sama guru perempuan, kalau dengan guru laki-laki?

 

Lalu setan merayu si Pak guru misalnya, minta anak perempuanmu perlihatkan dadanya yang membesar itu? Bagaimana? Saya yakin kamu pasti akan meraung-raung ke kantor polisi, woro-woro di media sosial mengatakan seorang oknum guru telah melecehkan anakmu. Tanpa kamu menyadari bahwa semuanya berawal dari ketidakpedulianmu.

 

Mungkin kita sebagai orang tua lebih banyak lupa dan harus lebih sering diingatkan akan hadits di bawah ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau adalah pemelihara dan setiap engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai tanggung jawab pemeliharaannya. Seorang pemimpin adalah pemelihara, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai tanggung jawab pemeliharaannya. Seorang laki-laki juga pemelihara dalam keluarganya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai tanggung jawab pemeliharaannya. Juga eorang perempuan adalah pemelihara dalam rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai tanggung jawab pemeliharaannya. [HR. al-Bukhâri]

 

Kitalah sebagai orang tua yang akan dimintai pertanggungjawaban atas anak-anak kita di akhirat kelak. Bukan gurunya. Bukan sekolahnya. Anak-anak ibarat benih yang sedang kita tanam. Saat tiba masanya nanti, apa yang ditanam itulah yang akan kita tuai. Boleh saja kecewa pada sekolah, tapi bukankah sebaiknya kita harus terlebih dahulu kecewa pada diri sendiri?

 

Penulis: Putri Samawiy

Editor: UmmA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here