Bencana, Kode Langit untuk Bersegera Kembali pada Syariat-Nya

0
300 views

Kiblatmuslimah.com – Gempa di Lombok belum tertangani tuntas, disusul gempa dan tsunami di Palu. Belum tuntas untuk pemulihan kondisi di Lombok dan Palu, tsunami selat Sunda akibat erupsi gunung Anak Krakatau telah mengagetkan dan banyak memakan korban jiwa. Tidak ketinggalan longsor di Sukabumi di awal tahun 2019. Masih banyak lagi bencana yang belum disebutkan yang datang menimpa negeri ini baik didarat, laut, maupun di udara.

Rentetan bencana alam ini membuat kita yang beriman akan ingat dengan firman Allah SWT,

 ”Jikalau penduduk kota-kota beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk kota-kota itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk kota-kota itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalah naik ketika mereka sedang bermain-main? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi”. (TQS Al A’raf : 96-99).

Dari rangkaian ayat tersebut, ada sepenggal ayat yang harus kita garis bawahi yaitu “mendustakan (ayat-ayat Kami)”. Apakah penduduk negeri ini sudah berlaku demikian?

Bencana alam yang datang bertubi-tubi ini merupakan kode dari Allah SWT agar kita kembali mengingat-Nya, membuka-buka ayat-ayat-Nya, bersegera kepada Syariat-Nya dan diterapkan syariat-Nya secara keseluruhan (kafah).

Berapa banyak kriminalitas yang terjadi ketika syariat-Nya dicampakkan? Perzinaan sampe LGBT semakin vulgar dipertontonkan dinegeri ini. Bahkan mereka para pezina/LGBT seakan kebal oleh hukum.

Hukum seakan tak berkutik, ketika para pezina tersebut melakukan kemaksiatan dengan dalil HAM, suka sama suka dan kebebasan.

Belum lagi banyaknya ketidakadilan yang terjadi, ulama-ulama yang kritis menyampaikan kalimatul haq kepada pemerintahan, banyak yang dikriminalisasi. Tapi beberapa pejabat yang korupsi dan menista Islam masih bisa bebas dari jeruji. Ormas Islam yang mengkoreksi kebijakan pemerintah yang zolim dan tidak sesuai dengan syariat Islam dikriminalisasi bahkan dibubarkan. Padahal perkumpulan LGBT dibiarkan atas dalil kebebasan.

Bencana alam yang terjadi hanya dianggap sebagai fenomena alam. Seolah-olah mereka mengingkari dibalik alam semesta, manusia dan kehidupan ini ada Sang Khaliq Allah Azzawajalla. Seharusnya seluruh jajaran negeri ini bersegera melakukan muhasabbah dan taubat nasional.

Bahkan sekarang banyak korban bencana yang masih terlunta-lunta tinggal dipengungsian. Rumah-rumah mereka hancur belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. Pemerintah memang telah berjanji, tapi janji untuk membangunkan belum juga terealisasi.

Seolah keuangan ini begitu seret jika digunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Tapi langsung jebol jika digunakan untuk berpesta bersama IMF, plesiran para pejabat, dan menaikkan tunjangan pejabat.

Kira-kira penguasa menunggu apalagi untuk bertaubat kembali kepada syariat-Nya? Kembali bersegera mencampakkan sistem warisan penjajah dan menerapkan sistem Islam secara kafah?

Jangan sampai banyaknya bencana yang datang tidak dijadikan sebagai peringatan, tidak paham dengan kode. Jika tidak, malah ini bisa mengundang bencana yang lebih parah lagi. Astaghfirullahal’adzim.

Penulis: Ika Mawarningtyas, S. Pd

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here