Hutang Ribawi itu Najis

0
184 views

Kiblatmuslimah.com – Geger publik dengan pernyataan Menkeu Sri Mulyani, bahwa hutang itu bukan sesuatu yang najis. Benar jika dikatakan bahwa hutang itu mubah (boleh), jika dilakukan tanpa memungut riba. Tapi hutang akan berubah menjadi haram jika memungut riba.

Pada zaman kapitalisme sakuler sekarang ini, apakah ada negara meminjamkan uang milyaran rupiah tanpa riba? Jelas tidak mungkin, semua negara-negara barat memberikan pinjaman pasti dengan riba.

Sifat dari riba itu bagaikan kolesterol jahat yang siap menyumbat aliran darah yang seharusnya mengalir lancar. Seiring dengan banyaknya kolesterol yang masuk, dikhawatirkan mampu menyebabkan penyumbatan pembuluh darah dan kematian. Hal ini sama seperti ekonomi yang dibangun dengan hutang ribawi, siap-siap suatu saat akan collapse. Jika sudah demikian, pasti negeri tersebut butuh suntikan dana, alias akan hutang lagi dan hutang lagi. Bahkan negeri tersebut bisa sold out jika terus-terusan hutang.

Begitu lantangnya Bu Menkeu menyatakan hutang itu bukanlah sesuatu yang najis. Padahal hutang ribawi termasuk dosa besar, karena lebih besar dari dosa zina. Dalam sebuah riwayat dikatakan, “Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri…..” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Bayangkan dosa paling ringan saja seperti menzinai ibunya sendiri. Dalam riwayat yang lain dikatakan, “Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al-Albani dalam Misykatul Mashabih mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Satu dirham jika dikurskan ke rupiah kurang lebih Rp. 60.000. Ibarat berapa kali berzina jika dosa riba yang dilakukan milyaran rupiah? Jika ada yang berlaku demikian, sebutan apa yang pantas bagi pelaku riba? Bahkan menjerumuskan negaranya pada hutang ribawi.

Waspadalah, wahai kaum muslimin. Ingatlah dengan sebuah hadits yang menyatakan bahwa “Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.” (HR Al-Hakim, Al-Baihaqi dan At-Tabrani).

Oleh sebab itu, sampai kapan negeri ini bergelimang riba? Apakah banyaknya bencana tidak mampu membuat kita untuk segera sadar? Sadar untuk bersegera kembali kepada tuntunan-Nya? Menerapkan syariat Islam secara keseluruhan dalam bingkai sistem warisan Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam.

Oleh: Ika Mawarningtyas, S. Pd.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here