Bunda, Sabar ya…!

0
104 views

Kiblatmuslimah.com – Beberapa hari ini, saya kedatangan keponakan beserta anak-anaknya. Dua anak lelaki kecil berusia 2,5 dan 3,5 tahun yang tergolong aktif, serta seorang anak perempuan yang belum genap dua tahun. Ketiganya masih balita, dengan rentang usia yang cukup rapat.

Rumah saya yang semula jarang terdengar ributnya anak kecil, beberapa hari terasa semarak. Sebentar-sebentar terdengar tangis yang tanpa sebab. Sebentar-sebentar terdengar ‘perang saudara’ yang diakhiri dengan tangis pula. Sebentar-sebentar terdengar teriakan kesal sang bunda dan mengomel berkepanjangan. Ha ha….mungkin hari ini saya bisa nampak lebih sabar karena masa-masa itu sudah berlalu.

Namun, setiap ibu yang pernah membesarkan anak-anaknya tentu tak akan lupa bagaimana sibuknya mengasuh balita. Apalagi bila lebih dari dua!  Anak yang tak mau turun dari gendongan, kebobolan mengompol sembarangan saat toilet training, menangis tiada henti ketika waktu salat tiba dan sebagainya. Padahal sejak fajar menyingsing hingga malam menjelang, rentetan pekerjaan yang silih berganti tak hanya melelahkan fisik, emosi bunda pun kemudian muncul ketika berhadapan dengan anak-anak yang terasa ‘sulit diatur’.

Itulah sebab, yang paling dibutuhkan oleh seorang ibu adalah mengatur emosi untuk kemudian mengekspresikannya dengan cara yang tepat. Sebenarnya, inilah pelajaran pertama yang musti dilalui pada awal-awal kehidupan yang kemudian menjadi bagian dari karakter dan kepribadian kita. Karena itu perlu motivasi kuat untuk bisa berubah dan memiliki kematangan emosi.

Karakter anak usia 3-5 tahun memang cenderung egosentris. Tak jarang mereka menunjukkan perilaku-perilaku ‘menyebalkan’. Mereka enggan mengikuti hal-hal yang diperintahkan, bahkan sebaliknya menyengaja berbuat sesuatu yang tidak disukai. Atau mungkin sebenarnya meniru kebiasaan orang tua, namun caranya yang keliru bisa menaikkan tensi. Misalnya maksud hati membantu bunda mencuci baju, ternyata caranya dengan mencemplungkan semua pakaian kotor ke dalam bak mandi yang baru saja dikuras. Taraaa….

Hal-hal seperti inilah yang membuat para orang tua sering tersulut emosinya. Terlebih bunda yang seharian full  di dalam rumahnya. Bahkan tak jarang muncul kekerasan terhadap anak yang tidak wajar. Di luar batas nalar. Padahal bisa jadi yang ditunjukkan anak hanyalah sebatas mencari perhatian saja. Seperti kisah seorang anak yang terpaksa diamputasi tangannya setelah dipukuli, gara-gara melukis di dinding mobil. Sesal kemudian memang tiada guna. Tapi ini fakta. Terkadang orang tua hanya merasa penting dengan dirinya sendiri, tanpa memahami apa yang mereka (anak-anak) pinta.

 

Sebagai orang tua, khususnya bunda, seharusnya kita mampu berlaku bijak dan cerdas dalam memandang hal tersebut. Tugas orang tualah  untuk memahamkan norma-norma dan aturan yang berlaku dalam lingkungan keluarga. Namun caranya yang harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak. Karena mereka bukanlah miniatur orang dewasa yang bisa berpikir sempurna.

Ada beberapa hal penting yang dapat kita lakukan sebagai bunda dalam upaya pengendalian emosi. Di antaranya:

  1. Menyingkir

Bila Bunda ‘tidak siap’ menghadapi anak yang tengah marah, menangis, memukul, berteriak-teriak dan perilaku tantrum lainnya, maka menyingkirlah terlebih dahulu untuk menenangkan diri. Segera berpindah dari hadapan anak dan melakukan aktivitas-aktivitas yang bisa membuat kita lebih siap menghadapi mereka. Seperti berwudhu, masuk ke dalam kamar, dan lain-lain.

  1. Menahan ucapan.

Jangan menasihati anak yang sedang tantrum dengan panjang lebar, karena hanya akan meninggalkan kesia-siaan. Bisa-bisa malah terjadi ‘perang dunia’ yang tidak seimbang. Cukup dengan memasang wajah datar dan abaikan perilaku mereka. Bila anak telah tenang, segera peluk dan cium mereka untuk menunjukkan perasaan sayang. Selanjutnya perlihatkanlah ketidaksetujuan dan perasaan sedih terhadap perilaku tantrum yang mereka perbuat, tanpa nasihat yang terlalu panjang lebar pula.

  1. Reward

Sebaliknya ketika anak menunjukkan pribadi positif, berilah apresiasi dengan sanjungan atau kegiatan positif yang membahagiakan mereka. Misalnya dengan membacakan buku cerita yang disesuaikan dengan kondisi anak saat itu.

  1. Me-Time

Nampaknya sepele, namun ini adalah waktu-waktu penting bagi bunda untuk menghilangkan kejenuhan. Aktivitas-aktivitas ringan yang bersifat relaksasi mampu mengembalikan energi setelah sekian waktu berkutat bersama anak. Seperti misalnya menyalurkan hobi, menelpon kerabat, mengunjungi teman lama, dan lain-lain. Me-time cukup efektif terutama bagi para bunda yang hampir seluruh waktunya berada di dalam rumah.

Inilah senjata yang paling berharga bagi setiap orang tua. Karena setiap ucapan adalah doa. Inilah pula yang mengantarkan Syeikh Abdurrahman As-Sudais, menjadi Imam Masjidil Haram. Sang bunda yang marah ketika anak kesayangannya itu menabur debu pada hidangan yang tengah dipersiapkannya untuk tamu yang akan datang, tidak mengumpat dengan kata-kata kasar. Justru beliau mendoakan di sela kemarahannya, “Pergilah engkau! Jadilah Imam Masjidil Haram!” Subhanallah…. Rupanya Allah mendengar dan mengijabahinya.

Inilah pelajaran penting bagi kita, agar berhati-hati dalam berucap di hadapan anak meski dalam keadaan marah. Meski dalam keadaan yang tidak disadarinya.

Bunda shalihat….

Sebenarnya waktu kita bersama anak sangatlah sempit. Suatu saat, bisa jadi kita akan merindukan tangisan maupun rengek manja mereka yang telah jauh dari pelupuk mata. Suatu saat kita akan merasa sepi tanpa seorang anak yang menemani. Suatu saat kita akan memetik buah manis kesabaran yang ditanam bersama mereka. Insya Allah.

 

Penulis: Layla T.M

Editor: UmmA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here