Dari Sunda Kelapa hingga Jakarta (Bagian 1)

0
38 views

Kiblatmuslimah.com – Apalah arti namanya tanpa Islam? Penamaan kota Jakarta sebagai kota metropolitan memiliki sejarah yang panjang. Agama Islam memiliki peran yang sangat besar dalam penamaan kota ini. Dalam Islam, nama itu mengandung doa.

Awalnya, kota ini bernama Sunda Kelapa. Ia merupakan kota pelabuhan di bawah Kerajaan Pajajaran. Sedangkan kala itu, pusat pemerintahan Kerajaan Hindu berada di wilayah Pakuan (sekarang Bogor, Jawa Barat). Namun dalam perjalanannya, kerajaan ini bekerja sama dengan Portugis untuk menghadang laju dakwah Islam di tanah Jawa. Bahkan, Pajajaran mengizinkan Portugis membangun benteng di Sunda Kelapa. Padahal bangsa Portugis merupakan penjajah yang ketika itu baru menjajah Malaka.

Jayakarta, Kota Kemenangan

Tahun 1522, Kerajaan Pajajaran dan Portugis mengadakan perjanjian militer dan ekonomi. Perjanjian itu selanjutnya dikenal sebagai perjanjian Pandrao atau Padrong. Kerajaan Islam Demak melihat manuver tersebut sebagai ancaman. Ini alasan Demak berusaha mengusir penjajah Portugis dari tanah Jawa.

Futuhat (pembebasan) Sunda Kelapa dipimpin oleh Fatahillah. Sebagai seorang panglima perang yang kaya pengalaman dalam medan jihad, ia menghadirkan asbabun nashr (sebab-sebab kemenangan). Menggunakan pasukan yang terlatih, sejumlah perwiranya merupakan veteran pasukan Pati Unus yang memiliki pengalaman perang laut (menghadapi kapal-kapal Portugis di Malaka tempo dulu)

Tepat tanggal 22 Juni 1527, Fatahillah berhasil menaklukkan Sunda Kelapa. Perjuangan ini tidak mudah, akan tetapi dengan mengorbankan harta, jiwa bahkan nyawa dikerahkan untuk mengusir Portugis. Akhirnya menghasilkan buah kemenangan.

Untuk menandai kemenangan ini, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi “Jayakarta” yang berati kemenangan yang sempurna. Fatahillah terinspirasi dari ayat “Fathan Mubina” (QS. Al-Fath: 1) yang berarti kemenangan yang nyata. Sejak kemenangan itu, Fatahillah dijadikan penguasa Jayakarta yang berkedudukan sebagai Adipati atau Raja yang berada di bawah naungan kerajaan Demak.

Setelah Portugis hengkang dari Nusantara, ternyata tidak menyurutkan kolonial Eropa lain untuk datang ke tempat ini. Umumnya dikarenakan ketenaran tanah subur dan kekayaan rempah, sehingga siapapun yang memiliki kesempatan berniaga akan segara mengunjungi (ed: menjajah).

Peresume: PramudyaZeen

Sumber: Majalah An-Najah. Al-Maidah 51: Neraca Iman dan Kufur. Edisi 133| Safar-Rabiul Awal 1438 H| Desember 2016. Hal: 28-29.

Previous articleCirebon
Next articleDi Balik Kesatria
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here