Curhatan Seorang Istri

2
1057 views

Kiblatmuslimah.com – Kadang-kadang rasa jenuh melanda, akibat terpusatnya hampir seratus persen pikiran ke urusan rumah tangga. Rasa rindu akan masa-masa indah saat masih berstatus fatayat menghampiri. Setiap pekan berjumpa dengan kawan-kawan untuk menimba ilmu. Muraja’ah dan tilawah bersama. Mabit, rapat koordinasi berbagai macam kegiatan menghiasi hari-hari. Saat itu rasanya sangat bersemangat. Seolah tiada lelah apalagi gelisah. Selesai satu acara, merencanakan lagi acara yang lain. Ukhuwah terasa begitu indah, ghiroh iqomatuddin membakar dada menyala-nyala. 

Tapi kini, rasanya dunia begitu sempit. Dada yang dulu bergemuruh dengan semangat belajar dan berjuang, kini malah sering terasa hampa. Ukhuwah bahkan tak lagi nyata terlihat. Teman-teman yang sekarang juga berstatus ummahat, sama sibuknya dengan urusan rumah tangga masing-masing. Apalagi ada yang kini sudah memiliki anak tiga, empat, lima bahkan tujuh atau delapan. Jika kebetulan bertemu di majlis taklim saja hanya sekilas lalu. Karena masing-masing sibuk mengejar anak-anak yang berlarian ke sana, kemari.

Entah kenapa, ketika sudah berumah tangga kehidupan seperti mengalir bagai air. Hari-hari berlalu seolah tanpa arti. Detik demi detik terlewati begitu saja. Setiap harinya tak ada yang istimewa. Tak ada tanggal tertentu yang dilingkari. Tak ada hal istimewa untuk dinanti. Tak ada rencana yang harus dilaksanakan. Tak ada kegiatan apapun yang perlu dikoordinasikan. Sering saya berpikir, inikah hidup? Sudah benarkah hidup yang saya jalani ini? Bukankah seharusnya setelah menikah hidup akan lebih baik dari sebelumnya? Tapi mengapa kerinduan akan masa lajang, saat-saat menjadi aktivis dakwah seringkali menghampiri tanpa bisa dibendung?

Kalau sudah seperti ini, tafakur adalah obat yang paling mujarab. Tafakur ini bisa diartikan merenungi kembali hakikat diri. Kita tentu tahu posisi wanita sebagai amatullah, hamba Allah yang memiliki tugas hanya satu yakni beribadah kepada-Nya. Tiada lain, tiada bukan. Allah hanya menyuruh kita beribadah kepada-Nya. Sebagai apapun kita di dunia ini, semuanya itu harus bernilai ibadah di hadapan Allah. Jika kita seorang istri, maka seluruh pekerjaan kita sebagai istri haruslah sesuai dengan ketentuan Allah agar bernilai. Begitupun jika kita sudah bertambah amanah menjadi seorang ibu.

Suami saya sering bilang, “Semua itu ada masanya, ada zamannya”. Memang benar dahulu adalah masa kita sebagai aktivis pengemban dakwah. Masa itu sudah terlewati, sekarang masanya kita mendampingi seorang aktivis. Kita juga melahirkan dan mendidik para aktivis. Tidak cuma satu yang akan kita gembleng, bisa jadi lima atau sepuluh. Masa kita hari ini menyiapkan generasi selanjutnya. Mungkin sudah bukan masanya kita berada di depan, sebab ada saatnya kita harus berada di belakang. Di belakang bukan berarti tak berarti, bisa jadi malah kita mendapat peran yang paling penting. Dari sana kita menyokong dan mendorong semangat juang.

Saat ini mungkin kita rindu dengan masa-masa itu. Kita merasa tak berandil apapun dalam dakwah dan iqomatuddin karena sibuknya dengan urusan domestik. Tapi kembali kepada hakikat diri di hadapan Allah. Manusia hanyalah seorang hamba yang tugasnya beribadah. Apapun yang kita lakukan, peran yang saat ini kita jalani, jika kesemuanya diniatkan hanya kepada-Nya maka akan selalu ada nilainya. Kita mungkin bukan siapa-siapa, kita mungkin tak menjadi apa-apa. Tapi hari yang lalu tak kan pernah kembali meski dirindui sejuta kali. Masa yang pernah terlewati tak kan terulang lagi. Daripada menyesali ketidakmampuan diri, mengapa tak membuatnya berarti karena Ilahi?

Putri Samawiy

 

 

 

 

2 COMMENTS

  1. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Artikel yang ‘menyegarkan dan menyadarkan’ sekali ukhti..

    Izin share yah 🙂

    بارك الله فيك

    جزك الله خيرا

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here