Fatimah Al-Fihri

0
48 views

kiblatmuslimah.com – Fatimah binti Muhammad Al-Fihriya Al-Qurashiya, sering dijuluki Oum al-Banine adalah pendiri universitas pertama di dunia, Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko. Jauh sebelum universitas yang terkenal di dunia seperti Al-Azhar, Cambridge, Harvard, Oxford didirikan. Fatimah lahir pada tahun 800 M di Kairouan, Tunisia. Ia adalah anak seorang saudagar kaya, Muhammad Al-Fihri. Fatimah konon terkenal dengan jiwa pebisnis dan saudagar sukses.

Pada waktu itu, tahun 818 H, terjadi pemberontakan terhadap penguasa Qairouan, yaitu Aghlabid. Aghlabid adalah penguasa lokal Qairouan yang ditempatkan oleh Dinasti Abbasiyah dari pusat pemerintahan di Baghdad. Usaha untuk menggulingkan keluarga Aghlabid gagal. Setelah pemberontakan itu, Aghlabid merespon dengan mengusir 2.000 keluarga dari Qairouan, termasuk salah satunya adalah keluarga Fatimah.

Ayah Fatimah, Muhammad al-Fihri, seorang pengusaha sukses di kota Tunisia yang kemudian bermigrasi ke Fez, Maroko. Fatimah al-Fihri hidup dalam keluarga yang sangat kaya dan keturunan bangsawan. Meskipun berasal dari keluarga kaya dan bangsawan, ia memiliki kepedulian dan kepekaan pada sesama serta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Fatimah al-Fihri sering menyambung silaturahmi dengan semua kalangan dan gemar bederma.

Ayah Fatimah—dalam waktu 10 tahun menetap di ibu kota baru—telah berhasil sukses kembali. Ketika sang ayah meninggal, Fatimah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaan yang sangat besar. Ayah Fatimah telah membesarkan Fatimah—dan saudara perempuannya yang bernama Maryam—untuk mendapatkan pendidikan terbaik.

Buah dari pendidikan sang ayah, Fatimah dan Maryam mempunyai visi dan misi untuk kemajuan masyarakat di kota tersebut. Mereka bergaul dengan masyarakat tanpa memandang kelas sosial. Sebagai langkah awal, Fatimah al-Fihri bersama kakaknya membentuk komunitas studi.

Fatimah menyadari pentingnya memiliki pusat-pusat studi keagamaan untuk menjaga pengetahuan Islam dan mengembangkan masyarakat intelektual. Untuk mencapai hal-hal tersebut, ia rela menyumbangkan kekayaan warisannya.

Fatimah dan Maryam pun memutuskan untuk menggunakan harta mereka dengan membangun masjid dan sekolah bagi masyarakat setempat. Kompleks ini kemudian dikenal sebagai masjid dan sekolah Qairouan karena dibangun di bagian Fez, tempat sebagian besar pengungsi dari Qairouan, Tunisia, menetap.

Fatimah dan saudarinya memiliki semangat, keinginan dan misi yang sama. Mereka menginginkan agar harta warisan orang tuanya bisa bermanfaat dan pahalanya tetap mengalir. Fatimah berkarya melalui Masjid al-Qarawiyyin. Sedangkan Maryam membangun Masjid al-Andalus. Kelak, kedua lokasi tersebut mempunyai posisi dan peran penting dalam penyebaran Islam di Maroko dan Eropa saat itu.

Pembangunan al-Qarawiyyin rampung pada awal Ramadhan 245 H atau bertepatan dengan 30 Juni 859 M. Fatimah yang bergelar Umm al-Baninin mengawasi langsung proses pembangunan masjid yang terkenal pula dengan sebutan Jami’ as-Syurafa’ sejak awal. Mulai dari pemilihan lokasi hingga soal arsitekturnya.

Terkait lokasi masjid, Fatimah menyadari sepenuhnya arti kota Fez, Maroko. Letaknya yang sangat strategis memungkinkan para sarjana dan cendekiawan muslim datang di masjid itu. Fez merupakan kota berpengaruh sepanjang abad serta berposisi sebagai pusat agama dan budaya.

Di tangan Fatimah, proses pembangunan masjid yang berdiri pada masa pemerintahan Dinasti Idrisiyah tersebut penuh dengan kisah-kisah spiritual. Konon, Fatimah berpuasa selama pembangunan berlangsung. Seluruh biayanya berasal dari kantong pribadinya.

Bahkan, ia tak ingin mengambil material dari orang lain. Pasir dan air sebagai material pokok diperoleh di lokasi tempat masjid berdiri tegak. Seperti yang dinukilkan, Fatimah memerintahkan para pekerja agar menggali sedalam-dalamnya untuk mendapatkan pasir sehingga tidak mengambil hak orang lain.

Sejak itulah, al-Qarawiyyin mengundang ketertarikan para sarjana dan cendekiawan muslim. Kajian ilmu sering berlangsung di sana. Penuntut ilmu pun berdatangan dari penjuru Maroko, negara-negara Arab, bahkan penjuru dunia. Dalam waktu yang singkat, Fez mampu bersanding sejajar dengan pusat ilmu pada masa itu, yaitu Cordova dan Baghdad.

Masjid al-Qarawiyyin yang sekaligus menjadi madrasah tersebut memainkan peran utama dalam menyebarkan cahaya pengetahuan dan tonggak untuk pertukaran budaya antara peradaban Islam dan Eropa.

Fatimah Al-Fihri meninggal dunia pada tahun 880 M. Kisah hidup tentang  Fatimah al-Fihri ini sangat menginspirasi wanita muslim di seluruh penjuru dunia. Semoga kita dapat meneladani perjuangan dan pengorbanan beliau dalam mencurahkan jiwa, raga serta hartanya untuk umat Islam.

Sangat diharapkan wanita muslimah zaman ini untuk mengikuti jejak wanita mulia seperti beliau. Sehingga dapat mencurahkan perhatian yang besar untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, mengajarkannya serta dapat memberikan kontribusi nyata dalam membangun peradaban Islam.

Sumber artikel ini merupakan adaptasi dan terjemahan dari buku Eamon Gearon. 2016. Turning Points in Middle Eastern History. Virginia: The Great Courses. Chapter 10 dan diambil dari berbagai sumber terkait kisah hidup Fatimah al-Fihri.

Penulis: Peni Nh

Editor: UmmA

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here