Belajar Mengakui Kesalahan

0
86 views

Kiblatmuslimah.com – Setiap manusia memiliki potensi untuk melakukan kekeliruan, kesalahan atau apa pun yang menyebabkan penyesalan dan hal yang tidak diinginkan. Sebagaimana pepatah Arab, alinsanu mahalul khatha’ wan nisyan,  manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Baik itu kesalahan kecil yang bersifat remeh atau pun fatal yang sulit dimaafkan.

Segala kesalahan itu harus dipertanggungjawabkan, apa pun alasannya. Harus berani meminta maaf atau menanggung gantinya. Semua dalam rangka mendidik kita untuk berani mengakui kesalahan yang dilakukan dan menerima konsekuensi dari kesalahan itu.

Namun, dalam hidup ada beberapa kondisi yang terkadang membuat seseorang sulit untuk mengakui kesalahan yang terlanjur diperbuat. Bisa disebabkan karena faktor pola asuh sebelumnya, di mana orang tua terlalu mengambil tanggung jawab saat anaknya melakukan kesalahan, orang tua yang jarang memberi contoh langsung saat bersalah kemudian meminta maaf dan memperlihatkan penyesalan. Tentu anak tidak belajar bahwa hal seperti itu penting dilakukan.

Kalangan perfeksionis atau anak-anak yang dari kecil selalu berprestasi, berada “di atas” atau pada kondisi terbaik, terkadang akan malu mengakui kesalahan dan meminta maaf. Faktor egoisme dan ketinggian hati bisa menjadi kendala besar untuk bisa melakukan hal yang sedang dibicarakan ini.

Kesimpulannya, banyak orang sadar bahwa mereka dekat dan berpotensi salah, tapi tidak semua orang dapat mengakui dengan mudah. Dibutuhkan kejujuran, kebesaran jiwa, kerendahan hati, kemauan untuk mengalah, kesadaran bahwa tidak selalunya pendapat kita lebih tepat dan benar; agar mampu memiliki keterampilan ini.

Al-Qur’an mengajarkan kepada kita tentang kisah nabiyullah Adam dan Yunus  ‘alaihimas salam akan pentingnya mengakui kesalahan sebagai rangkaian taubat seorang hamba. Taubat tidak mungkin terjadi tanpa diawali adanya pengakuan atas dosa yang diperbuat dan penyesalan sekaligus azam untuk tidak mengulangi lagi.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Rabb kami, kami telah mendzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan Engkau rahmati kami, tentulah kami menjadi orang yang rugi” (QS. Al-A’raf: 23)

فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim’.” (QS. Al-Anbiya: 87)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam insan teladan nan maksum tak sungkan mengaku salah dalam hal mengawinkan kurma dengan mengucapkan, “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian” (HR. Muslim).

Beliau memberikan contoh bahwa tidak jatuh kehormatanmu dan tidak hina kedudukanmu saat engkau mengaku bersalah dan meminta maaf, baik dalam hubungan kepada Allah maupun hubungan sesama manusia. Seorang suami yang meminta maaf kepada istri, orang tua yang mengakui kesalahan di depan anak dan meminta maaf, malah akan menimbulkan hormat sekaligus contoh yang baik.

Bahkan sirah dipenuhi kisah kerendahan hati para salafush shalih dan ulama saat mereka mengakui kekeliruan mereka dan kerendahan hati mereka untuk mengishlah kekeliruan tersebut.

Pada suatu hari, Abu Dzar al-Ghifari terlibat pembicaraan tajam dengan Bilal. Karena kesal Abu Dzar berkata, “Engkau juga menyalahkanku, wahai anak perempuan hitam?” Mendengar dirinya disebut dengan anak perempuan hitam, Bilal tersinggung, sedih dan marah. Ia kemudian melaporkan hal itu kepada Rasulullah. Beliau kemudian menasihati Abu Dzar, “Hai Abu Dzar, benarkah engkau menghina Bilal dengan (menghinakan ibunya)? Sungguh dalam dirimu ada perilaku jahiliah.”

Mendengar nasihat Rasulullah itu, Abu Dzar tersadar dari kesalahannya. Segera ia menemui Bilal. Abu Dzar kemudian meletakkan pipinya di tanah seraya mengatakan, “Aku tidak akan mengangkat pipiku dari tanah hingga kau injak pipiku ini agar engkau memaafkanku.”  Namun Bilal tidak memanfaatkan momentum ini untuk membalas dendam. Bilal malah berkata, “Berdirilah engkau, aku sudah memaafkanmu.”

Akhirnya, setiap bani Adam rentan melakukan kesalahan. Tapi sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat dan mengakui kesalahannya.

Allahummaj ‘alna minhum

Yasmin

(Disadur dari majalah Taujih no 82 edisi April 2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here