Hikmah Peristiwa Haditsul Ifki

0
136 views

Kiblatmuslimah.com – Kala seseorang merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang membebaskan Aisyah dari tuduhan keji, perasaannya tentu menerawang pada waktu yang dilalui rumah tangga Nabawi dan Abu Bakar. Bagaimana mereka sabar menghadapi terpaan ujian?

Ya, berita miring tentang Aisyah sangat menyakiti Rasulullah. Karena beliau hanya mengetahui yang baik-baik saja tentang istrinya. Namun kenapa orang-orang menebar berita dusta terhadapnya?

Nabi mendengar berita dusta saat tiba di Madinah, setelah mengalahkan Bani Musthaliq. Berita disebarkan orang-orang munafik dan berpenyakit hati. Menebar fitnah padahal tahu kalau mereka berdusta dan mengada-ada. Mereka kira, berita dusta yang disebar ini ringan. Padahal di sisi Allah begitu besar.

Rasulullah menghadapi terpaan ujian keras ini dengan kesabaran yang belum pernah diperlihatkan siapapun. Sebelum maupun setelahnya, dalam sejarah musibah, ujian, dan petaka. Hingga ayat-ayat pembebasan Aisyah dari tuduhan keji turun, 37 malam sejak awal ujian ini menerpa.

Lantas bagaimana dengan kondisi keluarga Abu Bakar? Ummul mukminin Aisyah menggambarkan kondisinya dan kedua orang tuanya di tengah situasi sulit yang melelahkan jiwa dan pikiran. Aisyah menuturkan, “Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang keluarga pun yang mengalami ujian seperti yang dialami keluarga Abu Bakar pada hari-hari itu.”

Ibnu Qayyim menuturkan, “Kenapa Rasulullah tidak bersikap apa pun mengenai Aisyah, menanyakan dan meminta pendapat tentangnya? Padahal beliau adalah orang yang paling mengenal dan tahu kedudukan Allah serta yang patut baginya. Kenapa beliau tidak mengucapkan, ‘Mahasuci Allah, ini kebohongan besar’,” seperti yang dikatakan para shahabat mulia?”

Jawabannya, semua ini termasuk bagian dari kesempurnaan hikmah. Allah menjadikan peristiwa ini sebagai penyebabnya. Juga sebagai ujian bagi Rasulullah dan seluruh umat hingga hari kiamat. Mengangkat derajat sejumlah kaum melalui peristiwa ini, juga merendahkan yang lain. Allah menambah petunjuk dan iman orang-orang yang mendapat petunjuk. Menimpakan kerugian kepada orang-orang zalim.

Kesempurnaan ujian ini mengharuskan wahyu tidak kunjung turun kepada Rasulullah selama sebulan terkait persoalan Aisyah. Gunanya untuk menyempurnakan hikmah yang telah Allah tentukan dan takdirkan. Sehingga muncul dalam bentuk paling sempurna.

Hal ini agar keimanan orang-orang mukmin semakin meningkat, teguh berpegangan pada keadilan, kejujuran, berbaik sangka pada Allah, Rasul-Nya, ahlul bait beliau, dan hamba-hamba Allah yang jujur. Orang-orang munafik semakin berdusta dan nifak, menampakkan segala rahasia yang mereka pendam dalam batin terhadap Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.

Ubudiyah yang diinginkan dari Ash-shiddiqah Aisyah dan kedua orang tuanya mencapai titik kesempurnaan nikmat. Supaya mereka semakin mengiba dan memohon kepada Allah. Merendah, berbaik sangka, dan berharap kepada-Nya. Tidak berharap kepada makhluk. Tidak pula berputus asa mengharapkan pertolongan.

Untuk itu, Aisyah menunaikan hak peristiwa ini dengan sebenarnya. Kala kedua orang tuanya berkata padanya, “Bangunlah dan hampirilah beliau (Rasulullah)!” Aisyah berkata, “Demi Allah, aku tidak mau menghampiri beliau, dan tidak memuji siapapun selain Allah semata yang telah menurunkan pembebasanku.”

Masih ada beberapa hikmah yang diuraikan oleh Ibnu Qayyim dan dapat kita renungi bersama. Karena di balik peristiwa, akan selalu ada hikmah yang tersimpan. Wallahu a’lam bish shawab.

(qonita)

Ref: Syaikh Mahmud Al-Mishri. 2015. Biografi 35 Shahabiyyah Nabi. Jakarta Timur: Ummul Qura. Hal: 176-178.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here