Anak Shalih, Allah yang Terlibat

0
63 views

Kiblatmuslimah.com – Mendidik anak menjadi shalih adalah harapan tertinggi setiap orang tua. Sebuah ekspektasi bahwa selama hidupnya nanti, anak akan berbakti dan selalu mendoakan walau orang tua telah tiada.

Segala upaya terlampaui dalam rangka mencapai tujuan itu. Sudah bukan menjadi hal asing, hari ini orang tua mana pun, predikat apa pun, hatta pemulung hingga artis, tidak rela jika memiliki anak yang tidak tahu agama (dinul Islam). Karena mereka sadar memang itulah yang bisa membahagiakan mereka.

Para penyelenggara pendidikan, tidak harus yang di sekolah Islami, pun di sekolah umum, pengadaan seminar-seminar parenting yang mengarah kepada pembiasaan akhlak Islami, bermunculan bagai jamur di musim hujan.

Anak-anak yang hafidz Al-Qur’an, santun, rajin ke masjid, menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan.

Bukan memungkiri, tetapi cobalah perhatikan. Kita ternyata masih terjebak pada sebuah hedonisme terselubung bahwa keberhasilan pendidikan ternilai dengan kasat mata. Apakah benar demikian?

Kita tengok putra Nabiyullah Nuh ‘alaihis salam, yang sampai akhir hidupnya termasuk orang-orang kafir. Apakah fenomena ini termasuk kegagalan pendidikan?

Jika kita paham bahwa anak adalah ujian bagi orang tua, maka sebenarnya yang dinilai adalah keikhlasan hati dalam upaya menshalihkan anak. Bukan hasil. Karena tidak sedikit anak-anak dari orang tua yang shalih, yang telah mengupayakan pendidikan Islam sedemikian rupa, hasilnya tidak seperti harapan. Bahkan ada yang menjadi anak punk yang telah tercuci otaknya dan lupa dengan orang tuanya. Cangkang yang bagus, tidak selalu menghasilkan mutiara yang indah dan mulus. Demikian sebaliknya.

Jika masih dinilai hasil, maka bisa saja keshalihan anak tidak lagi menjadi tendensi akhirat. Ada secuil kotoran yang bisa mencuat di dalam hati orang tua dan ini adalah bahaya besar.

Perasaan bangga, suka dipuji, menjadi perbincangan publik, karena memiliki anak shalih. Apalagi jika menjadi penisbatan akan keshalihan orang tuanya, adalah beberapa hal yang bisa muncul dan harus diwaspadai.

Buruknya lagi, hal ini bisa mengimbas kepada anak yang bersangkutan, menjadi anak shalih tapi senang dielu-elukan. Akhirnya beramal karena manusia. Apakah bisa menjadi sebuah implikasi anak shalih tapi riya’?

Masih terngiang kisah tiga orang shalih yang penderma, pencari ilmu (ilmuwan) dan mujahid. Saat bersaksi di hadapan Allah bahwa mereka ikhlas dalam aktivitas mereka, Allah membantahnya dengan, “Kadzabta!” (Kamu bohong!).

Ternyata masalah hati pun, manusia tidak bisa menyembunyikan di hadapan Ilahi. Dengan kekuasaan-Nya, menjadikan mereka tidak bisa berkutik dengan berbagai alibi.

Apakah orang yang meninggal dengan senyum, pelayat banyak, mengucap kalimat thayibah, adalah pertanda orang shalih yang husnul khatimah? Sungguh manusia tidak mampu menembus relung ghaib, nasib akhirnya. Kita hanya bisa berhitung matematis.

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ الرِّيَاءُ ، يَقُوْلُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ : اذْهَبُوْا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُوْنَ فِيْ الدُّنْيَا ، فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزاَءً ؟!

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari Kiamat tatkala memberikan balasan atas amal-amal manusia, ‘Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka?’” [HR Ahmad, V/428-429 dan al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, XIV/324, no. 4135 dari Mahmud bin Labid. Lihat Silsilah Ahaadits Shahiihah, no. 951]

Hanya para orang tua yang takut kepada Allah yang bisa menjadikan anak benar-benar shalih, yaitu takut pula terhadap Allah. Bukan karena tendensi dunia, tetapi benar-benar merasa di bawah pengawasan Allah. Tetap shalih walau dalam kesendirian dan jauh dari orang tua. Inilah anak shalih yang nantinya bisa menyelamatkan orang tuanya. Para orang tua sendiri pun selamat karena keshalihan dan keikhlasan hatinya dalam mendidik anak-anaknya. Orang tua yang tidak merasa kuat kecuali dengan doa. Yang merasa bahwa keterlibatannya adalah dari Kuasa Allah. Semuanya tidak lepas dari campur tangan-Nya.

Jadi anak shalih bukan semata-mata orang tua yang hebat, tetapi Allah yang terlibat.

Penulis: Yasmin 05042019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here