Bedah Buku “Dari Kata Menjadi Senjata”

0
141 views

Kiblatmuslimah.com – Menjelang tanggal 30 September, kisah-kisah tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) kembali disodorkan kepada masyarakat. Hal tersebut untuk kembali mengingatkan bahwa komunis pernah menumpahkan berliter-liter darah di bumi pertiwi ini.

 

Teras Dakwah turut menyelenggarakan acara bedah buku “Dari Kata Menjadi Senjata” pada Sabtu sore, 30 September 2018. Beggy Rizkiansyah selaku pembicara mengawali acara dengan bertanya kepada peserta, “Siapa di sini yang pernah membaca buku tentang PKI?” tanyanya. Hanya satu-dua peserta yang mengangkat tangannya, sebagian besar diam.

 

Ia mulai menyinggung alasannya dan kawan-kawan menulis kisah tentang PKI. Masyarakat terbiasa disuguhi film tentang peristiwa G30S/PKI yang menampilkan kekejaman PKI. Tapi siapa saksinya? Akhirnya diambil proyek mengarsipkan kisah PKI dari para saksi yang masih hidup.

 

Acara tersebut bukan untuk menceritakan kekejaman PKI ketika menumpahkan darah orang-orang yang kontra dengannya. Beggy Rizkiansyah mengajak berpikir tentang awal mula muncul dan perjalanan komunis khususnya di Indonesia. Berawal dari sosok Semaoen yang merupakan murid seorang Komunis dan mulai masuk ke Sarikat Islam.

 

PKI tidak hanya menggunakan senjata yang menjadi lambang benderanya saja, palu dan arit. Para pemuda dan buruh tani dibuatkan organisasi yang dikemudian hari melakukan aksi sepihak mengambil tanah warga. Para perempuannya dan budayawan juga dibuatkan organisasi yang dikemudian hari menggelar kesenian rakyat. Judulnya begitu menyinggung hati kaum muslimin, yaitu  “Matine Gusti Allah”.

 

Judul “Dari Kata Menjadi Senjata” merupakan salah satu isi dari sub bab di dalam buku. Kaum komunis juga memanfaatkan pers, seperti koran “Harian Rakyat” yang isinya para penulis mereka. Lewat tulisannya, mereka melakukan fitnah kepada Buya Hamka. Lewat tulisannya pula mereka menyebarkan ideologi komunis  kepada para pembaca.

 

PKI melakukan polarisasi dan teror, siapa yang kontra dengannya maka siap-siap untuk dihabisi. Jika ada orang di pemerintahan yang menolak PKI, siap-siap untuk digantikan jabatannya. Alhasil, tidak sedikit orang yang masuk PKI hanya untuk cari aman bukan karena ideologi.

 

“Jangan menilai seseorang Komunis atau tidak hanya dari atribut saja. Melihat orang mengenakan atribut merah, langsung dibilang, ‘Kamu komunis, ya?’ Ada juga broadcast yang beredar bahwa sudah ada 15 juta keturunan PKI hari ini.  Kita harus teliti. Budayakan membaca buku, bukan hanya broadcast atau video yang beredar”, pesan Beggy di akhir acara.

 

Reporter: Daffa An-Nuur

Editor: UmmA

Previous articleCincangan Terakhir
Next articlePercantik Hatimu….
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here