Beradab dan Berilmulah!

0
344 views

Kiblatmuslimah.com – Wahai penuntut ilmu, menyibukkan diri dengan Al-Qur’an dan seluruh ilmu-ilmu syari’at adalah jalan orang-orang yang memiliki pendirian teguh, para hamba Allah yang mengenal Allah dengan sesungguhnya dan merupakan martabat para Nabi. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada mereka semuanya.

Janganlah belajar, kecuali kepada orang yang lengkap keahliannya, menonjol keagamaannya, nyata pengetahuannya dan menjaga kebersihan dirinya. Muhammad bin Sirin, Malik bin Anas, dan ulama salaf (terdahulu) menyatakan, “Ilmu itu adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama.”

Ulama dahulu (mutaqaddimin) apabila pergi kepada gurunya, ia bersedekah sesuatu seraya berdoa, “Ya Allah, tutupilah aib (keburukan) guruku dariku dan jangan Engkau hilangkan keberkahan ilmunya dariku.”

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Termasuk kewajibanmu terhadap guru ialah engkau memberi salam kepada orang-orang secara umum dan mengkhususkannya dengan suatu penghormatan.”

Hendaknya pelajar melaksanakan adab-adab ini. Seorang pelajar sebisa mungkin menolak umpatan (ghibah) yang ditujukan kepada gurunya. Jika ia tidak mampu untuk membantahnya, tinggalkanlah majelis (yang berisi umpatan ghibah terhadap gurunya itu).

Bersabar terhadap sifat keras guru dan keburukan perangainya. Para ulama mengatakan, “Barang siapa tidak sabar menghadapi kehinaan ketika belajar, sepanjang hidupnya tetap dalam kebodohan. Barang siapa sabar menghadapinya, dia akan mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat.”

Termasuk adab yang amat ditekankan ialah gemar, bersemangat dan tekun menuntut ilmu pada setiap waktu yang dapat dimanfaatkannya. Tidak puas dengan yang sedikit, padahal dia bisa belajar lebih banyak.

Hendaknya memotivasi diri untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu ketika masih lapang, dalam keadaan giat dan kuat, cerdas pikiran dan sedikit kesibukan sebelum tampak tanda-tanda ketidakmampuan dan sebelum mencapai kedudukan yang tinggi.

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menasihati kita, “Tuntutlah ilmu sebelum kamu menjadi pemimpin!”

Yakni, bersungguh-sungguhlah dengan segenap kemampuanmu ketika kamu masih menjadi pengikut. Karena sesungguhnya jika kamu menjadi pemimpin yang diakui, akan terhalangi dari belajar lantaran kedudukanmu yang tinggi dan pekerjaanmu yang banyak.

Manfaatkan waktu luang sebelum datang masa sibuk. Waktu tak kan kembali, yang paling jauh dari kita adalah masa lalu. Waktu terus berjalan, maknailah setiap detiknya jika tak ingin ada penyesalan.

_Hunafa’ Ballagho_

Sumber: Imam An-Nawawi. 2018. At-Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an (At-Tibyan Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an). Depok: Pustaka Khazanah Fawa’id.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here