Ibunda Hajar, antara Iman dan Rasio

0
121 views

Kiblatmuslimah.com – Hajar masih tak mengerti, mengapa Ibrahim tega meninggalkannya di lembah kering di Pegunungan Faran (Hijaz) ini. Tidak ada kehidupan yang tampak, selain teriknya matahari dan fatamorgana di padang pasir sejauh mata memandang itu. Berulangkali ia bertanya, “Mengapa ia harus ditinggalkan begitu saja di tempat asing nan gersang tersebut?”

Meski berjuluk Khalilullah (kekasih Allah), Ibrahim tetaplah seorang suami sekaligus ayah penyayang. Sehingga ia hanya terdiam, tanpa dapat menjawab seluruh “gugatan” sang istri yang berlari membuntuti kepergiannya. Tak sepatah kata pun keluar. Hati perihnya tak mampu menoleh ke arah sosok yang dicintainya itu.

Hingga akhirnya Hajar bertanya, “Apakah Allah yang telah memerintahkanmu akan hal ini?” Ibrahim pun mengangguk tanda mengiyakan. Serta merta Hajar berkata penuh percaya diri, “Jika demikian Allah tidak akan menelantarkan kami.” Masya Allah….

Inilah drama kehidupan terbaik yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia. Sendiri, hanya bertemankan bayi merah di padang tandus, tentu bukanlah sebuah pilihan yang realistis. Bahkan boleh dibilang, terlalu jauh di luar jangkauan akal sehat manusia.

Namun, Ibunda Hajar dengan bahasa imannya mampu mengesampingkan segenap ego. Menukarkan segala bentuk prasangka dan ketakutan dengan keyakinan dan ketaatan. Ucapan tegasnya beribu tahun ke belakang itu, menjadi pelajaran berharga bagi setiap muslimah dalam mengarungi pahit getirnya kehidupan.

Bila kita renungi, kisah Ibunda Hajar sebenarnya selalu terjadi dalam setiap inci sejarah kehidupan manusia. Bahkan Dia terus menanti bukti, siapakah gerangan wanita-wanita yang tetap menggantungkan hatinya ke Langit? Menjadikan Allah satu-satunya pengharapan ketika seluruh isi dunia terasa sempit.

Maka alangkah indahnya kalau semua wanita bisa bercermin pada Ibunda Hajar. Sehingga tak akan ada istri yang mengeluh di beranda facebook karena uang belanja suaminya yang tidak memadai. Tak akan ada istri aktivis dakwah yang menghalangi kepergian suaminya untuk fi sabilillah. Serta tak akan ada lagi istri yang menelantarkan anak-anaknya karena sibuk mengumpulkan rupiah.

Ketika setiap wanita senantiasa mengedepankan iman, Insya Allah akan bermunculan pribadi-pribadi serupa Hajar. Akan semakin banyak wanita yang bisa bersabar dengan segala ujian hidup. Akan semakin banyak wanita yang mampu menjaga lisannya hanya untuk ucapan yang baik dan bermanfaat. Hingga akhirnya setiap suami pun merasa tenang karena para istri menjalankan ketaatan kepada suaminya karena Allah.

Demikian karena ketaatan kepada Allah sering tak dapat dinalar oleh rasio. Hisab-Nya tidak serupa dengan lembar kerja manusia. Bahwa ada Pemilik dari setiap detak kehidupan yang tengah dijalani manusia. Hanya dorongan iman yang mampu menyelesaikannya hingga paripurna.

 

Penulis: Layla

Editor: UmmA

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here