Berakhirnya Kekuasaan Kesultanan Banjar

0
180 views

Kiblatmuslimah.com – Penghapusan hukum Islam dan campur tangan Belanda  yang berlebihan dalam Kesultanan Banjar mengakibatkan rakyat marah. (Baca: Penghapusan Hukum Islam di Kesultanan Banjar).  Rakyat pun mulai melakukan perlawanan dan mengobarkan jihad fi sabilillah atau Perang Sabil. Pangeran Antasari memimpin perlawanan rakyat di daerah-daerah. Ia menghimpun 3.000 pasukan dan menyerbu pos-pos Belanda.

Pada 28 April 1859, pos Belanda di Martapura dan Pengaron diserang oleh pasukan Pangeran Antasari. Ketika pengepungan di Pengaron, Kyai Demang Leman bersama pasukannya juga bergerak di sekitar Riam Kiwa dan mengancam pos Pengaron. Pada 30 Juni, bergerak bersama Haji Nasrun mengepung pos Belanda di Istana Martapura. Pada bulan Agustus, Kyai Demang bersama Haji Buyasin dan Kyai Langlang berhasil merebut pos Belanda di Tabanio.

Banyaknya perlawanan dari masyarakat daerah, pemerintah Belanda memperingatkan kepada para ulama dan kepala daerah. Mereka diminta untuk menunjukkan keberpihakannya pada pemerintah Belanda dan mengecam tindakan para pejuang. Belanda juga memberikan ancaman bagi yang tidak mengindahkan peringatan tersebut.

Adanya ancaman tersebut, para ulama dan kepala daerah mulai cemas. Namun tidak sedikit pula yang memilih bergabung dengan para pejuang. Perlawanan semakin meluas, para ulama dan kepala daerah turut bergabung dalam perlawanan. Pangeran Antasari bersama Pangeran Hidayatullah memimpin langsung pertempuran melawan Belanda.

Persenjataan yang tidak seimbang menjadikan pertempuran terasa berat bagi para pejuang. Senjata tradisional para pejuang melawan senjata modern canggih milik Belanda. Akibatnya posisi para pejuang semakin terdesak dan lemah. Pada tahun 1861, Pangeran Hidayatullah memilih menyerah karena kondisi kesehatannya yang menurun setelah memimpin perang tiga tahun. Ia kemudian dibuang Belanda di Cianjur, Jawa Barat.

Pangeran Antasari tetap melanjutkan perjuangan dan melanjutkan kepemerintahan Kesultanan Banjar. Pada 14 Maret 1862, dimulai dengan seruan “Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah”, Pangeran Antasari diangkat menjadi Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Pengangkatan ini dilakukan oleh seluruh rakyat, para ulama, pejuang dan bangsawan Banjar.

Setelah Pangeran Antasari meninggal, perjuangan dilanjutkan oleh anaknya, Muhammad Seman. Pada 24 Januari 1905, Muhammad Seman gugur ditembak Belanda dan berakhirlah Perang Banjar. Para pejuang banyak yang tertangkap kemudian dibuang. Pangeran Aminullah ditangkap dan dibuang ke Surabaya. Ratu Zaleha diasingkan ke Bogor. Keturunan Pangeran Tumenggung yang tertangkap diasingkan ke Bengkulu.

Negeri Banjar sepenuhnya menjadi wilayah kekuasaan Belanda. Penerus dari Muhammad Seman adalah Gusti Berakit. Kemudian dilanjutkan oleh Gubernur Haga (pimpinan pemerintahan Civil), Pangeran Musa Ardi Kesuma (Ridzie zaman Jepang), Pangeran Muhammad Noor (Gubernur Kalimantan I), dan sekarang menjadi Provinsi Kalimantan Selatan.

K. Subroto. 2017. Lapsus Syamina: Negara-Negara Islam di Kalimantan 1425-1905 M. Vol 18: 17-20.

Daffa An Nuur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here