Di sini, di Dalam Jiwa Ini…

0
254 views

Kiblatmuslimah.com – Kita banyak tahu tentang kebaikan. Bahkan kita sering ingin melakukannya. Tapi jujur saja, kita masih sering gagal untuk menunaikannya. Seperti juga keburukan. Kita tahu, bahwa itu tidak boleh dilakukan. Tetapi, mungkin saja kita justru terdorong untuk melakukannya. Kita sering lepas kendali mengawal diri sendiri.

Sulit mengatasi kecenderungan yang berulang kali mengajak pada suasana yang sebenarnya kita sendiri tidak ingin ada di dalamnya. Entahlah, seolah ada kekuasaan lain yang lebih kuat dalam membentuk dan mengendalikan diri kita. Itulah inti masalah yang kita hadapi. Kita kerap gagal dan tak mampu mengendalikan diri kita sendiri. Tepat, seperti ungkapan orang-orang bijak, “Musuh kita adalah diri kita sendiri.”

Padahal kemampuan mengendalikan diri, menurut Rasulullah adalah parameter seseorang untuk bisa disebut kuat atau lemah. “Orang yang kuat itu bukan orang yang menang dalam pertarungan, tapi orang yang mampu mengendalikan amarahnya.”

Amru bin Ahtam, seorang ulama di kalangan Tabi’in, menyebut orang yang mampu menundukan nafsunya dengan istilah ‘Asyja’u rajul atau orang yang paling berani. Ia pernah ditanya oleh Mu’awiyah, “Siapa orang yang paling berani?” Amru bin Ahtam menjawab, “Orang yang bisa menolak kebodohan dirinya dengan sikap lapang dada yang dimilikinya. Dialah orang yang paling berani.” (Al-Hilm, Ibnu Abi Dunia, 31)

Apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan kepemimpinan pada diri sendiri? Jawabannya sama dengan apa yang harus kita lakukan ketika kita berhadapan dengan musuh. Tak ada jalan lain, kecuali diperangi. Para ulama kerap mengistilahkan perang batin ini dengan mujahadah. Perang batin jelas berbeda dengan perang zahir. Musuh di perang zahir dapat dilihat dan tipu dayanya bisa diidentifikasi lewat akal dan penglihatan kita. Tapi musuh batin sungguh jauh berbeda.

Dalam beberapa sisi, perang melawan batin bahkan jauh lebih hebat dibanding perang zahir. Alasannya, medan perangnya ada di dalam diri kita sendiri. Serangan, tikaman, dan ledakannya bisa terjadi dalam diri kita, setiap waktu dan bisa bertubi-tubi. Walaupun tidak terdengar dentumannya, tapi akibatnya sangat berbahaya. Justru, kebanyakan orang yang mampu mengalahkan musuh zahir, ternyata gagal mengalahkan musuh batinnya sendiri. Ia tak mampu menundukkan hawa nafsunya sendiri.

Kita akan semakin mengerti, betapa hebatnya perang melawan hawa nafsu yang sulit dideteksi. Seorang pemuda pernah berterus terang pada Ustadz Fathy Yakan, juru dakwah terkenal asal Jordania. “Saya gagal, putus asa, tidak sempurna dalam berbagai amal karena saya selalu dihantui perasaan riya,” kata pemuda itu. Ia bahkan berniat akan mengurangi amal ibadah dan aktivitas dakwahnya supaya tidak terjerumus pada sikap riya.

Ustadz Fathy Yakan menjawab, “Siapa manusia yang tidak pernah terganggu oleh bisikan riya’? Kita manusia. Semua mengalaminya.” Ia lantas mengutip sebuah hadits Rasulullah, “Andai manusia tidak melakukan kesalahan, niscaya Allah akan datangkan suatu kaum yang melakukan kesalahan kemudian mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Tentu saja hadits itu tidak untuk menyepelekan sebuah dosa, termasuk riya. Tapi hadits itu lebih mengarahkan pada dorongan untuk melakukan perbaikan dan taubat. Ustadz Fathy Yakan mengatakan, “Ibadah dan amal kebaikan itu sendiri merupakan bagian dari terapi yang ampuh atas dosa yang engkau lakukan.”

Sebagaimana jawaban Rasulullah yang sangat jelas tatkala ada seseorang yang melakukan shalat malam, tapi di waktu siang ia mencuri. Apa jawab Rasulullah? “’Amaluhu yanhahu amma taquulu,” amal ibadahnya akan menghalanginya dari mencuri. Singkat sekali.

Jawaban ini sama seperti yang pernah dikatakan oleh seorang salafush shalih tatkala seseorang bertanya padanya, “Mana yang lebih baik, apakah saya melakukan sujud tilawah namun orang melihat saya dan saya khawatir riya atau saya tidak melakukan sujud sehingga saya terhindar dari riya?” Orang shalih itu menjawab, “Lakukan sujud tilawah dan lawan bisikan setan dalam dirimu!”

Maka, jangan pernah menyerah terhadap rongrongan hawa nafsu itu, lawanlah! Ini adalah perang yang tak pernah usai dan tak boleh berhenti. Berhenti atau mengurangi amal dan ibadah, berarti keluar dari lingkup pemeliharaan dan perlndungan Allah. Artinya, seseorang akan cenderung terpuruk lebih jauh dari yang dikeluhkan akibat melakukan kesalahan. Ia telah memilih jalan ke arah kesesatan, bukan jalan hidayah.

Semoga Allah menghindarkan kita dari pilihan seperti itu….

Tentu kita harus tetap memikirkan sebab-sebab yang menjadikan kita terjerumus pada suatu dosa. Menurut Hasan Al-Bashri, “Seorang hamba selalu berada dalam kebaikan selama ia mengetahui yang merusak amal-amalnya.”

Maka, bersiap siagalah. Genderang perang itu telah lama bertalu di sini, di dalam jiwa kita ini.

(Qonita Azka)

Referensi: Muhammad Lili Nur Aulia. Mencari Mutiara di Dasar Hati (Catatan Perenungan Ruhani). Tangerang Selatan: Ihsan Media. Hal: 218.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here