Bagaimana Cara untuk Bahagia?

0
286 views

Kiblatmuslimah.com – Sebenarnya tujuan hidup kita itu untuk apa? Ibadah buat apa? Agar bahagia di dunia dan akhirat.

Ada cerita, seorang perempuan di Eropa yang menerima harta warisan yang sangat banyak dari orang tuanya. Dia hidup dalam kemewahan hingga kemudian dia menikah dengan seorang lelaki dari Rusia. Rusia merupakan negara komunis.

Hal ini membuat heran beberapa orang, seorang kaya raya mau menjadi “biasa saja” dengan kehidupan komunis yang semuanya dibagi rata. Apa jawaban wanita ini? Ia ingin mencari kebahagiaan. Itu bukti bahwa kebahagiaan bukan dinilai dari harta. Bahagia itu berada di hati.

Di dalam Islam, menikah bertujuan menyempurnakan agama. Di sini nilai kebahagiaannya. Wanita ini juga menikah, namun ia tak kunjung mendapatkan kebahagiaan yang ia cari. Hingga akhirnya ia menikah tiga kali namun semuanya tidak menghasilkan kebahagiaan bagi dirinya.

Kemudian dia melakukan bunuh diri dan meninggalkan secarik surat yang isinya mengungkapkan bahwa ia tidak mendapatkan kebahagiaan.

Gelar juga tidak berpengaruh pada kebahagiaan. Ada yang bergelar “tinggi” namun tidak bahagia. Ada yang tidak punya gelar tapi hidupnya selalu bahagia.

Ketika seseorang tidak mendapatkan kebahagiaan, itu karena hatinya gelap. Setiap lorong yang ia lalui terasa gelap. Mengapa hati bisa gelap? Karena dosa dan maksiat. Setiap dosa dan maksiat yang kita lakukan pasti akan meninggalkan titik hitam pada hati, dan jika terlalu banyak maka gelaplah hati tersebut.

Bagaimana caranya agar bisa bahagia? Dengan berbuat baik, man ‘amalash shooliha.

Ada sebuah kisah, seorang tukang kebun dengan pemuda bersama gurunya. Ketika tukang kebun ini meninggalkan sepatunya, sang pemuda berkata kepada gurunya, “Bagaimana kalau kita sembunyikan saja sepatunya? Ketika dia nanti mencari, kita tinggal sembunyi”.

Sang Guru berkata, “Untuk apa kamu senang dengan melihat kesengsaraan orang lain? Coba kalau kamu memasukkan uang ke dalam sepatunya, bagaimana?”

Sang pemuda melaksanakan ide gurunya kemudian mereka bersembunyi ketika tukang kebun ini datang. Tukang kebun tersebut hendak memakai sepatunya namun ia melihat ada uang di sana. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, namun tidak ada seorang pun.

“Ya Allah, istriku sedang sakit, anakku belum makan. Engkau berikan rezeki ini, Ya Allah”. Sang Guru bertanya, “Menurutmu, apa dia bahagia?” “Iya”. “Kamu pasti lebih bahagia dari tukang kebun itu”.

Kaidahnya, ketika kamu menyakiti orang lain maka kamu akan lebih sakit daripada orang yang kamu sakiti. Begitu pula sebaliknya, jika kamu membahagiakan orang lain maka kamu akan lebih bahagia daripada orang yang kamu bahagiakan.

Penulis: daffa.an-nuur

Editor: Halimah

Referensi: Materi kajian Ustadz Farid Oqbah di Masjid Dasrussalam, 17 Maret 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here