Buih Itu Telah Menjadi Gelombang

0
196 views

Kiblatmuslimah.comUmat Islam adalah umat terbaik yang cinta persatuan. Memiliki ikatan persaudaraan erat, bahkan lebih dari persaudaraan karena nasab.

Persaudaraan ini melahirkan perjuangan yang solid antara satu dengan yang lainnya. Rela berkorban ketika mendapati yang lain membutuhkan.

Namun saat ini, umat Islam terombang-ambing oleh zaman. Dimonopoli oleh pihak berkepentingan. Tak lagi ada rasa gentar dalam diri musuh meski jumlahnya jutaan. Aqidah mulai didangkalkan, syariat ikut dijauhkan, bahkan maksiat menjadi sebuah kebiasaan.

Merupakan kelompok mayoritas, namun lemah bahkan tertindas. Bak buih di lautan, banyak namun tak memiliki kekuatan. Banyak namun tak berdaya dihempas lautan.

Hal ini disebabkan karena hati yang mulai digerogoti sifat wahn. Sebagaimana yang Rasulullah sabdakan,

“Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya, ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun seperti buih mengapung. Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh terhadap kalian dan menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya, ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shallallahu ’alaih wa sallam bersabda, “Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR. Abu Dawud no. 3745)

Secara bahasa wahn bermakna dha’if (lemah). Wahn juga bisa diartikan jubn (takut atau pengecut), namun ia masih bagian dari dha’if. Sedangkan secara istilah, makna wahn dijelaskan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu cinta dunia dan takut mati.

Mencintai dunia hingga takut akan kehilangan segalanya tidaklah hadir dengan sendirinya. Salah satu penyebabnya ialah bermalas-malasan dan lalai dalam beribadah serta menunda-nunda taubat. Selain itu menjadikan kenikmatan dan kesenangan dunia sebagai tujuan hidup juga membuat semangat perjuangan luntur dalam jiwa.

Ditambah lagi jika sudah berani mengorbankan agama dan keimanan demi menumpuk harta, namun enggan mengeluarkan sebagian darinya. Bahkan merasa kurang dengan apa yang dipunya.

Sebabnya, setiap muslim harus membentengi diri dari penyakit wahn. Di antara caranya,

Pertama, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar diselamatkan dari wahn, dikuatkan keimanan serta senantiasa ingat kematian. Karena hanya kepada-Nya kita mampu meminta pertolongan.

Kedua, waspada terhadap fitnah cinta dunia dan takut mati, serta terus-menerus mengingat bahayanya. Karena jika seseorang mengetahui penyebab wahn maka akan lebih mudah untuk menghindar darinya.

Ketiga, senantiasa beramal shalih, zuhud terhadap harta dunia. Sehingga dunia tidak lagi menetap dalam hati.

Keempat, berteman dengan orang shalih. Sebab agama seseorang tergantung pada temannya. Sudah selayaknya setiap muslim senantiasa menjadikan orang shalih sebagai teman. Agar selalu memperoleh oase iman di kala hati kering kerontang.

Akhirnya, ketika setiap muslim mampu membentengi diri dari sifat wahn, maka setiap perkumpulan bukan lagi bak buih di lautan tapi kan menjelma menjadi sebuah kekuatan. Seperti peristiwa 212 yang sangat fenomenal dan menggetarkan setiap jiwa yang menyaksikan.

Semoga kebersamaan ini mampu menjadi awal kebangkitan dan melahirkan semangat baru dalam perjuangan. Sehingga menghasilkan generasi berkualitas yang kan berjuang demi kejayaan Islam hingga tetes darah penghabisan.

Waallahu a’lam bish shawab

Penulis: Hannabillah

Penyunting: UmmA

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here