Di Balik Kesatria

0
109 views

Kiblatmuslimah.com – Seandainya kita membuka kembali lembaran-lembaran sejarah Islam, sungguh kita akan menemukan para pelaku sejarah yang agung yang menjadi teladan umat. Raja-raja akan tertunduk padanya dan setiap jiwa bergetar kala mengenangnya.

Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari peran agung seorang ibu yang mulia. Bagaimana tidak? Bukankah seorang ibu muslimah memiliki sekian banyak sarana pendidikan yang tidak dimiliki wanita selainnya? Ia merupakan ibu yang memahami teknik menciptakan mental seorang pria sejati. Dalam jiwa, ia menanamkan akhlak mulia di dalam setiap ruang hati dan aliran darah.

Zubair bin ‘Awwam merupakan salah seorang prajurit berkuda Rasulullah dan kesatria pemberani. Umar bin Khaththab menggambarkan kekuatannya setara dengan seribu pria. Ketika pasukan muslimin melebarkan pembebasannya ke negeri Mesir, Umar menuliskan surat pada panglima ‘Amr bin Al-Ash, yang isinya:

“‘Amma ba’du. Aku mengirimkan empat ribu pasukan bantuan kepadamu. (Maksudnya) aku mengirim empat kesatria, yang setiap orang dari mereka setara dengan seribu prajurit tempur. Mereka adalah Zubair bin ‘Awwam, Miqdad bin ‘Amr, Ubadah bin Shamit dan Maslamah bin Khalid.”

Sungguh benar perkiraan Umar bin Khaththab. Lembaran sejarah telah membuktikan bahwasanya Zubair tidak hanya setara dengan seribu prajurit, bahkan setara dengan umat secara keseluruhan. Sungguh ia telah mendaki dan meluluhlantakkan benteng-benteng yang menghalangi perjalanan Islam, menjadi yang terdepan dalam menghancurkan barisan musuh sembari mengucapkan takbir dengan suara lantang. Ia mendobrak pintu benteng pertahanan musuh dan mengalahkan setiap musuh sehingga mereka kocar-kacir.

Ini seorang kesatria agung yang lahir dari ibunya yang mulia, Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Shafiyyah merupakan bibi Nabi dan saudari dari Hamzah –asadullah-. Zubair tumbuh dewasa di bawah didikan pribadi berakhlak mulia.1

Ketika suaminya (‘Awwam bin Khuwailid) meninggal, ia meninggalkan seorang anak kecil bernama Zubair. Maka Shafiyyah mendidik dan membesarkannya dengan kesulitan dan susah payah. Mendidiknya agar tangguh dan lihai dalam perang. Semenjak kecil, alat bermainnya adalah tombak. Shafiyyah mendidiknya agar mengalahkan setiap yang ditakutinya dan senantiasa membiasakan dirinya dalam hal yang membahayakan.

Suatu hari ia dimarahi salah satu pamannya karena mendidik anak dengan keras, “Jangan engkau memukul anakmu! Engkau telah memukulnya penuh amarah, bukan memukulnya sebagai seorang ibu.” Lalu Shafiyyah menjawab, “Siapa yang mengira bahwa aku memarahinya? Sungguh ia telah salah. Tiada lain aku memukulnya agar ia menjadi pria cerdas, mengalahkan pasukan musuh dan membawa ghanimah.”2

———

1 ‘Audatul Hijab, Muhammad Ismail, hal 199-200

2 Shuwar min Hayati ash-Shahabah, hal 23

Sumber:

Syaikh Mahmud Al-Misri. Biografi 35 Shahabiyah Nabi. Solo: Insan Kamil. Hal: 486-487.

Redaktur: Dazzle Mahar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here