Doa Ketetapan Hati

0
62 views

Kiblatmuslimah.com – Siapa yang tak pernah berdoa? Setiap orang yang mengaku muslim tentu pernah berdoa. Ada yang hanya mengingat-Nya di kala sempit atau lapang. Banyak pula yang selalu ingat kepada-Nya di kala lapang juga sempit.

Sudahkah kita berusaha menjadi seperti orang ketiga? Ah, ternyata memang amal lebih sulit dibanding teori-teori tentang doa yang sedikit banyaknya kita dapat dari berbagai jenis kajian yang lebih mudah didatangi.

Seperti hati ini yang seringnya berbolak-balik. Permintaan kita yang tak pernah berujung pun demikian. Karenanya, ada doa memohon ketetapan hati yang membawa keselamatan atas permintaan-permintaan yang dikhawatirkan hanya mengarah pada hal-hal duniawi.

Kalimat tsabit qulubana ‘ala dinika atau tsabit qalbi ‘ala dinika tentu tidak asing bagi kita sebagai seorang muslim. Tidak berlebihan rasanya jika mengatakan bahwa kita sudah hafal kalimat tersebut di luar kepala. Adapun kalimat lengkapnya adalah sebagai berikut:

يَا مُقَلِبَ القُلُوبِ ثَبِت قَلبِي عَلَى دِينِك

“ Wahai Zat yang membolak-balikkan hati,

teguhkanlah (kokohkanlah) hatiku di atas agama-Mu”

Ummu Salamah ra mengatakan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Syahr bin Hausab, doa tersebut merupakan munajat yang paling sering dibaca Rasulullah saw. Beliau memanjatkan doa tersebut agar hatinya diarahkan oleh Allah swt menuju ketaatan kepada-Nya. Sebagaimana tersurat (tertulis), doa tersebut berisi kewaspadaan terhadap kondisi hati yang bolak-balik dan meminta agar Allah swt menganugerahkan kekuatan supaya hati senantiasa kokoh di atas agama-Nya.

Intensitas doa yang sering kita panjatkan ini subtansinya mengajarkan atau mendidik agar tidak hanya konsisten (istiqamah) berdoa secara lisan. Juga dibuktikan melalui perbuatan, yakni dengan waspada terhadap bolak-baliknya hati.

Kebiasaan untuk selalu waspada akan mengokohkan hati agar tetap di jalan-Nya. Tentu dengan disertai doa memohon kepada Allah swt agar hati kita tetap dijaga dan diteguhkan mengikuti sistem kehidupan yang benar, yakni Islam. Konsistensi ini memang harus kita tempuh. Sebab, kita tidak bisa meramal kondisi hati hari esok.

Perubahan atau bolak-baliknya hati bisa berubah begitu cepat. Bisa jadi, kemarin kita menjalani ketaatan (ibadah) kepada Allah swt dengan begitu bersemangat, tetapi hari ini kita seperti ditimpa rasa malas yang luar biasa atau bahkan lalai akan mengingat-Nya. Sebagian kita barangkali pernah mengalami naik turunnya semangat semacam ini. Imam Muslim menyebut peristiwa yang demikian sebagai ‘al-hauri ba’da al-kauni’ (malas setelah rajin).

Perubahan kondisi pada kemunduran ini tentu sangat merugikan keimanan seseorang. Karenanya, setiap muslim dituntut mewaspadai dengan cermat kondisi bolak-baliknya hati agar tidak merugi, baik sekarang maupun kemudian hari.

Begitulah doa. Ia menjadi senjata kuat seorang hamba. Menghadirkan hati saat berdoa adalah keharusan yang diusahakan. Bagaimana mungkin kita sedang meminta namun hati kita lalai dari-Nya? Seperti hadits riwayat Tirmidzi No. 3479 berikut ini, “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin dikabulkan dan ketahuilah Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.”

Barakallahu fikunna jami’an…

Penulis: Qonita Azka

Referensi: Iqro’ Firdaus. 2016. Berdamai dengan Hati. Yogyakarta: Safirah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here