Fokuslah pada Satu Pilihan (Bagian 2)

0
183 views

Kiblatmuslimah.com – Berbeda halnya dengan seseorang yang tidak mengingat atau mengetahui tujuannya. Cirinya ada dua;

Pertama, dia selalu mengeluh kepada Allah. Keluhannya pertanda bahwa dia menganggap yang dilakukan adalah beban. Dia selalu mengeluh tentang kesulitan hidupnya, menganggap dirinya yang paling malang, dan protes atas ujian-ujian yang Allah berikan kepadanya serta tidak qana’ah (menerima).

Kedua, dia tidak akan istiqamah dalam kebenaran dan selalu membelokkan langkahnya mengikuti keadaan saat itu. Lalu akhirnya menyerah atau berkompromi. Banyak kita saksikan kaum muslim, aktivis-aktivis Islam, tokoh-tokoh dan cendekiawan muslim awalnya sangat gamblang memperjuangkan Islam, terjaga perkataan dan aktivitasnya. Kemudian jauh berubah setelah mereka dihadapkan pada tantangan dan hambatan yang ada.

Akhirnya, mereka menjadi oknum-oknum oportunis yang pragmatis. Sehingga sedikit demi sedikit mereka keluar dari jalur tujuan yang sebenarnya. Padahal, Rasul mencontohkan dengan sangat jelas cara berpegang pada tujuan dan menjadi visioner. Tampak ketika Rasul menjawab lobi yang dilakukan oleh pamannya, Abu Thalib, yang dimintai oleh kafir Quraisy untuk menghentikan dakwah tauhid Rasulullah saw dengan imbalan apapun:

“Demi Allah, andai saja mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, (lalu mereka minta) agar aku meninggalkan urusan (agama) ini. Maka demi Allah, sampai urusan (agama) itu dimenangkan oleh Allah atau aku binasa di jalannya, aku tetap tidak akan meninggalkannya.” (HR. Ibnu Hisyam)

Sikap Rasul seperti hadits tadi menunjukkan pada kita bahwa beliau adalah seorang yang sangat fokus pada tujuan yang diinginkan dan tidak berkompromi dengan apapun yang dapat memalingkannya dari tujuan

Iming-iming kekuasaan, harta dan wanita tidak membuat Rasulullah saw bergeming. Beliau sangat memahami ketika mengambil pilihan untuk menghentikan dakwahnya. Lalu mendapatkan keuntungan kekuasaan dan harta. Semua itu pasti akan mengalihkannya pada tujuan awal sebenarnya, yaitu dakwah tauhid.

Oleh karena itu, beliau sangat tegas dengan perkataannya dan menolak untuk berkompromi dan pragmatis. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang pada waktu yang sama. Kita harus memilih untuk menyenangkan salah seorang lalu mengecewakan yang lainnya. Apapun yang kita katakan dan lakukan akan selalu menuai pro dan kontra. Memilih menjadi seorang muslim yang taat, memastikan diri untuk dibenci oleh orang kafir.

Terkadang, kita menyangka bisa mengambil dua pilihan sekaligus. Mengambil jalan kompromi untuk menyenangkan semua orang, ini tidak dimungkinkan dalam hidup. Menggabungkan diri dengan muslim yang taat, mengharuskan kita untuk meningkatkan keimanan. Sedangkan bila menggabungkan diri pada sekelompok orang kafir, memastikan kita akan berkompromi dengan mereka. Paling tidak bersikap manis dan lembut kepada mereka.

Hidup adalah pilihan, kita tidak bisa memilih dua hal pada saat yang bersamaan. Tidak ada konsep win-win solution di dalam kebenaran dan kewajiban. Konsep Islam adalah kebenaran yang sangat jelas, take it or leave it, winner takes all and loser loose all. Dalam Islam, hanya ada dua pilihan, Islam atau selain Islam. Hak atau batil. Tidak ada pertengahan di antara keduanya. Allah telah menjamin di dalam Al-Qur’an,

“Barang siapa mencari selain din Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Ali-Imran: 85)

Kita tidak bisa memilih lebih dari satu hal dalam waktu yang bersamaan. Maka ketika kita memilih sesuatu, pilihan itu akan semakin kuat dan menjadi sumber energi yang sangat besar. Pada saat yang sama, selain yang kita pilih itu akan menjadi kabur dan terlalaikan.

