Berlari Menuju Allah

0
110 views
picture from yufid

Kiblatmuslimah.com-Perjalanan menuju Allah, tidak bisa hanya melalui mimpi atau angan-angan. Mencapai Allah, tidak mungkin ditempuh hanya bermodal khalayan. Bertemu Allah, tidak akan dapat terwujud hanya lewat keinginan dan niat. Untuk menuju Allah, kita harus bergerak, bekerja, berlomba. Perhatikanlah firman-firman Allah yang artinya, “Dan untuk (memperoleh kenikmatan surga) yang demikian itu, hendaklah berlomba orang-orang yang berlomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26). Juga firman Allah, “Maka berlarilah kalian kepada Allah” (QS. Adz-Dzarriyat: 50).

Berlomba dan berlari. Bukan diam. Juga bukan hanya dilakukan dengan berjalan. Mari belomba dan berlari menuju Allah. Ada batas waktu pendek yang tersedia di hadapan kita. Sangat boleh jadi, kita tak sempat mencapai tujuan hidup seperti yang diinginkan, karena waktu pendek yang tidak digunakan dengan baik.

Perjalanan menuju Allah adalah sebuah aktivitas peralihan atau perpindahan yang terus-menerus. Syaikh  Ibnu Athaillah menyebutnya dengan kata ‘hijrah’ yang artinya perpindahan dari apapun selain Allah, kepada Allah. Peralihan dari apa saja yang tidak diridhai Allah kepada yang diridhai-Nya. Perubahan dari segala yang mengandung murka Allah, kepada yang dicintai-Nya.

Syaikh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam mengutip perkataan seorang shalih, Ibnu Ibad, “Seorang hamba yang lari dari Allah menuju syahwat dan menuruti hawa nafsunya disebabkan kebutaan hati dan kejahilannya terhadap Rabbnya. Ia telah mengganti sesuatu yang baik dengan yang buruk. Menukar yang abadi dengan yang fana, padahal dirinya tidak mungkin lepas dari-Nya.” Ibnu Athaillah lantas mengatakan, “Sungguh mengherankan orang yang lari dari Zat yang ia tidak menjadi kekal bersamanya. Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta tapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.”

Siapapun kita, pasti tidak dapat berpisah dari rahmat dan kelembutan Allah. Kita tidak mungkin lari dari keinginan taqarrub (mendekat) kepada Allah, agar dapat masuk ke surga-Nya. Surga Allah dan akhiratnya adalah keabadian, sedang dunia tidak abadi. Itu yang dimaksud Ibnu Athaillah, jika kita menghadap dunia, terpaku pada sebab dan materi, lalu menghindar dari beramal untuk akhirat, lari dari jalan Allah, maka termasuk dalam ketegori aneh. “Sungguh mengherankan orang yang lari dari Zat yang ia tidak dapat berpisah dari-Nya….”

Di jalan ini, tidak ada yang lebih baik di antara kita. Karena di sini kita sama-sama sedang berkompetisi dan berjuang. Berlomba, siapa di antara kita yang mampu terus berjalan dalam proses hijrah menuju Allah. Berjuang, siapa di antara kita yang berhasil meniti jalan hidup yang penuh liku, hingga bertemu Allah. Bumi yang dipijak tidak dengan sendirinya membuat kita menjadi mulia. Sungguh hanya amal kita yang paling menentukan.

Jadi, amal yang menentukan, bukan soal tempat. Karena itu, Fudhail bin Iyadh juga mengatakan, “Aku berjaga satu malam dalam jihad fi sabilillah, lebih aku sukai daripada shalat pada malam Lailatul Qadar di samping Hajar Aswad.” (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah, 18/283)

Pada tiap kesempatan yang telah Allah berikan, mari kita sekuat tenaga berlari menuju ridha-Nya dengan hati senang dan lapang. Yuk bersama di jalan dakwah, merapatkan shaf yang tanpa kita sadari telah terputus. Barakallahu fikum.

Penulis: Qonita Azka

Sumber: Muhammad Lili Nur Aulia. 2018. Mencari Mutiara di Dasar Hati (Catatan Perenungan Ruhani). Tanggerang Selatan: Ihsan Media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here