Cirebon

0
88 views

Kiblatmuslimah.com – Kota Cirebon juga dikenal sebagai Kota Udang dan Kota Wali. Sejarah telah mencatat bahwa dahulu kala Kesultanan Cirebon adalah sebuah kerajaan Islam yang ternama di Jawa Barat. Kerajaan ini berkuasa pada abad 15 hingga 16 M. Lokasi di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, membuat kesultanan menjadi “jembatan” antara kebudayaan Jawa dan Sunda. Oleh sebab itu, di Cirebon tercipta suatu kebudayaan yang khas yaitu kebudayaan Cirebon, tidak didominasi oleh kebudayaan Jawa maupun Sunda.

Pertumbuhan dan perkembangan Kesultanan Cirebon yang pesat dimulai oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Sunan inilah yang diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja di Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali, Sunda Kelapa dan Banten.

Dengan berdirinya kesultanan tersebut, Cirebon tidak lagi mengirim upeti kepada Pajajaran yang biasanya disalurkan lewat Kadipaten Galuh. Tindakan ini dianggap  sebagai “pembangkangan” oleh Raja Pajajaran. Raja Pajajaran tak peduli yang berdiri di balik Kesultanan Cirebon, dikirimkan pasukan pilihan yang dipimpin oleh Ki Jagabaya. Tugas mereka menangkap Syarif Hidayatullah yang dianggap lancang mengangkat diri sebagai raja tandingan Pajajaran.

Tapi usaha ini tidak berhasil, Ki Jagabaya dan anak buahnya justru masuk Islam dan menjadi pengikut Syarif Hidayatullah. Dengan bergabungnya mereka dan perwira pilihan ke Cirebon, semakin bertambah besar pengaruh kesultanan. Daerah-daerah lain seperti Surantaka, Japura, Wana Giri, Telaga dan lain-lain menyatakan diri menjadi wilayah Kesultaan Cirebon.

Setelah Sunan Gunung Jati wafat, terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi Kerajaan Islam Cirebon. Pada mulanya calon kuat pengganti Sunan Gunung Jati ialah Pangeran Dipati Carbon, Putra Pangeran Pasarean, cucu Sunan Gunung Jati. Namun, Pangeran Dipati Carbon meninggal lebih dahulu pada tahun 1565.

Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi oleh Fatahillah atau Fadillah Khan. Fatahillah kemudian naik tahta dan memerintah Cirebon secara resmi sebagai raja sejak tahun 1568. Fathillah menduduki tahta Kerajaan Cirebon hanya dua tahun, karena ia meninggal dunia pada 1570. Makam merekapun berdampingan di Gedung Jinem Asta, Gunung Sembung.

Sepeninggal Fatahillah, tahta digantikan oleh Pangeran Emas, putra tertua Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun. Setelah Panembahan Ratu I meninggal dunia pada tahun 1649, pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim. Ia terkenal dengan sebutan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II

PramudyaZeen

Referensi:

Ridho. Januari 2012. Ketika Ulama Dibajak Amerika. Edisi 76-Shafar 1433. Sukoharjo: Majalah An-Najah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here