Dari Hati Sampai ke Hati

0
376 views

Kiblatmuslimah.com – Salah satu rezeki yang diberikan Allah kepada kita adalah teman yang baik. Begitu besar peran seorang teman terhadap kita, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, dengan derajat shahih)

Banyak keuntungan yang bisa didapatkan melalui berteman dengan seorang yang baik. Mulai dari keuntungan keduniaan maupun yang berkaitan dengan akhirat. Kali ini, mari kita bahas salah satunya saja.

Banyak orang tidak menyadari bahwa adanya teman yang lebih baik di sekeliling kita merupakan ‘pancingan’ dari Allah agar kita bisa menjadi lebih baik juga. Mengapa? Karena dari mereka kita bisa mengambil teladan. Teladan dalam segala hal; ilmu, ibadah, bahkan akhlak.

Pernahkah para pembaca mendengar hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi, “Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai”? Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani.

Terlihat sederhana memang. Memberi sesuatu kepada saudara seiman akan menguatkan ukhuwah Islamiyah di antara keduanya. Namun saya tidak pernah menyangka bahwa hal itu akan benar-benar berdampak pada hati saya.

Saya pernah beberapa kali diberi hadiah oleh teman-teman saya. Bentuk dan caranya begitu beragam. Mulai dari yang secara terang-terangan memberikannya kepada saya, sampai seorang teman di pulau seberang yang harus mencari tahu alamat melalui adik untuk mengirimkan hadiah itu.

Namun, dari sejumlah kisah pemberian hadiah itu, ada satu kisah yang tidak kalah berkesan. Lagi-lagi, kisah ini saya alami sendiri. Saya meyakini bahwa ini adalah salah satu teladan yang Allah titipkan dalam diri teman saya. Waktu itu saya ada tugas mengisi acara bedah buku di sebuah pondok pesantren di luar kota. Di tempat itu, saya memiliki seorang teman. Ia adalah alumnus yang sedang bertugas mengajar di pondok pesantren tersebut.

Kami berteman namun jarang bertemu dan berkomunikasi. Selain karena terpisah oleh jarak antarkota yang cukup jauh, dia juga sulit mengakses alat komunikasi setiap saat. Alhamdulillah, di acara itu saya bertemu dengannya setelah sekian lama. Tidak banyak yang kami obrolkan, karena saya harus segera memulai materi.

Singkat cerita, acara berakhir. Saya ingin sekali bertemu dengannya lagi dan bercerita banyak hal, namun saya harus pulang. Tidak hanya saya yang berhalangan, ternyata dia pun ada pekerjaan yang harus diselesaikan sehingga tidak bisa berjumpa. Sedih memang, “Tapi mau bagaimana lagi? batin saya.

Tiba-tiba seseorang membawa sebuah kotak dibungkus kertas kado menghampiri saya. “Ini dari Fulanah. Buatmu.” Saya membuka kotak itu perlahan. Saya lihat isinya; beberapa carik kertas, sebuah pena dan beberapa isinya, sejumlah permen, gantungan kunci, dan stiker ukiran nama saya. Oh ya dan secarik surat.

Segera saya masukkan lagi isinya dan tutup kotak itu. Saya takut tak kuat menahan air mata, sehingga saya putuskan untuk membacanya di rumah saja. Sesampainya di rumah, saya keluarkan semua pemberian darinya itu.

Saya ambil surat tersebut dan mulai membacanya. “Ukhti fillah, semoga Allah selalu meneguhkan kita semua di atas lika-liku jalan dakwah yang sulit ini. Semoga Allah juga mempertemukan kita dan mengumpulkan kita di dalam surga-Nya,” sebagian yang ia tulis dalam surat itu.

Berhamburlah air mata saya. Semua pemberiannya itu mungkin tidak seberapa harganya, namun ketulusannya dapat saya rasakan. Mungkin hanya itu yang ia punya saat itu, beberapa barang yang sebenarnya saya pun memilikinya. Namun, ia ingin mengamalkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai para wanita muslimah, tetaplah memberi hadiah pada tetangga walau hanya kaki kambing yang diberi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Peristiwa itu menjadi pelajaran besar bagi saya. Semakin yakin saya atas ketulusan hatinya. Karena apapun yang sampai kepada hati pasti datangnya juga dari hati. Tidak peduli apa yang diberi, banyak ataupun sedikit, asal hadiah tersebut diberikan dengan tulus dan tanpa pamrih maka akan semakin erat ukhuwah Islamiyah di antara keduanya. Ya, saya semakin mencintai saudari saya itu dan benarlah sabda Rasulullah di atas.

Penulis: Astriva N Harahap

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here