Pada saat kita menyampaikan suatu gagasan, selalu ada pro dan kontra. Anda tidak bisa menyenangkan semua orang dengan perkataan Anda. Demikian pula tidak akan memiliki cukup waktu untuk membuat semua orang menyenangi Anda.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Orang yang menginginkan semua, biasanya tidak akan mendapatkan semuanya.” Selain itu, ada pepatah yang mengatakan, “Jangan takut pada pendekar yang memiliki banyak jurus. Takutlah dengan pendekar yang hanya memliki satu jurus.”

Keahlian adalah keadaan seseorang yang telah terbiasa dalam satu pilihan yang dilakukannya secara terus-menerus. Sehingga setiap saraf dan ototnya akan bergerak sesuai kebiasaan yang telah dia buat tadi dan telah menjadi gerak reflek baginya.

Dengan kata lain, seseorang yang menginginkan semuanya, berarti telah mengarahkan hidupnya tidak terbiasa dalam satu hal. Orang ini kita anggap tidak memiliki keahlian spesial.

Setiap kejadian yang terjadi pada kita, hakikatnya juga tidak memiliki nilai pada awalnya. Sebelum kita memilih untuk memberikan nilai pada kejadian tersebut. Kita yang memilih untuk memberikan nilai pada fakta menurut cara pandang sendiri. Akhirnya, penilaian kita itu yang akan menentukan cara kita menyikapi fakta tersebut.

Pada saat kita bangun pagi hari lalu menemukan cuaca hujan deras. Maka hujan deras ini adalah fakta yang belum memiliki nilai. Nilai fakta ini bergantung pada pilihan Anda dalam menilainya. Anda dapat memilih untuk menilainya dengan negatif dan berpikir, “Pagi-pagi sudah hujan, pertanda buruk ini. Sepertinya hari ini akan sesuram mendung hujan di pagi hari!’’

Atau anda bisa memilih untuk menilainya secara positif dengan berpikir, “Subhanallah, berkah Allah pada semua makhluknya. Melalui hujan ini, Allah swt menghidupkan dari yang mati. Hujan tanda rezeki dari Allah. Hari yang penuh rezeki dimulai sejak awalnya”.

Bersyukur dan berkeluh kesah adalah pilihan. Suuzan dan husnuzan juga pilihan. Yang jelas Anda hanya dapat memilih salah satu di antara dua. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa berkeluh kesah, tidak akan membantu mereka dan tidak akan menyelesaikan masalah sedikitpun.

Berkeluh kesah dan derivatnya hanya akan membuat pelakunya terperosok ke dalam jurang masalah yang lebih dalam. Yang jelas, tidak mungkin orang yang berkeluh kesah bisa bersyukur.

Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa di pagi hari mengeluhkan kesulitan hidupnya (kepada orang lain) maka seakan-akan dia mengeluhkan Rabb-nya. Barang siapa di pagi hari bersedih karena urusan duniawinya maka sungguh di pagi itu dia tidak puas dengan ketetapan Allah. Barang siapa menghormati seseorang karena kekayaannya, sungguh telah lenyap sepertiga agamanya.” (Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Al-Munabbihat ’ala Isti’dad lil Yaum Al-Ma’ad)

Hidup adalah pilihan. Anda tidak bisa membuat dua pilihan pada waktu yang sama. Bersyukurlah maka akan terhindar dari berkeluh kesah. Taatlah kepada Allah maka keimanan tidak akan menurun. Takutlah kepada Allah, jangan kepada manusia maka kita akan menemukan ketenangan dan kebahagiaan hidup.

Dapat kita ambil kesimpulan dari tulisan beliau, begitulah kiranya sebagai seorang muslim. Kita harus berupaya dengan maksimal atas pilihan. Pilihan menjadi seorang muslim harus diperjuangkan sampai akhir hayat. Semoga kita termasuk para visioner sejati yang tak mudah oleng tersebab hambatan yang menerpa. Barakallahu fikum

 

*Qonitazka

 

Sumber:

Felix Y. Siauw. 2013. Beyond the Inspiration. Jakarta: Alfatih Press. Hal: 17-24.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here