Jejak Kartosuwiryo

0
186 views

Kiblatmuslimah.com – Kartosuwiryo mempunyai nama lengkap Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, merupakan orang kepercayaan H.O.S. Cokroaminoto. Kartosuwiryo merintis karir politiknya di Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII). Kemudian pada Desember 1927, Kartosuwiryo terpilih sebagai Sekretaris Umum (kini Sekjen) Partai Syarekat Islam Hindia Timur (PSIHT).

Di samping bekerja sebagai sekjen, Kartosuwiryo yang lahir tanggal 1 Februari 1905 dan menjabat saat berumur 22 tahun, juga bekerja di bidang jurnalistik sebagai redaktur “Fajar Asia”, surat kabar harian yang dikelola oleh partai.

Kartosuworyo mulai menulis artikel yang mula-mula ditujukan kepada penguasa kolonial, kemudian juga untuk para bangsawan Jawa. Tulisan artikelnya begitu tegas. Seperti saat beliau mengkritik Sultan (seharusnya: Sunan, SIN) Solo, sewaktu merayakan HUT-nya yang ke-64 dengan hanya mengundang wartawan Belanda.

Inilah tulisan Kartosuwiryo tentang Sunan, “Rasa kebangsaan ta’ada; ke-Islaman poen demikian poela halnja, kendatipoen ia menoeroet titelnja mendjadi kepala agama Islam. Bangsanja dibelakangkan dan bangsa lain diberi hak jang lebih dari batas…..Jang soedah terang dan njata ialah: Boekan karena tjinta bangsa dan tanah air,…melainkan karena keperloean diri sendiri belaka, keperloean jang bersangkoetan dengan kesoenanannja.” (SM. Kartosuwiryo, Sambil Laloe, Fadjar Asia, 16.1.1929)

Tulisan Kartosuwiryo tentu saja menyebabkannya mendapat banyak musuh, baik dari kalangan penguasa maupun para bangsawan, terutama dari golongan kaum nasionalis sekuler. (Keterangan Ny. Siti Dewi Kalsum, istri kedua Kartosuwiryo, di Malangbong, Mei 1983. Dr. Holk H. Dengel, h.11)

Kartosuwiryo cukup kontroversial di negara Indonesia. Beliau bercita-cita untuk perjuangan Islam setelah melihat kondisi serta peta politik saat itu. Negara Islam memang merupakan puncak cita-cita Kartosuwiryo yang hendak dicapainya dengan gagah berani.

Pada tahun 1930 Kartosuwiryo mempunyai konsep “hijrah” berdasarkan tafsir Sirah Nabawiyah. Hijrah metode Kartosuwiryo yaitu metode yang berusaha membentuk komunitas sendiri tanpa kerja sama dan aktif berusaha untuk melawan kekuatan penjajah. Namun akhirnya metode hijrah dikecam oleh Agus Salim, karena rakyat/anggota politik hanya boleh mengetahui mekanismes organisasi tanpa mengetahui konstelasi politik, sehingga menjadikan perpecahan di PSII.

Konsep hijrah ini dipakai Soekarno agar terkesan Islami saat memindahkan semua pasukan ke Yogyakarta, sebagai pelaksanaan perjanjian Renville. Tetapi Kartosuwiryo dan pasukannya menolak pindah ke Yogyakarta dan tetap mempertahankan wilayah Jawa Barat.

Akhirnya tahun 1949 berdirilah Negara Islam Indonesia. Menggunakan metode “hijrah”, ternyata sangat efektif dalam strategi perjuangan. NII diproklamasikan di bawah bendera Bismillahirrahmanirrahim. Inilah fakta yang banyak terlewatkan, memunculkan anggapan bahwa berdirinya Negara Islam Indonesia berarti mendirikan negara di dalam negara, karena proklamasi RI pada tahun 1945 lebih dahulu dilakukan.

Sebenarnya jika memahami sejarah, maka kedudukan Negara Islam Indonesia dan RI adalah negara dengan negara (Irfan S. Awwas, Jejak Jihad S.M. Kartosuworyo, Pengantar penulis, h.35).

Sejarah perkembangan politik Islam yang terjadi saat itu akhirnya direkayasa dan dimanipulasi sampai hal sekecil-kecilnya. Termasuk perjuangan dan pribadi S.M. Kartosuworyo; data keluarga dan tanggal lahir. Hingga masyarakat tidak ingat Kartosuwiryo dan Negara Islam Indonesia.

Kartosuwiryo memperjuangkan Darul Islam (NII) yang dicetuskannya di Jawa Barat. Kemudiam ditangkap oleh pemerintah Soekarno, diadili bulan Agustus 1962 dan dieksekusi bulan September 1962.

Di hari-hari terakhir sebelum eksekusi mati, Majalah Tempo 1983 memuat kisah seorang petugas eksekusi S.M. Kartosuwiryo. Ia menggambarkan sikap ketidakpedulian Kartosuwiryo atas keputusan yang ditetapkan Mahkamah Agung (Mahadper) RI kepadanya. Ia mengatakan bahwa tiga hari sebelum hukuman mati dilaksanakan, Kartosuwiryo tertidur nyenyak. Padahal petugas eksekusinya tidak bisa tidur sejak sehari sebelum pelaksanaan hukuman mati. Dari sini diketahui bahwa Kartosuwiryo dimakamkan di Pulau Seribu.

Referensi: Irfan S. Awwas. 2007. Jejak Jihad S.M. Kartosuwiyo. Yogyakarta: Uswah.

Oleh: Hamamah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here