Bukan Kurir Biasa

0
125 views

Kiblatmuslimah.com – Menyempurnakan akhlak, itulah alasan utama Rasul diutus ke muka bumi. Bukankah tauhid adalah bentuk dari akhlak terhadap Sang Pencipta? Islam tak sekedar mengatur urusan personal namun juga ekonomi dan politik kenegaraan. Termasuk perkara yang nampak sepele, seperti kurir dan tukang pos.

 “Jika kalian mengutus seorang kurir kepadaku, suruhlah ia bermuka manis dan menyebut nama dengan baik,” kata Rasul Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam. Pesan sederhana yang menyimpan ketinggian etika.

“Jika kau datang ke daerah mereka, jangan masuk pada waktu malam. Tunggulah sampai pagi, kemudian bersucilah dan baguskanlah cara bersucimu. Kerjakanlah shalat dua rakaat dan mohonlah kepada Allah. Semoga kau berhasil dan diterima. Lalu berkemaslah untuk itu, peganglah suratku dengan tangan kananmu, serahkanlah dengan tangan kananmu ke tangan kanan mereka. Niscaya mereka akan menerima.” Demikian nasihat Rasul selanjutnya kepada Iyash Al-Makhzumi saat hendak mengantarkan surat.

Muharram tahun ke-7 H terjadi genjatan senjata, yakni hasil dari perjanjian Hudaibiyah. Rasulullah tak lantas diam saja dalam menyebarkan dakwah di luar Madinah. Setidaknya pernah suatu hari Rasulullah mengutus 6 orang sekaligus di hari yang sama untuk mengantarkan surat kepada para Raja di 6 negara.

“Sesungguhnya Allah mengutusku sebagai rahmat untuk seluruh alam. Laksanakan tugas dariku, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu. Berilah nasihat agar mereka menyembah Allah. Sebab barang siapa diberi kepercayaan untuk menangani urusan manusia, sekecil apapun, lalu ia tidak memberi nasihat kepada mereka, maka Allah haramkan baginya surga. Berangkatlah dan janganlah membantahku sebagaimana pengikut-pengikut Isa membantahnya.” Pesan Rasul kepada keenam pegawai negara (kurir) saat mengumpulkan mereka semua.

“Bagaimana pengikut-pengikut itu membantah Isa, wahai Rasulullah?” salah seorang shahabat bertanya.

“Isa menyeru mereka seperti yang kuserukan kepada kalian ini. Siapa di antara mereka yang diutus Isa ke tempat yang dekat, ia rela dan menerima. Siapa yang diutus ke tempat yang jauh, mereka tidak senang dan tidak mengindahkan. Hal ini, di antara mereka lalu diadukan oleh Isa ‘alaihis salaam kepada Allah. Akhirnya setiap orang dari mereka berbicara dengan bahasa kaum tempat mereka ditugaskan,” terang Rasulullah.

Sontak mereka berteriak, “Kami siap melaksanakan tugas darimu, wahai Rasulullah, dan kami tidak akan pernah membantahmu dalam hal apapun selamanya. Perintahkan kami, utuslah kami ke mana saja kau kehendaki.”

Ya, tak asal memilih, bukan kurir biasa, mereka adalah para  sahabat yang kenal betul (berpengalaman) di negara-negara tersebut. Tahu adat istiadat dan kebiasaan penduduknya, bahkan sangat paham dialek bahasa mereka, kalimat yang viral dan gaul di sana.

Betapa jitunya keputusan Rasul dalam memilih kurir. Menunjukkan kebrilianan dalam mengambil kebijakan diplomatik luar negeri, menjadi pionir dalam merintis dan mendirikan negara yang menunjukkan ketinggian adab yang kemudian membentuk suatu peradaban yang cemerlang, Negara Islam.

Oleh: A. Madjid

Sumber: Dr. Nizar Abadzhah. 2017. Sejarah Madinah. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta. Hal. 298, 401-402.

Previous articleTokoh Kaum Muda Bashrah
Next articleBuah Nasihat
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here