Hasan Al-Bashri

0
190 views

Kiblatmuslimah.com Budak Ummu Salamah istri Rasulullah yaitu Khairah, telah melahirkan seorang bayi laki-laki. Ummul Mukminin hanyut dalam kegembiraan dan wajahnya tampak ceria dan berseri-seri.

 

Dia mengutus seseorang untuk membawa ibu dan bayinya ke rumah selama masa pemulihan pasca melahirkan. Khairah adalah budak yang paling beliau sayangi. Beliau telah rindu menantikan kelahiran bayi pertama dari budaknya itu.

 

Tak lama setelah itu Khairah pun datang dengan menggendong bayinya. Ketika Ummu Salamah memandangnya, beliau langsung menyukai bayi itu karena wajahnya yang tampan dan cerah, menarik hati siapapun yang memandangnya.

 

Ummu Salamah bertanya kepada budaknya, “Sudahkah engkau memberikan nama untuknya, wahai Khairah?” Khairah menjawab, “Belum, aku ingin Anda yang memilihkan nama untuknya sesuka hati.”

Ummu Salamah berkata, ”Kita akan memberi nama yang diberkahi Allah yaitu Hasan.” Lalu beliau mengangkat tangannya untuk mendoakan kebaikan bagi sang bayi.

 

Kebahagiaan atas kelahiran Hasan itu tidak hanya dirasakan oleh keluarga Ummul Mukminin Ummu Salamah saja. Namun juga dirasakan oleh seisi rumah shahabat utama yang juga penulis wahyu Rasulullah, Zaid bin Tsabit. Sebab ayah si bayi, yakni Yasaar adalah budak Zaid bin Tsabit yang paling disayangi dan diutamakan di antara budak yang lain.

 

Hasan bin Yasaar (yang pada akhirnya lebih terkenal dengan sebutan Hasan Al-Bashri) tumbuh di salah satu rumah Nabi. Besar di pangkuan salah satu istri Rasul, Hindun binti Suhail yang lebih sering dipanggil dengan Ummu Salamah.  Adapun Ummu Salamah adalah seorang wanita Arab yang paling sempurna akalnya, banyak keutamaannya dan teguh pendiriannya.

 

Beliau adalah istri nabi yang paling luas pengetahuannya dan banyak meriwayatkan hadits Rasulullah. Beliau meriwayatkan sebanyak 387 hadits. Beliau juga termasuk dari sedikit bilangan wanita di masa jahiliyah yang mampu baca-tulis.

 

Hubungan bayi yang beruntung itu dengan Ummu Salamah tidak hanya sebatas itu. Lebih jauh lagi, karena seringkali Khairah harus keluar rumah untuk mengurus kebutuhan Ummul Mukminin. Sehingga harus meninggalkan bayinya. Bila sang bayi menangis karena lapar, Ummul Mukminin meletakkan bayi itu di pangkuannya, lalu disusui supaya diam.

 

Karena rasa cintanya terhadap bayi itu, Ummul Mukminin bisa mengeluarkan air susu yang kemudian diminum oleh si bayi hingga merasakan kenyang dan diam dari tangisnya. Dengan demikian, kedudukan Ummu Salamah bagi Hasan Al-Bashri adalah sebagai ibu dalam dua sisi. Pertama, karena Hasan Al-Bashri adalah mukmin, sedang Ummu Salamah adalah Ummul Mukminin. Kedua, Ummu Salamah adalah ibu susuan bagi beliau.

 

Anak ini meraih kesempatan emas untuk bergaul dengan istri-istri Nabi. Rumah mereka berdekatan sehingga ia bisa bermain dari satu rumah ke rumah yang lain. Sudah tentu akhlak beliau terwarnai oleh penghuni rumah itu dan mendapatkan bimbingan dari mereka.

 

Seperti yang diceritakan oleh Hasan Al-Bashri sendiri, dia mengisi rumah Ummul Mukminin dengan ketangkasannya yang menyenangkan. Sering dia naik ke atap rumah lalu berpindah-pindah dengan lincahnya.

 

Hasan dibesarkan dalam suasana yang diterangi oleh cahaya nubuwah dan meneguk sumber air jernih (ilmu) yang tersedia di rumah Ummahatul Mukminin. Beliau juga berguru kepada shahabat-shahabat utama di Masjid Nabawi. Beliau meriwayatkan dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah dan lain-lain.

 

Menginjak usia 14 tahun, ketika memasuki usia remaja, beliau berpindah bersama kedua orang tuanya ke Bashrah dan menetap di sana. Dari sinilah muncul julukan Al-Bashri, yang dinisbatkan pada kota Bashrah. Keutamaan beliau mulai dikenal orang-orang Bashrah.

 

Allah memberikan karunia umur kepada Hasan Al-Bashri hingga berusia lebih dari 80 tahun, memenuhi dunia ini dengan ilmu, hikmah dan fikih. Warisannya bagi generasi kini di antaranya adalah kehalusan penyegar jiwa dan nasihat penyentuh hati. Petunjuk bagi yang lalai akan hakikat kehidupan dan dunia serta ihwal manusia dalam menyikapinya.

 

Beliau pernah ditanya oleh seseorang tentang dunia dan keadaannya. Beliau berkata, “Anda bertanya tentang dunia dan akhirat. Keduanya seperti timur dan barat. Bila yang satu mendekat, yang lain akan menjauh.”

 

“Selanjutnya Anda memintaku supaya menggambarkan tentang keadaan dunia ini. Maka aku katakan bahwa dunia diawali dengan kesulitan dan diakhiri dengan kebinasaan. Yang halal akan dihisab dan yang haram akan berujung siksa. Yang kaya akan menghadapi ujian dan fitnah, sedang yang miskin selalu dalam kesusahan.”

 

Adapun jawaban terhadap pertanyaan orang lain tentang keadaannya dan orang lain dalam menyikapi dunia, beliau berkata, “Duhai celaka, apa yang telah kita perbuat atas diri sendiri? Kita telah menelantarkan agama kita dan menggemukkan dunia. Kita rusak akhlak dan perbaharui rumah, ranjang serta pakaian. Bertumpu pada tangan kiri, lalu memakan harta yang bukan haknya.”

 

Sumber: Abdurrahman Ra’fat Basya. 2014. Mereka adalah Para Tabi’in. Solo: At-Tibyan. Hal. 91-99.

Penulis: Peni Nh

Editor: Halimah

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here