Generasi (Tidak) Membaca

0
166 views

Kiblatmuslimah.com – Betapa hebat kuasa Allah dan rencana-Nya sebab memberikan satu awal yang besar untuk dilihat dan diperhatikan. Awal wahyu yang turun, memberi isyarat akan sebuah kejayaan bersyarat. Isyarat untuk sebuah kemulian dengan melihat. Wahyu awal yang turun melalui Jibril kepada penutup para Nabi, membaca.

Sudah sering didengar pembahasan itu serta tafsirannya, walau belum juga diri menerima, mengolah dan mengamalkannya. Karena seringnya ayat ini dibahas, ia sering terlewatkan tanpa satu diskusi di dalam diri apa sebab itu diturunkan, maksud dan tujuan Allah mengatakannya.

Umat Islam tidak membaca. Itu faktanya. Wahyu yang Allah turunkan hanya dibaca tanpa pengamalan. Lihatlah kemudian di kampus-kampus dan perguruan tinggi Islam! Kaum terpelajarnya akan kita dapatkan lebih asyik dengan dunia handphonenya. Perpustakaan tidak didatangi kecuali ada tugas mengharuskan untuk itu. Tugas-tugas yang bisa dikerjakan tanpa melihat buku, dikerjakan dengan mengandalkan mesin pencarian hebat bernama google.

Perpustakaan yang seharusnya menjadi pusat kelimuan kaum terpelajar, terkadang tidak lebih menarik daripada mall-mall (pusat perbelanjaan) yang menawarkan banyak diskon dan harga-harga yang miring. Di sini lain, perpustakaan-perpustakaan kampus tidak mempuyai acara atau kegiatan yang bisa meningkatan minat baca mahasiswa.

Umat ini, umat membaca, tapi kita tidak membaca. Setelahnya, kita mengelu-elukan kemajuan dan peradaban yang hebat. Bukankah itu bak menginginkan sebuah mangga yang telah matang di atas pohon namun tidak mau mengambil galah atau tangga untuk dipanjat dan mengambilnya?

Taklah usah kita terkejut jika seorang mahasiswa Islam, selesai mendapat gelar sarjana Islam namun tidak pernah membaca buku Sirah Nabawiyah karya Syekh Mubarakfuri atau Laa Tahzan karya Syekh Aidh al-Qarni. Yang menjadi pertanyaan lagi adalah saat mahasiswa Islam, mengambil jurusan Tafsir Hadist tidak pernah membaca Shahih Bukhari atau Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka yang masyhur itu.

Adakah yang lebih menyedihkan dari kaum terpelajar yang tidak membaca?

Adakah yang lebih mengherankan dari generasi umat Islam yang lebih rela merogoh koceknya membeli kue artis yang lebih mahal dari dua buku karya Buya Hamka?

Enggan dan malas untuk memiliki buku, jadi faktor penghambat pertama hilangnya semangat membaca di tengah-tengah kaum terpelajar hari ini. Dengan alasan harga yang tidak terjangkau, kaum terpelajar menolak untuk membeli buku. Namun di saat yang sama, ia rela membuang uangnya untuk menonton film terbaru yang keluar di bioskop. Jika dihitung, harga sebuah buku sama dengan harga satu tiket nonton di bioskop.

Sampai di sini, dapat ditangkap gambaran hasil dari pendidikan kita. Dapat pula kita simpulkan tingkat intelektual kaum terpelajar Islam saat ini.

Adakah pendidikan bermimpi untuk menghasilkan kaum terpelajar yang akan membangun bangsa dan agama, jika waktunya lebih banyak dihabiskan berselancar di media sosial daripada membaca buku atau web-web yang dapat menunjang keilmuannya?

Kesadaran untuk membaca seharusnya terus dihidupkan di dalam kampus-kampus Islam. Acara-acara yang bisa menggerakkan minat baca, juga harus terus diadakan dengan perencanaan yang tertata dan terus-menerus. Hari ini, umat mengeluh akan kemundurannya. Namun ia tidak juga bergerak untuk membaca.

Adakah Anda melihat atau merasakan adanya fenomena lemah berpikir di tengah generasi pelajar Islam hari ini? Tidak lain, sebabnya adalah mereka (tidak) membaca.

Oleh: M. Yusuf Habibi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here