Era Nafsi-nafsi

0
254 views

Kiblatmuslimah.com – Hidup di zaman now  saat perbuatan baik dan buruk seakan tercampur aduk tanpa sekat pemisah, membuat kita semakin sulit membedakan mana yang hak dan batil. Terlebih manusia umumnya sudah tidak lagi memiliki rasa malu, seenaknya mengumbar kemaksiatan di depan khalayak. Norma tak lagi diindahkan, apalagi dosa.

Di sisi lain, orang-orang yang masih mempunyai secuil nurani dan setitik iman, saat berusaha menyadarkan masyarakat untuk tidak berperilaku maksiat malah disebut pahlawan kesiangan yang hobinya mencampuri urusan orang lain. Amar ma’ruf nahi mungkar sekarang menjadi fenomena langka. Dengan dalih kebebasan, semua orang dihadapkan dengan realita nafsi-nafsi

“Sudahlah tidak usah ikut campur urusan orang lain!”

“Biarkan saja dia yang melakukan, tanggung sendiri akibat dan dosanya!”

“Ngapain sih ribut-ribut di media sosial, kalau tidak suka sama yang dia lakukan ya woles aja kali…”

“Islam tuh rahmatan lil ‘alamin, bukan agama teriak-teriak!”

Sangat disayangkan, ketika pernyataan itu keluar dari lisan seorang muslim. Sekilas nampak benar. Namun, disadari atau tidak, sikap pemakluman terhadap suatu kemaksiatan, terlebih pelecehan terhadap syariat tentu saja bertentangan dengan asas amar ma’ruf nahi mungkar yang menjadi kewajiban bagi kita, umat Islam.

Kita lupa bahwa amar ma’ruf nahi mungkar adalah kewajiban seorang muslim yang telah diperintahkan oleh Allah SWT.  “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”  (Q.S Ali Imran: 110)

Perintah amar ma’ruf nahi mungkar hakikatnya adalah tugas yang telah diembankan pada segenap manusia. Namun sayang,  semakin ke sini dalih kebebasan individu dan pengaruh liberalisme membuat seolah-olah semua orang berhak melakukan apapun sekehendak hatinya. Tanpa ada seorangpun yang boleh melarang. Akibatnya, saat ini kita telah dibuat terbiasa dengan kemaksiatan yang merajalela. Hati kita secara tidak sadar seringkali membiarkan orang lain melakukan dosa tanpa berusaha dicegah karena berpikir itu bukan urusan kita.

*Putri Samawiy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here