Gaya Bicara Negatif Orang Tua kepada Anak

0
258 views

Kiblatmuslimah.com – Dalam keseharian, sering kali kita mendapatkan orang tua yang mengeluhkan anaknya karena dianggap tidak mau mendengarkan kata-kata dan nasihat. Jika sudah demikian, biasanya orang tua lebih sering menyalahkan anak dan memberinya berbagai label negatif.

Padahal, bisa jadi gaya bicara orang tua yang menyebabkan anak bersikap demikian. Nah, apa saja gaya bicara negatif yang harus dihindari? Berikut uraiannya:

Mengancam

Seringkali orang tua melakukannya agar anak menuruti perintah mereka. Sekilas mungkin terlihat efektif karena anak kemudian memang menurut. Namun, gaya bicara ini memiliki dampak negatif terhadap anak. Di antaranya; anak akan tumbuh menjadi pribadi yang penakut. Hal ini tentu tidak baik.

Jika dalam pergaulannya anak menemui teman yang suka memaksanya melakukan hal negatif dengan disertai ancaman, biasanya anak menjadi tidak berani melawan dan mengikuti kehendak temannya tersebut.

Dampak negatif lainnya adalah anak melakukan nasihat dan arahan orang tua, bukan karena kesadaran. Artinya, bisa jadi saat tidak bersama orang tuanya, akan melakukan hal yang berkebalikan dengan nasihat.

Memerintah

Memberikan perintah kepada anak, apalagi disertai dengan bentakan dan hardikan, sebaiknya dihindari. Gaya bicara semacam ini menyebabkan anak menjadi pribadi yang pasif dan tidak kreatif. Sebab anak kurang memiliki ide dan inisiatif. Dia akan melakukan segala sesuatu hanya berdasar perintah.

Kalau sudah demikian, orang tua akan menjadi semakin capek, karena harus selalu menyuruh. Maka sebaiknya, saat kita menghendaki anak untuk melakukan sesuatu, gunakan ajakan. Kemudian sampaikan kepada anak, alasan anak harus melakukan hal tersebut.

Misal kita ingin anak segera tidur malam, sampaikan kepada anak, “Kak, yuk segera bobok. Biar besok bisa bangun awal. Jadi shalat dan berangkat ke sekolahnya tidak telat.” Jika yang seperti ini dirutinkan dalam berbagai hal, insya Allah seiring berjalannya waktu, anak menjadi terbiasa. Bahkan, akan tumbuh inisiatifnya untuk melakukan hal-hal baik tersebut tanpa perlu diperintah lagi.

Menceramahi

Seringkali orang tua menasihati anak dengan ceramah yang panjang kali lebar. Berharap anaknya akan mengerti. Namun kenyataannya, hal ini justru tidak efektif. Sebab mayoritas anak tidak suka diceramahi. Selain itu, anak juga tidak mampu mencerna nasihat orang tua dikarenakan terlalu banyak yang diberikan dalam satu waktu.

Sebaiknya orang tua memberikan nasihat secara bertahap. Orang tua juga bisa menggunakan sarana kisah teladan. Anak tentu lebih senang dengan cara ini, lebih merasa mendengarkan cerita bukan merasa diceramahi atau dinasihati. Sekali waktu, ajak anak berdiskusi dalam suasana yang akrab dan nyaman. Sehingga nasihat yang disampaikan, bisa lebih merasuk ke jiwa anak.

Membandingkan

Saat memotivasi anak agar mau melakukan sesuatu, orang tua sering membandingkannya dengan teman sebaya atau saudaranya. Berharap anaknya mau melakukan hal yang sama. Namun cara seperti ini justru menjadikan anak merasa tertekan atau bahkan merasa useless (tidak berguna).

Alih-alih anak termotivasi, yang ada justru semakin minder karena selalu dibandingkan dengan yang lain. Orang tua mestinya menyadari bahwa setiap anak memiliki talenta masing-masing. Maka fokuskan pada hal-hal baik yang hendak kita tanamkan kepada anak, bukan dengan membandingkannya.

Melabeli anak

Banyak orang tua memberikan label negatif saat merasa anaknya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Label bodoh, bandel, nakal, membangkang, dan lain sebagainya, dengan mudah diucapkan kepada anak.

Jika hal ini berlangsung terus-menerus, artinya orang tua membangun persepsi anak yang negatif terhadap dirinya sendiri. Puncaknya, akan menjadi keyakinan dan citra diri negatif pada anak.

Maka, tinggalkan cara ini. Pilih cara yang lebih efektif. Yakni, dengan menunjukkan dukungan serta memberikan kalimat pujian yang proporsional, saat anak melakukan hal-hal positif. Contoh, “Masya Allah, anak saleh mau merapikan mainannya kembali. Allah pasti sayang, umi abi juga sayang.”

Menginterogasi

Gaya semacam ini, selain membuat anak merasa tidak nyaman, juga merasa tidak dipercaya oleh orang tuanya. Akibatnya anak justru tidak mau terbuka dan menjauh. Sebab, anak selalu berada dalam posisi tertuduh dan tersudut. Maka gaya bicara seperti inipun harus dihindari jauh-jauh.

Bertanyalah kepada anak dengan baik, misalnya, “Jam segini kok kakak baru pulang dari sekolah. Apa ada kegiatan ekskul, Kak?” Cara seperti ini tentu lebih bijak dan lebih efektif dibanding memberondong anak dengan pertanyaan yang menyudutkan.

Jika orang tua mampu menghindari berbagai macam gaya bicara di atas, insya Allah anak akan tumbuh menjadi pribadi yang positif dan penurut. Berbagai masalah terkait anak pun bisa dihindari. Orang tua hanya perlu bersabar dan istiqamah untuk membiasakan gaya bicara yang positif.

 

Jasmi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here