Edukasi bagi Orang Tua

0
48 views

Kiblatmuslimah.com – Peribahasa yang menyebutkan, “Kecil-kecil anak kalau sudah besar menjadi onak”, sepertinya perlu mendapat perhatian sejenak oleh kita (para orang tua). Tidak sedikit orang tua yang kaget dan atau kecewa melihat putra putrinya, dulunya manis setelah remaja menjadi mudah memberontak dan menjauh dari ajaran Islam. Padahal kita merasa telah tanamkan sejak kecil.

Dalam konsep pendidikan Islam, pembinaan terhadap anak tidak hanya memperbaiki diri, tetapi penyiapan lingkungan yang mendukung juga tidak kalah penting.

Kefitrahan anak akan terganggu manakala lingkungan mengajarinya untuk menjauh dari fitrah itu. Terkadang, tidak kita sadari bahwa orang tua yang menjadi lingkungan perusak itu.

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

Sebelum menyalahkan yang lain, ternyata Rasulullah menyebut pertama kali adalah orang tuanya sebagai penyebab anak menyimpang. Hal ini mengandung arti bahwa orang tua berkuasa penuh atas lingkungan anaknya. Oleh karenanya, pemilihan lingkungan yang baik untuk anak menjadi sebuah tugas utama.

Karakter anak 80% dipengaruhi lingkungan. Jangan dulu salahkan anak jika mereka pacaran, suka membuang waktu dengan ngabuburit, JJS, atau nobar bersama kawan-kawannya yang notabene sama jenisnya. Bahkan tidak sedikit, mereka terdiri dari muda-mudi dan berikhtilat (bercampur baur). Padahal mereka anak seorang akhwat (paham din).

Miris saat liburan pondok tiba, di tangan mereka masing-masing menggenggam smartphone, dan saling chat sepanjang waktu.

Pertanyaannya sekarang ialah, bagaimana mereka bisa memegang smartphone? Milik siapakah smartphone itu? Milik orang tua atau mereka sendiri? Siapa yang memfasilitasi? Saat nobar (nonton bareng) dan ikhtilat, apakah sudah izin orang tua atas kepergian mereka keluar rumah? Mengapa orang tuanya mengizinkan? Apakah orang tua tahu yang diobrolkan dalam chat mereka?

Sederet pertanyaan lain akan muncul. Sebelum kaget dengan akibat yang akan terjadi, seharusnya sudah dibuat kaget dengan cara orang tua mendidik. Ternyata tidak semua orang tua paham mengenai bahaya smartphone dan pengaruhnya bagi pergaulan anak. Bukan hanya bahaya fisik tetapi juga ruh yang melingkupi aqidah dan akhlaq.

Sampai di sini, kita perlu mengingat kembali perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib tentang jenjang pendidikan. Menurut beliau, ada tiga pengelompokan dalam cara memperlakukan anak:

1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.

2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.

3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.

Ternyata, tidak ada jenjang yang menyebutkan orang tua terbebas melepas tanggung jawab pembinaan terhadap anak sampai mereka dewasa. Apalagi anak perempuan. Sebelum mereka menikah, usia berapa pun masih menjadi tanggungan orang tua dalam pengawasan dan pendidikannya.

Kita dapati anak mulai lepas dari amatan orang tua manakala dia jauh dari lingkungan orang tua. Mondok misalnya. Di sini anak mulai mengenal lingkungan baru. Sifatnya yang masih labil di usia yang belum matang (remaja), tentu akan mudah terpengaruh dengan pergaulan lingkungannya.

Orang tua adalah subjek penting penentu lingkungan, maka keterlibatannya dalam setiap lini kehidupan sangat dibutuhkan. Kata bijak yang terkadang menjebak adalah biarkan anak mencari jati dirinya.

Bagaimana anak bisa mencari jati diri kalau tanpa bimbingan dan pengawasan? Amboy, ini bukan lagi zaman Khilafah ‘ala minhaji Nubuwwah yang aman-aman saja. Tetapi kita dapati, spider di sana-sini dengan berbagai jeratan mangsanya.

Ternyata masih banyak orang tua yang tidak menyadari ini dan tak jarang mereka yang tidak mau sadar. Pak, Bu, zaman anakmu bukan zamanmu!

Edukasi bagi orang tua ternyata masih diperlukan guna ketepatan dalam menggenggam anak. Kiat menjadikan anak mandiri, tetapi tidak abai dengan suapan akidah dan akhlak yang kuat.

Saat orang tua menjenguk anak di pondok, pun kala pulang libur, adalah saat emas untuk menanamkan pokok-pokok din ini. Jika perlu, tak hanya waktu tatap muka, di seberang telepon kita selalu menanyakan, “Nak, di waktu luang, apa saja kegiatanmu?” Itu salah satu contohnya. Intinya kita tidak melepas anak sedikit pun walau jauh.

Penulis: Yasmin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here