Bukan Sekedar Kebaikan Semata (Bagian 2)

0
130 views

Baca sebelumnya Bukan Sekedar Kebaikan Semata (Bagian 1)
Kiblatmuslimah.com – Ketauhilah saudaraku, tujuan kita hidup di dunia untuk beribadah kepada Allah. Beramal sebanyak-banyaknya untuk bekal kehidupan di akhirat nanti. Apakah sudah cukup hanya mengetahui tujuan kita diciptakan saja…? Lalu beramal kebaikan sebanyak-sebanyaknya…?

Saudaraku, sesungguhnya amalan kebaikan tidak cukup sebatas mengamalkannya saja. Tetapi kebaikan itu ada syaratnya,  “I’rif al-haqqa, ta’rifu ahlahu”, (kenalilah kebenaran, niscaya kalian mengetahui pelakunya). Demikian sebuah pepatah bijak mengajarkan. Dalam ungkapan yang lain disebutkan, “al-haqqu la yu’rafu hi ar-rijal”, kebenaran itu tak ditentukan oleh seseorang yang melakukan perbuatan tersebut. Kebenaran dan kebaikan saling berkaitan. Namun, tidak setiap kebenaran dan kebaikan itu berpahala. Karena setiap kebaikan dan kebenaran yang hak itu bersumber dalam Al-Qur’an dan As-sunah.

Sebagai seorang muslim, wajib mengilmui kebaikan sebelum mengamalkannya. Kita wajib tahu hukum dari kebaikan tersebut. Apakah sudah sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi kita…? Apakah sudah sesuai dengan tuntunan Salafus shalih terdahulu…? Kita harus teliti, sebab dalam mengamalkan kebaikan tidaklah cukup dengan niatan baik semata. Tidak cukup hanya berdasarkan perasaan atau naluri saja. Sebaliknya, amal shalih memiliki syarat yang wajib dipenuhi untuk membuahkan pahala yang dijanjikan.

Jangan sampai kita terjebak dalam prasangka semata. Merasa berbuat baik tapi rupanya kita keliru dalam bertindak. Ketika kebaikan sudah diilmui dengan baik. Seorang muslim mudah mengenal para pelaku kebaikan. Yakin dengan kebaikan yang dia lakukan. Dia tidak akan mudah hanya mengekor dengan orang yang melakukan kebaikan. Dia akan lebih teliti dalam penilaian, apakah kebaikan yang dia lakukan sudah sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunah…?

Yang terjadi di masyarakat sekarang, mereka mengamini suatu perbuatan semata karena yang mengerjakannya punya jabatan atau terpandang. Di sisi lain karena banyak yang meniru, jadilah orang itu merasa jika perbuatannya tadi benar, bahkan mengandung kebaikan jika ditiru oleh orang lain.

Secara terang Allah SWT membantah orang-orang yang selama ini menuhankan logika dan nalar mereka. Sebab ketaatan dan shalih itu bersumber dari keimanan, bukan semata karena merasa cocok dengan logika pikiran manusia.

Jika seseorang hanya berbuat berdasar nalar dan nafsu, merasa benar yang dilakukan. Bertindak sesuai keinginan nafsu tanpa mau mengindahkan lagi tuntunan syariat yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Bagi seorang muslim, cukup ia merinding dengan yang dikisahkan Abu Hurairah. Sahabat mulia ini menuturkan sebuah hadits dari Nabi SAW bahwa akan datang pada hari perhitungan nanti, seorang laki-laki bertubuh gemuk.

Namun celaka, ketika amalannya ditimbang, tak bernilai bagi Allah SWT. Bahkan tubuhnya yang gemuk dan besar itu tak mampu melebihi berat seekor nyamuk sekalipun. Allah SWT lalu berfirman,

 “…dan Kami tidak mengadakan penilaian bagi (amalan) mereka pada ‘kiamat’.”(HR. Al-Bukhari).

Dalam ayat yang lain, Allah SWT mencela orang kafir gara-gara pola makannya yang sembrono. Firman Allah, “…Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad [47]: 12).

Semoga bermanfaat, sesudah kita membaca artikel ini bisa meningkatkan amal kebaikan. Kita menjadi lebih teliti dalam mengamalkan sebuah amal kebaikan untuk bekal hidup di akhirat nanti. Aamiin.

 Oleh: Fyrda Ummu Farhat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here